Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Pendidikan Ketimuran dan anomali peradaban

Pendidikan Ketimuran dan anomali peradaban

Norberth Ellias, pada tahun 1936 pernah menuliskan dua jilid buku tentang nilai kesopanan. Baginya, nilai kesopanan adalah pondasi masyarakat beradab. Cirinya terwujud dalam cara makan masyarakat eropa. Sebuah masyarakat yang kental dengan budaya istana.

Bukti pendukungnya sangat sederhana. Pada suatu saat jamuan makan, Ellias bukannya menikmati makanan yang dihidangkan. Dia tertegun, lalu merenung. Dari sanalah dia membuat pernyataan cukup mengejutkan. Bahkan, membuat geger keluarga kerajaan.

Katanya, budaya istana telah membuat jalur makan menuju perut semakin panjang. Produk industri peralatan makan ala barat seperti garpu, sendok, piring, gelas, dan lainnya turut andil dibaliknya. Sehingga, siapapun yang tak mengikuti budaya makan kelas bangsawan ini akan dicap sebagai tak beradab.

Tetapi, bagi kebanyakan rakyat kecil di Indonesia punya cara berbeda. Ini tampak nyata dalam cara makan kesehariannya. Pendidikan ketimuran yang diterapkan oleh nenek moyangnya adalah kesederhanaan. Cukup ada wadahnya, langsung makan. Pakai tangan tak perlu berpikir garpu dan sendok makan. Mereka yang pernah mondok di pesantren, kebiasaan makan seperti ini biasa dilakukan. Tujuannya, berbagi rasa, berbagi keakraban di antara mereka.

Sejak penjajahan datang, budaya modern disebarkan. Mulai dari pakaian, tata makan hingga perawatan kulit. Bagi kaum penjajah, orang timur itu dianggap bodoh dan tak beradab. Bahkan, dianggap manusia buas yang liar. Bukti sejarah itu bisa dilihat dari foto-foto di buku sejarah dan museum setempat. Bahkan, dalam buku The History of Java karya Raffles foto kemegahan bangsawan dan kebugilan rakyat jelata jelas terlihat.

Mula-mula budaya beradab ala barat tersebut dikenalkan kepada keluarga kerajaan. Tentu, bukannya tanpa alasan. Karena produk barat itu mahal bukan kepalang. Hanya keluarga raja yang sanggup membelinya, selain juga para pedagang kaya. Produk barat itu juga mereka peroleh dari pemberian hadiah saat ada kunjungan resmi.

Setelah kemerdekaan, pabrik-pabrik didirikan. Perkembangannya pesat di saat rezim orde baru. Karena, di era orde lama, presiden Soekarno anti budaya barat. Ide pembangunannya adalah pembangunan karakter bangsa. Di era orba, idenya tergantikan dengan industrialisasi. Kapitalisme mulai menyeruak hingga ke dalam kehidupan orang desa.

Restoran makanan cepat saji tumbuh subur di mana-mana. Pola makan pun turut berubah. Kebiasaan makan di rumah, dibuat sendiri pula, mulai luntur. Lagi-lagi, para konsumennya adalah orang kelas sosial atas. Maka, strategi promosi pun dilakukan untuk membidik konsumen kelas bawah. Salah satunya membuat lomba makan ayam produk restoran cepat saji.

Seperti yang dilakukan salah satu restoran cepat saji beberapa waktu lalu. Lombanya dilakukan dari Jawa hingga Bali. Sialnya, di acara itu muncul korban. Seorang pesertanya tewas tersedak saat adu cepat makan ayamnya. Kasus seperti ini menjadi pelajaran penting. Bahwa, kesederhanaan orang timur tak bisa dihancurkan begitu saja. Akan selalu terjadi anomali dalam agenda terselubung budaya barat. Baik langsung atau tidak langsung.

Tugas pendidikan sekarang adalah mengajarkan anomali budaya barat ini. Karena itulah, diperlukan pelajaran filsafat, kajian budaya, dan sosiologi kritis di tingkat sekolahan. Begitu juga, media massa harus memberi porsi berimbang dalam beritanya. Antara jurnalisme positif dan kritis harus dilakukan secara bersamaan.

Hal tersebut bukanlah perkara lahan bisnis semata. Melainkan, turut serta pencerdasan kehidupan bangsa. Bukankah ini amanah UUD yang sejak lama diajarkan para founding father kita ? Tanyalah kepada hatimu kawan.

back to top