Menu
Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran Soprema 2018

Inkubasi Tahap 1 Resmi Buka Gelaran…

Jogja-KoPi| Kegiatan Inku...

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY Adakan Lomba Jemparingan

Lestarikan Budaya Tradisional, UAJY…

Jogja-KoPi| Universitas A...

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​Web-Professional Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Dorong ​…

Yogyakarta, 25 September ...

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo Ingatkan Dua Fungsi Sekda

Lantik Heru Tjahjono, Pakde Karwo I…

Surabaya-KoPi| Sesuai UU ...

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi Paham Radikal

Kepa BNPT Ajak Mahasiswa UGM Jauhi …

 JogjaKoPi| Kepala B...

Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Prev Next

Mencari Pemimpin Media

Mencari Pemimpin Media

Wenny Maya Arlena dan Ni Gusti Ayu Ketut Kurniasari


Perkembangan dunia global  memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan dunia media. Sejak media melisensikan dirinya sebagai industri media maka secara langsung akan mempengaruhi sistem produksi pada media tersebut. Media memiliki fokus yang sangat kuat terhadap omset dan kompetisi antar media yang memiliki orientasi pada bisnis semata.

Industri Media

Melihat pemimpin media saat ini seperti melihat penguasa media yang ingin menguasai dunia. Konglomerasi merupakan karakteristik dari perkembangan industri media, yang kemudian lambat laun menganggap audiensnya bukan lagi sebagai warganegara namun lebih kepada konsumen yang dapat memenuhi kepentingan elit-elit kapitalis yang dapat membahayakan peran publik di media dan media tidak lagi mementingkan warganegara dalam pembentukan kerja media.

Pada akhirnya, media menjadi  sebuah perebutan berbagai kelompok kepentingan, dari politikus dan bisnis berjuang untuk mendapatkan kontrol dan pengaruh yang sangat luas terhadap sistem pemerintahan yang sedang berkuasa. Karena menguasai media, sama halnya menguasai publik. Semakin luas penguasaan media terhadap publik maka semakin banyak kekuasaan yang akan didapatkan pada sistem pemerintahan yang sedang berkuasa. Hal tersebut tentu saja sangat berpengaruh positif terhadap kepentingan-kepentingan media dalam mengembangkan industri medianya.

Yang menarik saat ini, pertumbuhan industri media tidak bisa lepas dari sistem ekonomi politik yang sedang terjadi. Seperti yang terjadi di Indonesia, perubahan situasi politik dan ekonomi berdampak pada dinamika industri media. Tidak hanya media yang sekarang digunakan sebagai kendaraan bagi kepentingan politik tetapi juga alat bisnis yang powerful. Bahkan politik dan bisnis seakan dikawinkan di industri media dengan tujuan memperluas cengkraman kekuasaan para pemilik kepentingan.

Melihat penguasa media saat ini, mampu menggugah hati nurani rakyat Indonesia untuk memiliki pemimpin media yang ideal. Seorang pemimpin yang tidak lagi hanya mementingkan kekuasaan namun juga masih melihat publik sebagai warga negara yang memiliki hak untuk menikmati produk media yang edukatif.

Pemimpin Media Yang Ideal

Pemimpin media selayaknya memiliki karakter kebangsaan yang kuat terhadap pembangunan Indonesia. Memiliki karakteristik yang sangat mumpuni terhadap kepentingan-kepentingan warga negara bukan kepentingan konsumen yang sudah di konstruksi sedemikian rupa. Pemimpin media yang ideal diharapkan memiliki karakter sebagai berikut:

-    Budaya (Culture) : Pemimpin media yang ideal harus memahami dengan baik budaya Indonesia. Pemahaman terhadap budaya Indonesia memiliki korelasi yang kuat terhadap industri media yang dipimpinnya. Budaya Indonesia juga mewakili karakteristik bangsa dan warga negaranya yang dapat dikemas dalam produk-produk industri media tersebut sehingga media di Indonesia adalah interpretasi dari budaya Indonesia. 

-    Pengetahuan (Knowledge) : Pengetahuan menjadi hal yang paling penting harus dimiliki oleh pemimpin media. Pengetahuan dalam membangun bisnis media yang kompetitif dan edukatif yang disesuaikan dengan karakteristik bangsa Indonesia. Pengetahuan seorang pemimpin media juga memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap ideologi kepemimpinannya.

-    Keahlian Praktis (Practical Skill) : Industri media adalah industri praktis, sehingga seorang pemimpin media harus memiliki keahlian yang sangat baik dalam wilayah-wilayah praktis. Karena pemahaman seorang pemimpin media terhadap wilayah praktis yang dipimpinnya memiliki kaitan yang sangat erat terhadap budaya kompetisi yang akan dibangunnya.

-    Teknologi (Technology): Industri media tidak bisa terlepas dari teknologi. Teknologi memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap perkembangan industri media. Seorang pemimpin media harus memiliki kemampuan yang baik terhadap penggunaan teknologi dalam proses produksi media tersebut. Perkembangan teknologi juga sepatutnya seiring sejalan dengan perkembangan dari industri media tersebut.  

 

-Pengajar : Fakultas Ilmu Komunikasi – Universitas Budi Luhur Jakarta

 

 

 

 

back to top