Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Menanti masjid aksesibel untuk difabel

foto:republika.co.id foto:republika.co.id

Belakangan ini seiring dengan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat, khususnya kaum muslimin dan muslimat, maka banyak dibangun masjid megah dan mewah. Hal ini sama sekali tidak salah bahkan dapat dibilang benar, karena tuntunanya masjid yang dibangun seharusnya merupakan banguna paling megah di daerah tersebut. Tujuannya agar orang merasa nyaman dan kerasan berada di masjid untuk beribadah.

Namun, sayangnya pembangunan masjid yang mewah dan megah tersebut, kurang memperhatikan aksesibilitas (kemudahan infrastruktur bagi difabel). Bahkan, sebaliknya bangunan tersebut banyak yang merepotkat difabel. Beberapa hal yang mereptokan tersebut seperti, tangga yang curam tanpa ada pegangan serta rump (bidang miring penganti tangga), lantai keramik yang terlalu licin dan tempat wudhu tanpa ada pegangan.

Tentunya kondisi demikian ini menjadikan difabel kesulitan pergi ke masjid, sehingga mereka para difabel memilih menjalankan ibadah di rumah. Padahal tuntunannya dalam beribadah terutama menjalankan sholat lima waktu adalah di masjid. Hal ini berlaku menyeluruh termasuk bagi difabel tanpa terkecuali, karena akan mendapatkan pahala yang berlipat apabila menjalankan sholat jamaah.

Harapan pada Takmir Masjid

Sementara itu menurut peraturan menteri pekerjaan umum No 30/ PRT/ M/ 2006, tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan, dijelaskan bahwa bangunan untuk kepentingan umum harus dibuat aksesibel. Beerkaitan hal tersebut maka sudah seharusnya para takmir masjid mulai sekarang ini sudah harus merubah pemikiran, untuk membangun masji yang aksesibel bukan sekedar megah dan mewah.

Barangkali salah satu kekhawatiran apabila masjid dibuat aksesibel adalah kursi roda dapat masuk masjid, sehingga kemungkinan membawa kotoran yang menjadi najis. Namun, hal ini dapat diatasi dengan membuat semacam kolam dangkal untuk mencuci ban pada kursi roda, atau cara lain dengan menyediakan kursi roda yang hanya boleh digunakan di dalam masjid, sehingga dengan demikian kebersihannya menjadi terjamin.

Padahal apabila sebuah masjid dibuat aksesibel maka, sebenarnya yang menikmati bukan hanya para difabel, tetapi ada kelompok lain seperti kaum manusia usia lanjut (manula) dan para penderita stroke yang mobilitasnya terbatas, sehingga apabila ke masjid harus dibantu orang lain. Tentunya aksesibiltas yang perlu diperhatikan tersebut bukan hanya bangunan masjid, tetapi termasuk tempat wudhunya.

Sayangnya sejauh ini di Jogjakarta baru ada sebuah masjid yang aksesiilitasnya mendekati baik. Masjid tersebut berada di kompleks kantor pemerintah Kabupaten Sleman. Di masjid tersebut mulai dari tempat wudhu sampai bangunan masjid aksesibilitasnya cukup memadai, hanya tinggal sedikit pembenahan saja, yaitu pintu kamar mandi yang ukurannya masih terlau kecil untuk ukuran sebuah kursi roda.

Tentunya apabila semua masjid sudah aksesibel seperti di Pemkab Sleman tersebut, maka orang-orang yang mempunyai keterbatasa baik difabel, kaum manula dan penderita stroke akan mempunyai kesempatan pergi ke masjid. Sudah sepantasnya apabila yang mampu menolong yang tidak mampu, tuntunan islam mengatakan seperti itu. Dan barangkali pembangunan masjid aksesibel menjadi salah satu cara.

Kalau sekarang ini hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan dunia seperti layanan kesehatan, pendidikan atau kesempatan kerja, aksesibilitas mulai banyak diperjuangkan, kenapa masjid yang bertujuan untuk kehidupan abadi malah tidak diperjuangkan.

back to top