Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

MUTIARA DARI MULUT ANJING: HIKMAH YANG (TAK) DIRINDUKAN

MUTIARA DARI MULUT ANJING: HIKMAH YANG (TAK) DIRINDUKAN

Adinda Afi, banyak orang bilang engkau adalah bocah ingusan. Tetapi, dari segi usia engkau sesungguhnya tergolong orang dewasa. Bahkan, dari goresan teks yang engkau suguhkan di media, dari yang berbasis online hingga sosial media, menunjukkan kematanganmu berpikir tentang politik multikultural di negeri kita. Terutama pula, ulasanmu mengenai agama kasih memperlihatkan bahwa pengetahuanmu tampak seluas samudra.

Itulah sebabnya, Saya tidak ingin ikut terlibat mengutukmu. Meski karyamu bukan karyamu, sejarah telah mengabadikan namamu. Apalagi, di negeri kita, kutukan itu biasanya berlaku pada lima aktor utama: koruptor, politisi busuk, pengkhianat ilmu, orang kaya yang sombong, dan pelaku teror bom. Beruntung, Adinda Afi bukan tergolong kelima bagian itu.

Adinda Afi, setiap agama mengandung hikmah. Bahkan, Islam memiliki sumber hikmah yang tak terkira jumlahnya. Dari sekian banyak hikmah itu, saya hanya bisa mengabarkan beberapa saja. Dahulu kala, ada salah satu sahabat nabi Muhammad, S.A.W, bernama Abu Hurairah. Dilihat dari namanya, dia merupakan sosok penyayang kucing. Karena, ketika dia bekerja sebagai pengembala, disampingnya selalu ada seekor kucing kecil yang setia menemaninya.

Pada suatu waktu, Hurairah mendapat tugas dari nabi untuk menjaga zakat ramadhan. Saat berjalannya proses penjagaan, dia melihat sesosok mahluk yang mengambil beberapa bagian zakat. Dalam sekejap, sang pencuri tertangkap basah dan akan dibawa kepada nabi. Namun, sang pencuri meminta belas kasih Abu Hurairah. Mendengar alasan terdesak kebutuhan keluarga, Abu Hurairah merasa tak enak hati lalu melepaskan sang pencuri.

Kabar pencurian tersebut terdengar sang nabi. Setelah mendapatkan informasi dari olah ‘TKP’, Abu Hurairah lantas diingatkan nabi bahwa pencuri tersebut akan datang lagi. Ternyata, aksi pencurian itu terjadi lagi dan lagi. Peristiwa yang terakhir kali tergolong unik dan terkesan heroik. Sang pencuri tadi benar-benar tertangkap lagi. Penglihatan mata batin nabi benar-benar terbukti. Seperti biasanya, sang pencuri lalu meminta belas kasih untuk kesekian kalinya dari sahabat nabi.

Kali ini belas kasih itu diminta tanpa alasan, hanya suatu imbalan atas berbagi pengetahuan. Sang pencuri memberitahukan bahwa bagi siapa saja yang tengah berada di tempat tidur hendaknya membaca ayat kursi. Dengan begitu, Allah senantiasa menjaganya dari gangguan setan dan serangan mahluk terkutuk lainnya hingga dia terbangun nanti. Akhirnya, Abu Hurairah membebaskannya.

Peristiwa ini ternyata sampai juga ke telinga baginda nabi. Lantas, terjadilah dialog dengan Hurairah. “Tahukah engkau sahabat, siapakah sosok pencuri zakat itu ?” tanya nabi. “Tidak” jawab Hurairah. “Dialah setan” lanjut nabi. Abu Hurairah kaget mendengarnya. Dialog lalu ditutup dengan nasehat indah nabi. “Ambillah kata mutiara yang berkilau itu, meski dari setan sekalipun”. Peristiwa sejarah hikmah ini diriwayatkan oleh Imam Hambali dalam kitab Al-Wakalah no. 2311.

Adinda Afi, dalam urusan agama barangkali saya tidak sedalam pengetahuanmu. Karena itu, saya banyak belajar dari mana saja, termasuk dari tulisanmu, selama di sana mengandung hikmah. Sebatas pengetahuan saya, di dalam Islam kita diajarkan menerima pesan kebaikan meski dari mulut anjing sekalipun.

Anjing di dalam tulisanmu menjadi objek pelengkap bagi perempuan pezina untuk mendapat ridho-Nya. Nyatanya binatang ini berpotensi subjek bagi hadirnya hikmah untuk kehidupan manusia. Itulah mengapa hingga kini sosok anjing terus dipelihara di dalam pribahasa sehari-hari kita: “Anjing menggonggong kafilah berlalu”.

Adinda Afi, salah satu syarat pendidikan dalam Islam adalah membaca. Setidaknya, informasi itu yang saya tahu sekilas saja. Jangankan anak sekolahan, anak-anak putus sekolah di Madura saja tahu tentang ajaran itu. Karena, membaca bagian dari perintah tuhan. Dengan membaca, kita bisa menulis sekaligus menajamkan pikiran. Kenapa menulis ? Sebab, tulisan memiliki spirit keabadiaan. Karena itu, remaja yang diputus pacarnya biasanya membakar surat cintanya. Bahkan, beberapa waktu lalu ada seorang gadis yang nekad bunuh diri sembari menggenggam surat patah hati.

Namun, bukan berarti Afi lalu membakar habis semua status facebookmu yang mendadak tersohor itu. Bukan begitu maksud tulisan ini. Karena setiap tulisan mengandung susunan tekstual, maka kita perlu mendengarkan pesan dari Rolland Barthes. Dalam essainya berjudul “The Death of of the Author” (1967) Barthes berujar bahwa memberi teks interpretasi tunggal berarti memaksakan tapal batas teks bersangkutan. Karena takdir teks itu sarat kepentingan, dinamis, dan kontestatif, maka sejak awal setiap pengarang harus siap is death alias mati terkapar.

Masalahnya, kehadiran tulisanmu bertepatan dengan panasnya suhu politik yang ekstrem di ibu kota. Tidak hanya di dunia nyata, suhu udara itu merembet ke dunia maya. Makanya, saya heran mengapa tulisanmu yang sudah sekian lama tertimbun di rumah mayamu, justru baru belakangan terkenal. Padahal, tulisan saya yang singgah sekali-duakali di media saja (cetak maupun maya) tidak bernasib sama.

Hanya dari tulisan, adinda Afi menuai banyak tawaran beasiswa dan undangan kehormatan. Sementara saya, sungguh-sungguh terkapar. Sebab, terkadang honor tulisan tidak dibayarkan. Atau, telat dibayar hingga melampui waktu yang saya perkirakan. Hasilnya, penulis amatiran seperti saya, atau mereka yang nasibnya serupa, lebih banyak menimbun hutang. Sehingga, pribahasa lebih besar pasak daripada tiang punya makna tersendiri bagi perjalanan hidup kami. Maka, nasibmu sungguh lebih beruntung daripada kami yang terdesak situasi agar dapur keluarga terus mengepul setiap hari.

Terlepas dari kondisi hidup para pengarang dan penulis di negeri ini, adinda Afi harus tetap tegar. Teruslah menulis bagi pembebasan dan bukan untuk terkenal. Ingatlah saat nabi Muhammad, S.A.W diiming-imingi kedudukan dan kemewahan agar mendukung rezim kekuasaan. Beliau dengan tegas mengatakan: “walaupun engkau berikan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, aku tak akan pernah berpaling dari jalan tuhan”. Semoga ini adalah butiran mutiara yang bisa menemani adinda Afi di saat melewati masa-masa suram. Sekian, sayang.




back to top