Menu
UGM naik menjadi peringkat teratas nasional tahun 2017

UGM naik menjadi peringkat teratas …

YOGYAKARTA, 21 AGUSTUS 20...

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

UMY berikan Hibah Mobil kepada MDMC

Bantul-KoPi| Sebagai Univ...

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi Intelegensia Muda Berkarakter Tradisi Besar

Haedar Nashir Ajak Maba UMY Jadi In…

Bantul-KoPi| Ketua Umum P...

Seminar COMICOS 2017 Universitas Atmajaya Yogyakarta

Seminar COMICOS 2017 Universitas At…

SLEMAN-Memasuki usianya y...

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama Orangtua/Wali Mahasiswa Baru

UMY Tradisikan Silaturahim Bersama …

Bantul-KoPi| Tradisi baik...

Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Prev Next

PENDIDIKAN YANG DILACURKAN: BELAS KASIH UNTUK AFI Featured

PENDIDIKAN YANG DILACURKAN: BELAS KASIH UNTUK AFI

Melalui detik.com (29/05), tulisan Afi Nihaya Faradisa tentang “Pezina yang Diampuni: Belas Kasih dalam Islam” menuai banyak tanggapan publik. Salah satu dari tanggapan itu adalah tulisannya dituduh ‘plagiat’. Entah mengapa detik.com memuatnya dan penulisnya tak berpikir kritis mengapa tulisan dari status facebooknya tiba-tiba tersebar luas.

Banyak hal bisa diperdebatkan atas tanggapan itu. Namun, banyak dugaan bahwa tulisan itu dimanfaatkan oleh sekelompok orang yang menggunakan latar anak baru gede (ABG) sebagai bahan bakar politik identitas dalam kontestasi kekuasaan.

Terlepas dari beragam spekulasi itu, saya justru menyayangkan mengapa Afi sebagai bagian dari kaum terpelajar terkesan cuek terhadap sistem pendidikan kita yang sarat persoalan. Padahal, persoalan pendidikan itu sangat dekat dengan kondisi hidup sehari-harinya.

Coba cermati data kekerasan di dalam pendidikan kita. Data yang dilansir KPAI menunjukkan sepanjang tahun 2011-2015 terjadi 1.880 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan. Sementara itu, menurut ICRW (International Center for Research on Women) mengungkapkan bahwa 84% siswa di Indonesia pernah mengalami kekerasan di sekolah. Diperkuat juga dari data Unicef pada tahun 2015 bahwa 50% siswa di Indonesia pernah mengalami dan melakukan kekerasan.

Padahal, akar tumbuhnya kekerasan berasal dari ketidakadilan. Dalam agama, terlebih lagi Islam, urusan keadilan menjadi skala prioritas sebagai upaya menjaga kemuliaan hidup manusia. Islam mengajarkan, baik dari hadits maupun Al-Quran, bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang adil.

Jika hal itu ditafsirkan, apa yang dikatakan Cak Nun beberapa waktu lalu di program TV One, barangkali ada benarnya. Selama rakyat tidak dicuri hartanya, tidak dikebiri martabatnya, dan tidak dibunuh nyawanya, maka nilai keadilan mengalir dari hulu-hilirnya kepemimpinan.

Pada konteks kekerasan, Helder Camara (1971) dalam Spiral of Violence menegaskan bahwa ketidakadilan struktural akan melahirkan spiral kekerasan. Bermula dari konteks individual kemudian berujung pada skala sosial. Ironisnya, spiral kekerasan tingkat pertama dan kedua ini diselesaikan dengan cara-cara kekerasan dari rezim kekuasaan.

Pengetahuan Saya mungkin terbatas untuk menggambarkannya secara detail kepada Afi mengenai ketidakadilan struktural yang terjadi di dalam pendidikan. Kasus para guru dan dosen yang dilucuti martabat dan kesejahteraannya misalnya bisa dibaca diberbagai media. Termasuk, wacana mendagri tentang pengambilalihan otonomi pemilihan rektor dalam sistem pendidikan tinggi.

Kondisi itulah yang menjadikan sistem pendidikan kita layaknya sistem benalu. Sebagaimana karakter benalu, pendidikan akan terus hidup dengan menjadi parasit bagi mahluk di sekitarnya. Prinsip keutamaan sistem benalu adalah kehidupan bagi dirinya berarti kematian bagi pihak lainnya. Pendidikan sistem benalu adalah pendidikan yang bersifat fungsionalisme destruktif.

Hal itu disebabkan beberapa hal. Pertama, menguatnya rezim kebenaran birokratis yang mengendalikan arah kebijakan pendidikan. Apapun yang menyimpang dari tata administratif dan hirarki pendidikan yang dibakukan cenderung dianggap pembangkangan. Sehingga, rezim justifikasi dengan dalih otoritas tunggal mendisiplinkan figur-figur epistemik.

Kedua, diskriminasi kelas yang diproduksi secara sosial, simbolik, dan tekstual. Bagi Foucault (1961) pendidikan seperti ini tak ubahnya kurungan yang mengendalikan tak hanya pengetahuan, melainkan juga mentalitas (governmentality) manusia. Dalam sistem govermentalitas, kesadaran diri perlahan-lahan bertransformasi menjadi formasi diri (self-formation). Sehingga, problem seksualitas (dalam arti tubuh) yang menjadi entitas utama manusia dinormalisasikan berdasarkan kode kultural dan kode moral (Foucault, 1985).

Ketiga, warisan ideologi pembendaan (reifikasi). Manusia dengan keberagaman keunikannya hanya dipandang sebagai objek penundukan atas nama logika kuantitatif. Keempat, ideologi global yang saling memperebutkan ruang legitimasi. Efeknya, nilai kebenaran, kemanusiaan, kebahagiaan, dan menyenangkan dalam pendidikan tercerabut esensinya di tengah kondisi yang telah sedemikian mencekam ini.

Gejala kegilaan manusia modern ini memposisikan orang tua, peserta didik, dan masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan tak lebih sebagai korban sistemik yang irasional. Formulasi kebenaran yang mereka harapkan hanya melahirkan kebingungan. Karena, adanya kesenjangan yang teramat curam antara isi pengajaran dan pengetahuan keseharian. Di sana terjadi kontradiksi yang tajam antara amanah konstitusional dan kenyataan sosial.

Maka, praktik budaya perlu mendapatkan tempat di dalam proses pendidikan di mana saja berada. Praktik budaya ini tidak sekedar menjalankan rutinitas pendidikan formal. Lebih dari itu, praktik budaya berarti kelapangan dada dan kerelaan hati memberikan kesempatan bagi siapa saja untuk melakukan aktivitas berbicara (speech activity/parrhesia).

Foucault dalam Fearless Speech (2001) menegaskan pentingnya kebebasan berbicara (free speech) sebagai strategi mengantisipasi resiko kegilaan masyarakat modern. Karena, dalam aktivitas berbicara melibatkan gerak hati dan pikiran (movement of heart and mind) baik dari penutur dan pendengarnya.

Di sanalah, terdapat komitmen parrhesia (parrhesiatic game) sebagai kualitas moral yang mensyaratkan dua hal. Pertama, masing-masing pihak menginginkan kejujuran dan ketulusan untuk mengetahui kebenaran yang disembunyikan. Kedua, di antara mereka terbebas dari rasa takut dan rasa bersalah untuk menyampaikan kebenaran.

Dalam sistem pendidikan benalu, aktivitas berbicara dan kualitas moral parrehesia dari rezim pendidikan cenderung dihindari. Akhirnya, praktik pendidikan ini meninggalkan warisan praktik anti pendidikan yang melacurkan relasi kemanusiaan secara berulang-ulang. Saya kira Afi sebaiknya perlu mempertimbangkan ulang apakah sistem pendidikan seperti ini harus dibiarkan meskipun para korbannya sudah banyak yang berguguran ? Tanyalah pada hatimu, sayang.

 

 

back to top