Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

Tragedi Pendidikan

from:socialecologies.wordpress.com from:socialecologies.wordpress.com

Jika masa depan bangsa ini tidak ingin berakhir suram, cobalah simak petuah bijak dari Tiogkok ini. Kira-kira bunyinya begini. "Jika ingin hidup untuk satu hari, tanamlah padi. Jika ingin hidup untuk 20 tahun lagi, tanamlah pohon. Jika ingin hidup lebih lama lagi, didiklah manusia".

Betapa berartinya pendidikan sebagai pilar visi misi bangsanya. Negeri Tiongkok saja tak main-main dengan sejarah masa depannya. Hasilnya, Negeri tirai bambu kini melesat menjadi raksasa dunia dari Asia (selain India, Jepang, dan Korea). Baginya, pendidikan adalah lokomotif peradaban dunia.

Tiongkok terbilang berhasil mengawinkan dua tipe pendidikan. Antara yang tradisional dan modern. Antara kultural dan struktural. Sejak sekolah, para siswa diajarkan sastra, sejarah dan kesenian. Puisi, filsafat confusius, dan seni musik adalah pelajaran berharga. Supaya dapat mengasah kepekaan, akal budi, dan imajinasi siswa.

Tidak lupa pula, materi genealogis bangsa dan perjuangannya. Pergi belajar ke museum budaya bagian dari hidden kurikulumnya. Termasuk, melek teknologi, sambil belajar kitab kunonya. Menerima arus globalisasi, tanpa melupakan ajaran leluhurnya.

Poin pentingnya adalah pendidikan di sana tidak terfokus sisi kognitifnya. Keutamaannya terletak pada keluhuran jiwa, budi pekerti, dan pengalamannya. Keutamaan ini dianggap menjadi bekal pasca lulus nanti. Saat para siswa kembali pada kehidupan nyatanya.

Reformasi pendidikan di Tiongkok ini dimulai di akhir abad ke-19. Ini dilakukan setelah banyaknya angka bunuh diri dari para siswa dan guru di sana. Buah dari tuntutan target kelulusan ujian dari kebijakan pusat pendidikannya.

Di Indonesia punya problem berbeda. Pendidikannya dijalankan melalui paham kolonial. Inilah warisan pasca kemerdekaan yang sulit terurai. Budaya gila hormat yang tak masuk akal selalu dipertontonkan. Agar, teater kekuasaan mendikotomikan antara hamba dan punggawa raja. Memperjelas garis pemisah antara penjajah dan terjajahnya.

Tiap ada kunker (kunjungan kerja) dari pusat ke daerah, jamuan makan dan amplop tebal kerap disediakan. Nama pejabat harus disebut satu persatu dalam pidato peyambutan. Sebagai tanda penghormatan terhadap rezim pendidikan. Jika tidak, panitia akan diberi sanksi administratif. Mulai dari mutasi, pangkat dihambat, hingga dipecat.

Tengok saja, pada kasus sekolah dasar di Kupang, NTT. Seorang guru honorer dipecat. Gara-gara menanyakan honor mengajar kepada kepala sekolahnya. Padahal, dia sudah menjadi guru honorer selama tujuh tahun lamanya. Dengan bayaran yang tak seberapa jumlahnya (Sindonews.com, 5 Maret 2016). Saya menduga bahwa kasus serupa terjadi di mana-mana. Hanya, belum terekspose media saja.

Tak hanya di persekolahan, melainkan di kampus juga. Seorang mahasiswa UNY dipecat karena kritis terhadap pemerintah. Seorang Dosen UIN Yogya juga dipecat karena politik birokrasi kampusnya. Dia dipaksa mengajar saat sedang studi di luar negeri. Yang di luar negeri saja dibuat lunglai oleh rezim kampusnya, apalagi mereka yang sedang studi di dalam negeri.

Ada semacam kebencian dan dendam masa depan oleh rezim pendidikan itu. Karena, dosen-dosen muda yang potensial, apalagi beda kelompok kepentingannya, akan dihmbat dengan berbagai cara. Alasan prosedural kerapkali dijadikan senjata pemusnah massal. Senjata ini lebih efektif dibanding senjata asli para aparat keamanan. Sekali tembak, korban-korban bergelimangan. George Ritzer, tampaknya tepat menganggapnya sebagai Mcdonalisasi masyarakat, termasuk mcdonalisasi pendidikannya.

Berbeda halnya di salah satu PTN di Surabaya. Para dosen yang kelebihan jam mengajar dipaksa mengembalikan honornya. Para dosen muda yang ingin doktoral akan dihambat sedemikian rupa. Tentu, dengan alasan mengada-ngada.

Tak hanya itu, dosen yang kritis kepada atasannya akan diembargo hak ekonominya. Seperti, pembekuan kartu ATMnya. Tunjangannya diblokir. Dan lebih menggelikan, siasat licik ini dilakukan melalui bekerja sama diam-diam dengan pihak bank. Ini mirip hukuman kepada terdakwa korupsi kelas kakap. Ironis ! Sadis !

Tragedi pendidikan tersebut tak ubahnya penyakit kanker. Terus Menjalar, beranak-pinak. Karena itulah, reformasi pendidikan sepertinya teramat berat dilakukan. Yang diperlukan sekarang adalah revolusi total pendidikan. Mulai dari kultur kolot birokrasinya, dan krisis idealisme lembaganya. Hingga, soal distribusi kesejahteraan pengajarnya dan mentalitas pemimpinnya.

Hal ini perlu dilakukan secara massif, sistematis, dan terstruktur. Tapi, tetap berpegang pada prinsip kemanusiaan dalam nilai falsafah hidup ketimuran. Mungkinkah terwujud ? Tanyalah kepada hatimu kawan.

*Mengajar pendidikan kritis dan kajian budaya di departemen Sosiologi Unesa, Menulis buku "Pendidikan Anti Pendidikan" (Unipress, 2016), sedang doktoral di KBM UGM

 

back to top