Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Perang Melawan Flu Burung

Perang Melawan Flu Burung

Rondius Solfaine


Flu burung bukan masalah baru di dalam dunia kesehatan global walaupun sampai detik ini belum seratus persen ditemukan cara pengobatan yang paling efektf. Penyakit ini sudah muncul pada awal abad ke-20 di berbagai belahan dunia sebagai pandemik, yaitu infeksi virus yang menyebar pada populasi manusia secara masif.

 Pandemik yang pertama, disebut Spanish flu (H1N1), 1918-1919, yang menelan korban jiwa tidak kurang dari lima puluh juta manusia di dunia. Pandemik kedua, Asian flu (H2N2) pada periode tahun 1957-1958 yang menelan korban tujuh ratus ribu jiwa. Pandemik ketiga disebut Hong Kong flu (H3N2), yaitu pada tahun 1968-1969, yang membunuh tiga puluh empat ribu jiwa.

Sedangkan kematian ternak unggas belum tercatat pada masa tersebut. Saat ini jenis yang paling ganas adalah flu burung (H5N1), termasuk yang meneror Indonesia.

Flu burung muncul pertama kali di Indonesia pada tahun 2003 yang telah menelan korban jiwa. Menurut laporan menteri kesehatan sampai pada tahun 2007, flu burung menelan sebanyak delapan puluh tujuh korban jiwa di Indonesia. Jumlah ini menempatkan Indonesia pada pringkat tertinggi korban flu burung di Asia pada saat itu. Selain itu dampak sosial ekonomisnya terutama pada kerugian trilyunan rupiah industri perunggasan komersial (peternakan) akibat kematian puluhan juta ekor ayam. Tidak sedikit pengusaha-pengusaha peternakan unggas gulung tikar.

Selama ini para ahli telah meneliti berbagai jenis hewan hospes potensial, binatang penyebar virus, dalam proses penyebaran virus flu burung dari ayam, puyuh, bebek dan yang paling dicurigai adalah burung-burung migran. Sehingga selama ini, merpati tidak menjadi fokus perhatian walaupun pada kenyataannya burung merpati sangat popular dan sering kontak langsung dengan manusia.

Hasil riset penulis tentang flu burung, karakter biologis burung merpati sebenarnya sangat potensial bagi penebar virus flu burung. Secara laboratoris burung merpati yang terinfeksi akan mengalami perubahan fisik yang sangat cepat dan berakhir dengan kematian.  Sedangkan pada burung migran, berdasar uji lab molekuler oleh penulis tahun 2005-2007 pada 18.000 ribu kelompok burung migran di pesisir pantai pulau Jawa, hasilnya negatif. Burung-burung migran tidak membawa virus flu burung pada kurun waktu tersebut. Sebaliknya, dengan memperhatikan jumlah populasi dan potensi biologisnya, menurut penulis, burung merpati merupakan hewan pembawa virus (karier) yang sangat cocok di Indonesia.

Mutasi Genetik

Virus flu burung menjadi salah satur terror berbahaya karena mampu memperbarui materi genetiknya (mutasi). Virus ini bisa berubah menjadi virus baru yang tidak dikenali dan mematikan bagi manusia dan unggas. Virus ini sanggup membuat varian virus baru secara random sebanyak 144 kombinasi. Konsekuensinya, mutasi genetik flu burung menjadi bentuk virus baru tersebut menyebabkan sulitnya menciptakan dan mempersiapkan vaksin yang sesuai pada saat terjadinya wabah. Vaksin yang sebelumnya sudah diciptakan belum tentu sanggup memproteksi atau menyembuhkan efektif infeksi virus flu burung baru tersebut.

Pada manusia, infeksi virus flu burung berubah sangat ganas (Highly Pathogenic Avian Influenza) yang menyebabkan kematian akibat kegagalan sistem pernafasan dan gangguan sistem imunitas tubuh. Pasien yang terjangkit infeksi ini akan mengalami kegagalan pernafasan akut, berhentinya suplai oksigen dan penumpukan cairan  pada paru. Sedangkan pada unggas, infeksi virus AI berasal dari jenis virus yang tidak ganas (Low Pathogenic Avian Influenza), yang cukup untuk menimbulkan kerugian finansial peternak unggas karena penurunan drastis produksi telur atau produksi daging, sedangkan infeksi jenis virus ganas penyebab kematian hampir 100 % hanya dalam waktu 2-4 hari.

Kendala Penanganan

Departemen Pertanian sebagai pelaksana kebijakan di bidang peternakan dan kesehatan hewan, seharusnya mampu melakukan penanganan yang intensif. Salah satunya melalui implementasi tangguh kebijakan Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas). Kebijakan ini sangat penting bagi strategi penanggulangan, pemberantasan dan pencegahan terhadap penyakit hewan menular pada manusia atau sebaliknya (zoonosis).

Aplikasi kebijakan Siskeswannas tentu membutuhkan sumber daya yang berkompeten dibidang kesehatan, baik tenaga medis kesehatan hewan dan paramendik veteriner. Namun saying sekali, pada realitas lapangan, sering terjadi keterlambatan penanganan terhadap aksi ‘teror’ flu burung. Kendala sistem yang tumpang tindih, tidak efektif dan efisien sering menjadi penyebab utamanya. Sehingga unit-unit pelaksana teknis pusat dan instansi dinas daerah terkait dibidang peternakan dan kesehatan hewan sering terhambat dalam gerak penangaan. Bahkan, pemerintah daerah di era otonomi daerah sekaran ini tidak tidak mempunyai instansi khusus yang menangani masalah peternakan dan kesehatan hewan. Sehingga pada saat terjadi wabah penyakit seperti flu burung yang tidak mengenal batas geografis, beberapa daerah kesulitan menanganinya.

Berdasarkan pada kendala penanganan tersebut ada beberapa tindakan yang bisa dilakukan dalam upaya penanganan penyebaranan flu burung. Pertama, mengembalikan dan mengefektifkan lembaga otoritas di bidang peternakan dan kesehatan hewan ditingkat pusat dan daerah. Kedua, adanya sistem organisasi peternakan dan kesehatan hewan yang linier dari pusat ke daerah untuk mengefektifkan dan mengkolaborasikan potensi unit-unit pelaksana teknis kesehatan hewan secara mandiri, profesional dan dilindungi secara hukum. Ketiga membangun kembali sistem peternakan Indonesia yang modern yang mampu meningkatkan kualitas kesehatan ternak.

Teror flu burung mampu merugikan secara telak masyarakat Indonesia. Baik dari sisi kesehatan masyarakat, dan kualitas pembangunan sosial ekonomi. Jangan sampai teror flu burung makin meluas. Sehingga penanganan yang serius oleh pemerintah dan bekerjasama dengan masyarakat sangatlah penting. 

 

-Dosen tetap di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peneliti Flu Burung Pusat Kajian Penyakit Hewan Tropis Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) 

 

back to top