Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Dewasa ini, kita sering dihadapkan pada isu-isu yang mempermainkan sisi kemanusiaan kita. Budaya narsisme yang tidak terbatas terus menjalar hingga ke aspek yang paling privasi sekalipun. Melihat budaya masyarakat modern seperti ini sudah semestinya pertanyaan ulang diajukan tentang makna kemerdekaan bangsa kita.

Bayangkan saja, berbagai dunia maya yang dihuni ratusan juta penduduk dipenuhi oleh arus informasi visual yang terkadang mengandung sentimen SARA. Politik yang katanya kerap dianggap alat perjuangan kerakyatan ternyata merupakan pihak yang paling bertanggungjawab atas persoalan SARA tersebut. Karena, di tangan politisi ataupun aktivis politik yang sekedar memuaskan hasrat kekuasaan semata, maka politik tak lebih sebagai biang kerok carut marutnya kedamaian negeri ini.

Kita seakan disibukkan dengan menanggapi hoax yang dimainkan oleh para broker media sosial. Mereka sengaja memainkan pikiran dan perasaan masyarakat dengan cara memalsukan realitas. Dari sanalah pundi-pundi kapital mengalir deras kepada mereka. Memang tidak selalu berupa uang, setidaknya hoax yang dipermainkan sebagai ajang kekuatan supaya menciptakan teror dan ketakutan di tengah masyarakat.

Masyarakat kita yang masih terbelakang dari aspek literasi, tentu saja hoax apapun akan mudah dilahap mentah-mentah. Bahkan, hoax yang berupa pesan keagamaan dianggap kebenaran tunggal. Sehingga, mereka yang berbeda agama menjadi sasaran stigma buruk dengan melabelinya dengan sebutan ‘kafir’, ‘bid’ah’, ‘terkutuk’, dan lain sebagainya.

Rasa saling melukai di antara sesama anak bangsa lantas menjadi konsumsi setiap hari. Meskipun secara substansi akar masalahnya terlalu sepele dan artifisial. Informasi mengenai patung misalnya yang menjadi viral belakangan ini. Hanya karena tak bernilai agama kelompok mayoritas lantas patung-patung harus dihancurkan.

Padahal, dilihat dari unsur materialnya baik patung maupun bangunan megah di sekitar perkotaan tidak ada bedanya. Bahkan, masyarakat modern perkotaan terkadang memberhalakan bangunan megah sebagai simbol kelas sosialnya. Contoh sederhana adalah keinginan sejumlah anggota DPR untuk membangun apartemen.

Padahal, kurang apa hidup mereka. Kantornya di senayan cukup megah. Rumah dinasnya luas, nyaman, dan mewah. Kebutuhan sehari-harinya juga dicukupi dari uang rakyat. Tetapi, hasrat kekuasaan mereka cenderung menyakiti perasaan rakyatnya sendiri. Jika maling ayam saja mudah diadili dan dijebloskan penjara, maka maling berdasi seperti mereka sulit sekali dijeratnya. Meski nyata-nyata telah melukai hati rakyatnya, mereka masih tidak tahu malu tampil di depan media.

Indonesia rumah kita bersama. Tetapi, sumber daya alamnya kini telah dijarah entah oleh siapa saja. Sudah berapa banyak tambang emas, batubara, dan minyak bumi yang dikuasai pihak asing. Bahkan, masyarakat di sekitar sumber alam yang kaya itu harus mengemis kepada pihak berkuasa agar hidupnya menjadi lebih sejahtera. Bahkan, hutan kita saja banyak yang hilang karena kepentingan korporasi. Berdasarkan data global forest resources assessment posisi negeri ini berada pada peringkat kedua di dunia dalam hal kehilangan hutan.

Jika kita masih meyakini bahwa Indonesia adalah rumah kita, tempat tinggal kita, maka pondasi dan pilar penyangganya harus terus dirawat. Berbagai teks konstitusi dasar bangsa kita telah memberikan dasar arsitekturnya. Meskipun para pendiri bangsa ini mengajarkan kepada kita untuk tidak putus asa dalam membangun bangsa, lantas masih adakah asa yang masih tersisa jika mereka yang berpendidikan dan pemegang tongkat kekuasaan telah kehilangan sisi terdalam kemanusiaannya ? Merdeka !

back to top