Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Senyap, Memoar Sunyi dari Ladang Pembantaian

www.dfi-film.dk www.dfi-film.dk

Oleh: Yogi Ishabib


“Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong”   

Kutipan dari catatan harian Pramoedya Ananta Toer selama masa pembuangannya di Pulau Buru  yang dikumpulkan melalui buku “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” merupakan lentera yang meskipun kecil dan lirih, tidak akan pernah mati bagi kita yang tidak mau menutup mata terhadap kejahatan rezim Orde Baru dalam peristiwa pembantaian 1965. Tragedi kemanusiaan yang oleh Orde Baru dikemas menjadi sebuah cerita kepahlawanan karena telah “berhasil” menghalau paham yang dianggap merusak tatanan kehidupan bernegara, PKI dan hantu komunisme. Aroma anyir dari cerita kepahlawanan itu secara perlahan mulai terkuak melalui berbagai macam penelitian dan informasi yang memberikan sudut pandang berbeda kepada masyarakat bahwa cerita kepahlawanan itu tidak lebih daripada upaya rezim Orde Baru untuk menutupi kejahatan kemanusiaan. Salah satunya adalah melalui film.

Film The Look of Silence atau yang di Indonesia dirilis dengan judul Senyap merupakan salah satu film yang berupaya menunjukkan bahwa Indonesia masih belum tuntas dalam menguak tragedi pembantaian 1965. Film yang disutradarai oleh Joshua Oppenheimer ini adalah film dokumenter yang mengisahkan kehidupan keluarga korban pembantaian di Sumatera Utara. Adalah Adi Rukun sebagai salah satu keluarga korban pembantaian 1965. Adi merupakan adik kandung dari Ramli, kakaknya yang dituduh oleh pemerintah sebagai anggota PKI, lalu berdasarkan tuduhan itu Ramli “sah” untuk dibunuh. Tanpa ada penjelasan apapun bagi keluarganya.

Joshua Oppenheimer menggambarkan dengan lugas upaya Adi untuk mengetahui siapa saja yang telah melakukan pembunuhan terhadap Ramli kakaknya, juga pembantaian bagi anggota, kader, ataupun sayap organisasi PKI di Sungai Ular. Melalui Senyap, kita juga mengetahui tentang bagaimana angkuh dan jumawanya para “eksekutor” dengan menganggap bahwa diri mereka adalah sejatinya pahlawan yang memenangkan negara ini dari hantu bernama PKI dan komunisme. Tanpa perasaaan bersalah sedikitpun, beberapa eksekutor ini justru memeragakan adegan pembantaian di Sungai Ular dengan antusiasme tawa yang membuat bulu kuduk kita berdiri. Bagaimana seorang pembunuh yang berhasil membunuh tidak hanya satu atau dua manusia, tapi puluhan manusia bisa tertawa lepas dan justru membuat sketsa ilustrasi tentang “model” pembunuhan yang sudah mereka lakukan dengan judul Embun Berdarah.

Pertemuan antara Adi dan beberapa eksekutor menampilkan ragam wajah kemanusiaan yang menyisakan kengiluan. Di depan Adi, para eksekutor menampilkan diri sebagai pewaris sah kebenaran kisah “kepahlawanan” itu. Para eksekutor menolak untuk meminta maaf, bahkan di hari tuanya mereka mengutuk balik bahwa jangan sampai peristiwa pembantaian 1965 akan terjadi lagi ketika orang-orang seperti Adi mulai meminta kejelasan dan permintaan maaf dari para eksekutor pembantaian 1965.

Mulanya dalam setiap scene pertemuan Adi dan eksekutor akan terlihat bahwa para eksekutor ini  menampilkan diri mereka sebagai manusia lanjut usia yang sedang meramu ingatan romantis akan kisah kepahlawanan. Mereka mengenang peristiwa lampau itu sebagai kejayaan diri. Namun percakapan akan berubah intensitasnya ketika Adi membuka identitas dirinya sebagai salah satu keluarga korban. Percakapan Adi dengan Inong-salah satu eksekutor misalnya. Inong mengisahkan dirinya sendiri dalam pembantaian yang nyaris membuatnya gila, dan mengambil keputusan untuk meminum darah para korban pembantaian agar kewarasannya tetap terjaga meski sudah melakukan pembunuhan dan pembantaian.

“minum darahnya, itu kenapa saya tidak gila. Banyak teman yang gila, naik ke pohon kelapa dan adzan, itu karena mereka tidak minum darah”. Ujar Inong dalam salah satu percakapannya dengan Adi.

Setelah percakapan itu Adi mencoba membuka romantisme Inong dengan kejamnya pembantaian tersebut dan apakah pembantaian tersebut layak dibenarkan. Inong merasa bahwa dirinya telah dijebak oleh Adi secara politis karena kisahnya sebagai eksekutor di Sungai Ular.

Rona kemarahan juga tampak ketika Adi bertemu dengan keluarga almarhum Amir Hasan, salah satu pimpinan untuk melakukan “pembersihan” warganya yang dituduh dan dicurigai sebagai aggota PKI. Penjelasan Adi dan video dokumentasi Oppenheimer yang berisi kesaksian Amir Hasan sebagai salah satu pimpinan eksekutor ditolak mentah-mentah oleh keluarga Amir Hasan. Keluarga Amir Hasan menuduh balik bahwa video dokumentasi Oppenheimer adalah biang terbukanya luka yang tidak ingin diketahui keluarga Amir Hasan. Bagian pertemuan Adi dengan eksekutor maupun keluarga eksekutor selalu menyisakan luapan emosi yang ditelan oleh senyap laku masing-masing. Kaku, kikuk, dengan berbagai tuduhan. Ada permintaan maaf yang lirih dari beberapa anggota keluarga eksekutor, bukan oleh eksekutor karena sang eksekutor hanya bisa mengeram dengan perasaan yang berkecamuk, marah dengan balik menuduh, atau terlanjur mati terlebih dahulu.

Almarhum Amir Hasan dalam pengakuannya menjelaskan bahwa pemerintah melalui tangan-tangan militer “memfasilitasi” aksi pembantaian dan pembunuhan yang dilakukan masyarakat untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dari ancaman komunisme. Pemerintah melimpahkan “kewenangan” itu kepada masyarakat dengan menjadi algojo bagi sesamanya. Militer melakukan penjemputan korban, menyediakan truk pengangkut korban dan memberikan penjagaan di areal pembantaian. Sedangkan masyarakat yang ditunjuk oleh militer, membunuh dan membantai orang-orang yang dituduh sebagai PKI. Pemerintah dan militer cuci tangan terhadap pembantaian dengan memberikan tanggung jawab kepada warga untuk melakukan pekerjaan kotor tersebut. Mereka menangkap dan menculik, sementara “tugas” untuk membunuh dan membantai diberikan kepada masyarakat sipil dengan nama bela negara.

Senyap mengambil latar yang berbeda dari film Jagal (The Act of Killing), film Oppenheimer sebelumnya. Jagal menampilkan latar belakang pelaku pembantaian dan pembunuhan 1965 yang bernama Anwar Congo. Jagal menampilkan tragedi pembantaian dengan cara paling vulgar melalui penuturan dan tingkah yang riuh dari Anwar Congo, sedangkan Senyap menampilkan intensitas emosional dan psikis Adi Rukun sebagai salah satu keluarga korban yang berusaha untuk mendapatkan penjelasan dari para pelaku pembantaian. Meski demikian, dua film Joshua Oppenheimer memiliki nuansa yang sama, yaitu ruang dialog bagi kita untuk berani mengangkat tragedi sejarah dari brangkal yang sengaja ditimbun batu sedemikian lama dan begitu rapi oleh rezim otoriter Orde Baru.

Pasca 1998 film-film yang mengangkat tema tragedi sejarah pembantaian 1965 memang mulai bermunculan. Hal yang dapat dipahami karena sejak Orde baru berkuasa hingga keruntuhannya pada tahun 1998, negara melakukan tafsir tunggal dan kontrol penuh terhadap sejarah. Beberapa film yang mengangkat tema pembantaian 1965 sebelum Jagal  (2012) dan Senyap (2014) adalah Shadow Play (2001) dan 40 Years of Silence : An indonesian Tragedy (2009). Shadow Play adalah film karya Chris Hilton yang menceritakan pemerintah Indonesia memiliki agenda dalam propaganda G30S PKI serta keterlibatan Amerika dalam menyokong operasi ini. 40 Years of Silence : An Indonesian Tragedy (2009) adalah karya Robert Lemelson yang menceritakan beberapa keluarga yang selamat dari tragedi 1965 di Bali.

Pemutaran perdana Senyap dilakukan pada tanggal 10 November 2014, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Digagas oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia dan Dewan Kesenian Jakarta dengan menyertakan informasi bahwa film ini memenangkan lima penghargaan, salah satuunya adalah memenangkan Penghargaan Utama Juri (Grand Jury Prize) dalam Festival Film Internasional Venezia ke-71 (Venice International Film Festival) di Italia. Kita tentu tidak abai dengan berbagai macam kemenangan yang disematkan kepada Senyap di kancah festival film internasional. Tapi yang patut kita perhatikan lebih serius adalah melalui Senyap upaya untuk membuka tabir sejarah yang selama ini ditutup oleh rezim Orde Baru selalu ada. Salah satu usaha yang patut mendapatkan perhatian serius karena di Indonesia sendiri pendidikan dan sistem sosial budaya umumnya masih sibuk mengambinghitamkan PKI tanpa ada pemulihan sejarah serta menganggap pembantaian 1965 sebagai sebuah kawajaran dalam proses “menjaga” kedaulatan negara. Sikap kewajaaran yang salah alamat karena para pelaku pembantaian masih menganggap dirinya sebagai pahlawan, bahkan beberapa bebas melenggang menjadi pejabat pemerintahan. Sedangkan keluarga korban hidup dalam bayang-bayang stigma buruk kejahatan yang tidak mereka lakukan tanpa adanya pemulihan, rekonsiliasi, dan upaya hukum untuk mengungkap tragedi 1965. Mengungkap tragedi sejarah yang dilakukan melalui film Senyap membuat harapan akan terus membuncah dan menjadi bagian dari hidup itu sendiri. Jika harapan itu hilang maka tragedi sejarah yang coba diungkap sejengkal demi sejengkal akan sama dengan ironi judul film ini. Hilang dalam senyap.



back to top