Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Menanti masjid aksesibel untuk difabel

foto:republika.co.id foto:republika.co.id

Belakangan ini seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat, khususnya kaum muslimin dan muslimat, maka banyak dibangun masjid megah dan mewah. Hal ini sama sekali tidak salah bahkan dapat dibilang benar, karena tuntunanya masjid yang dibangun seharusnya merupakan banguna paling megah di daerah tersebut. Tujuannya agar orang merasa nyaman dan kerasan berada di masjid untuk beribadah.

Namun, sayangnya pembangunan masjid yang mewah dan megah tersebut, kurang memperhatikan aksesibilitas (kemudahan infrastruktur bagi difabel). Bahkan, sebaliknya bangunan tersebut banyak yang merepotkat difabel. Beberapa hal yang mereptokan tersebut seperti, tangga yang curam tanpa ada pegangan serta rump (bidang miring penganti tangga), lantai keramik yang terlalu licin dan tempat wudhu tanpa ada pegangan.

Tentunya kondisi demikian ini menjadikan difabel kesulitan pergi ke masjid, sehingga mereka para difabel memilih menjalankan ibadah di rumah. Padahal tuntunannya dalam beribadah terutama menjalankan sholat lima waktu adalah di masjid. Hal ini berlaku menyeluruh termasuk bagi difabel tanpa terkecuali, karena akan mendapatkan pahala yang berlipat apabila menjalankan sholat jamaah.

Harapan pada Takmir Masjid

Sementara itu menurut peraturan menteri pekerjaan umum No 30/ PRT/ M/ 2006, tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan, dijelaskan bahwa bangunan untuk kepentingan umum harus dibuat aksesibel. Beerkaitan hal tersebut maka sudah seharusnya para takmir masjid mulai sekarang ini sudah harus merubah pemikiran, untuk membangun masji yang aksesibel bukan sekedar megah dan mewah.

Barangkali salah satu kekhawatiran apabila masjid dibuat aksesibel adalah kursi roda dapat masuk masjid, sehingga kemungkinan membawa kotoran yang menjadi najis. Namun, hal ini dapat diatasi dengan membuat semacam kolam dangkal untuk mencuci ban pada kursi roda, atau cara lain dengan menyediakan kursi roda yang hanya boleh digunakan di dalam masjid, sehingga dengan demikian kebersihannya menjadi terjamin.

Padahal apabila sebuah masjid dibuat aksesibel maka, sebenarnya yang menikmati bukan hanya para difabel, tetapi ada kelompok lain seperti kaum manusia usia lanjut (manula) dan para penderita stroke yang mobilitasnya terbatas, sehingga apabila ke masjid harus dibantu orang lain. Tentunya aksesibiltas yang perlu diperhatikan tersebut bukan hanya bangunan masjid, tetapi termasuk tempat wudhunya.

Sayangnya sejauh ini di Jogjakarta baru ada sebuah masjid yang aksesiilitasnya mendekati baik. Masjid tersebut berada di kompleks kantor pemerintah Kabupaten Sleman. Di masjid tersebut mulai dari tempat wudhu sampai bangunan masjid aksesibilitasnya cukup memadai, hanya tinggal sedikit pembenahan saja, yaitu pintu kamar mandi yang ukurannya masih terlau kecil untuk ukuran sebuah kursi roda.

Tentunya apabila semua masjid sudah aksesibel seperti di Pemkab Sleman tersebut, maka orang-orang yang mempunyai keterbatasa baik difabel, kaum manula dan penderita stroke akan mempunyai kesempatan pergi ke masjid. Sudah sepantasnya apabila yang mampu menolong yang tidak mampu, tuntunan islam mengatakan seperti itu. Dan barangkali pembangunan masjid aksesibel menjadi salah satu cara.

Kalau sekarang ini hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dunia seperti layanan kesehatan, pendidikan atau kesempatan kerja, aksesibilitas mulai banyak diperjuangkan, kenapa masjid yang bertujuan untuk kehidupan abadi malah tidak diperjuangkan.

back to top