Menu
Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Muhammadiyah menyatakan sikap terkait bencana lingkungan

Muhammadiyah menyatakan sikap terka…

Bantul-KoPi| Majelis Li...

Mendikbud meresmikan Museum dan Galeri Tino Sidin

Mendikbud meresmikan Museum dan Gal…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Para orangtua harus pahami kebutuhan anak difabel

Para orangtua harus pahami kebutuha…

Bantul-KoPi|Pola asuh ana...

Konektivitas Virtual Global: Peringkat Indonesia dan Jokowi Meningkat

Konektivitas Virtual Global: Pering…

Yogyakarta-KoPi | Kemud...

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemilikan Rumah Bagi Driver Gojek

Gus Ipul Apresiasi Program Kepemili…

Surabaya-KoPi| Wakil Gu...

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama selamatkan Golkar

Akbar Tanjung: Munaslub cara utama …

Sleman-KoPi| Wakil Dewa...

Prev Next

Menanti masjid aksesibel untuk difabel

foto:republika.co.id foto:republika.co.id

Belakangan ini seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat, khususnya kaum muslimin dan muslimat, maka banyak dibangun masjid megah dan mewah. Hal ini sama sekali tidak salah bahkan dapat dibilang benar, karena tuntunanya masjid yang dibangun seharusnya merupakan banguna paling megah di daerah tersebut. Tujuannya agar orang merasa nyaman dan kerasan berada di masjid untuk beribadah.

Namun, sayangnya pembangunan masjid yang mewah dan megah tersebut, kurang memperhatikan aksesibilitas (kemudahan infrastruktur bagi difabel). Bahkan, sebaliknya bangunan tersebut banyak yang merepotkat difabel. Beberapa hal yang mereptokan tersebut seperti, tangga yang curam tanpa ada pegangan serta rump (bidang miring penganti tangga), lantai keramik yang terlalu licin dan tempat wudhu tanpa ada pegangan.

Tentunya kondisi demikian ini menjadikan difabel kesulitan pergi ke masjid, sehingga mereka para difabel memilih menjalankan ibadah di rumah. Padahal tuntunannya dalam beribadah terutama menjalankan sholat lima waktu adalah di masjid. Hal ini berlaku menyeluruh termasuk bagi difabel tanpa terkecuali, karena akan mendapatkan pahala yang berlipat apabila menjalankan sholat jamaah.

Harapan pada Takmir Masjid

Sementara itu menurut peraturan menteri pekerjaan umum No 30/ PRT/ M/ 2006, tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan, dijelaskan bahwa bangunan untuk kepentingan umum harus dibuat aksesibel. Beerkaitan hal tersebut maka sudah seharusnya para takmir masjid mulai sekarang ini sudah harus merubah pemikiran, untuk membangun masji yang aksesibel bukan sekedar megah dan mewah.

Barangkali salah satu kekhawatiran apabila masjid dibuat aksesibel adalah kursi roda dapat masuk masjid, sehingga kemungkinan membawa kotoran yang menjadi najis. Namun, hal ini dapat diatasi dengan membuat semacam kolam dangkal untuk mencuci ban pada kursi roda, atau cara lain dengan menyediakan kursi roda yang hanya boleh digunakan di dalam masjid, sehingga dengan demikian kebersihannya menjadi terjamin.

Padahal apabila sebuah masjid dibuat aksesibel maka, sebenarnya yang menikmati bukan hanya para difabel, tetapi ada kelompok lain seperti kaum manusia usia lanjut (manula) dan para penderita stroke yang mobilitasnya terbatas, sehingga apabila ke masjid harus dibantu orang lain. Tentunya aksesibiltas yang perlu diperhatikan tersebut bukan hanya bangunan masjid, tetapi termasuk tempat wudhunya.

Sayangnya sejauh ini di Jogjakarta baru ada sebuah masjid yang aksesiilitasnya mendekati baik. Masjid tersebut berada di kompleks kantor pemerintah Kabupaten Sleman. Di masjid tersebut mulai dari tempat wudhu sampai bangunan masjid aksesibilitasnya cukup memadai, hanya tinggal sedikit pembenahan saja, yaitu pintu kamar mandi yang ukurannya masih terlau kecil untuk ukuran sebuah kursi roda.

Tentunya apabila semua masjid sudah aksesibel seperti di Pemkab Sleman tersebut, maka orang-orang yang mempunyai keterbatasa baik difabel, kaum manula dan penderita stroke akan mempunyai kesempatan pergi ke masjid. Sudah sepantasnya apabila yang mampu menolong yang tidak mampu, tuntunan islam mengatakan seperti itu. Dan barangkali pembangunan masjid aksesibel menjadi salah satu cara.

Kalau sekarang ini hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dunia seperti layanan kesehatan, pendidikan atau kesempatan kerja, aksesibilitas mulai banyak diperjuangkan, kenapa masjid yang bertujuan untuk kehidupan abadi malah tidak diperjuangkan.

back to top