Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

Pendidikan Ketimuran dan anomali peradaban

Pendidikan Ketimuran dan anomali peradaban

Norberth Ellias, pada tahun 1936 pernah menuliskan dua jilid buku tentang nilai kesopanan. Baginya, nilai kesopanan adalah pondasi masyarakat beradab. Cirinya terwujud dalam cara makan masyarakat eropa. Sebuah masyarakat yang kental dengan budaya istana.

Bukti pendukungnya sangat sederhana. Pada suatu saat jamuan makan, Ellias bukannya menikmati makanan yang dihidangkan. Dia tertegun, lalu merenung. Dari sanalah dia membuat pernyataan cukup mengejutkan. Bahkan, membuat geger keluarga kerajaan.

Katanya, budaya istana telah membuat jalur makan menuju perut semakin panjang. Produk industri peralatan makan ala barat seperti garpu, sendok, piring, gelas, dan lainnya turut andil dibaliknya. Sehingga, siapapun yang tak mengikuti budaya makan kelas bangsawan ini akan dicap sebagai tak beradab.

Tetapi, bagi kebanyakan rakyat kecil di Indonesia punya cara berbeda. Ini tampak nyata dalam cara makan kesehariannya. Pendidikan ketimuran yang diterapkan oleh nenek moyangnya adalah kesederhanaan. Cukup ada wadahnya, langsung makan. Pakai tangan tak perlu berpikir garpu dan sendok makan. Mereka yang pernah mondok di pesantren, kebiasaan makan seperti ini biasa dilakukan. Tujuannya, berbagi rasa, berbagi keakraban di antara mereka.

Sejak penjajahan datang, budaya modern disebarkan. Mulai dari pakaian, tata makan hingga perawatan kulit. Bagi kaum penjajah, orang timur itu dianggap bodoh dan tak beradab. Bahkan, dianggap manusia buas yang liar. Bukti sejarah itu bisa dilihat dari foto-foto di buku sejarah dan museum setempat. Bahkan, dalam buku The History of Java karya Raffles foto kemegahan bangsawan dan kebugilan rakyat jelata jelas terlihat.

Mula-mula budaya beradab ala barat tersebut dikenalkan kepada keluarga kerajaan. Tentu, bukannya tanpa alasan. Karena produk barat itu mahal bukan kepalang. Hanya keluarga raja yang sanggup membelinya, selain juga para pedagang kaya. Produk barat itu juga mereka peroleh dari pemberian hadiah saat ada kunjungan resmi.

Setelah kemerdekaan, pabrik-pabrik didirikan. Perkembangannya pesat di saat rezim orde baru. Karena, di era orde lama, presiden Soekarno anti budaya barat. Ide pembangunannya adalah pembangunan karakter bangsa. Di era orba, idenya tergantikan dengan industrialisasi. Kapitalisme mulai menyeruak hingga ke dalam kehidupan orang desa.

Restoran makanan cepat saji tumbuh subur di mana-mana. Pola makan pun turut berubah. Kebiasaan makan di rumah, dibuat sendiri pula, mulai luntur. Lagi-lagi, para konsumennya adalah orang kelas sosial atas. Maka, strategi promosi pun dilakukan untuk membidik konsumen kelas bawah. Salah satunya membuat lomba makan ayam produk restoran cepat saji.

Seperti yang dilakukan salah satu restoran cepat saji beberapa waktu lalu. Lombanya dilakukan dari Jawa hingga Bali. Sialnya, di acara itu muncul korban. Seorang pesertanya tewas tersedak saat adu cepat makan ayamnya. Kasus seperti ini menjadi pelajaran penting. Bahwa, kesederhanaan orang timur tak bisa dihancurkan begitu saja. Akan selalu terjadi anomali dalam agenda terselubung budaya barat. Baik langsung atau tidak langsung.

Tugas pendidikan sekarang adalah mengajarkan anomali budaya barat ini. Karena itulah, diperlukan pelajaran filsafat, kajian budaya, dan sosiologi kritis di tingkat sekolahan. Begitu juga, media massa harus memberi porsi berimbang dalam beritanya. Antara jurnalisme positif dan kritis harus dilakukan secara bersamaan.

Hal tersebut bukanlah perkara lahan bisnis semata. Melainkan, turut serta pencerdasan kehidupan bangsa. Bukankah ini amanah UUD yang sejak lama diajarkan para founding father kita ? Tanyalah kepada hatimu kawan.

back to top