Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Lupakan Sepak Bola: Geopolitik dibalik Skandal FIFA Perang Melawan Rusia

Lupakan Sepak Bola: Geopolitik dibalik Skandal FIFA Perang Melawan Rusia

Oleh: Mahdi Darius Nazemroaya

Tidak diragukan lagi memang telah banyak terjadi praktek korupsi di tubuh FIFA. Suap dan tawaran di balik layar telah berlangsung selama beberapa dekade. Federasi sepak bola bertanggung jawab untuk olahraga paling banyak ditonton dan populer di dunia dan merupakan bagian dari bisnis yang menguntungkan yang memiliki banyak soft power dan prestis yang melekat pada federasi tersebut.

skandal dan penangkapan yang terjadi pada tahun ini, bagaimanapun, tidak ada hubungannya dengan korupsi dan segala sesuatu yang berkaitan dengan geopolitik. FIFA telah menjadi arena lain untuk perang multi-spektrum yang diperjuangkan AS dan sekutunya terhadap negara-negara seperti Rusia. Energi dan penukaran perang sekarang sedang ditambah dengan perang di balik layar FIFA. Joseph Blatter atau Sepp adalah korban dari perang ini.
    
Sejak 2005, Blatter menolak untuk terlibat dalam geopolitik permainan catur Washington. Di bawahnya, FIFA menolak untuk menyerah kepada AS atas tuntutan bahwa tim Iran dilarang berpartisipasi di Piala Dunia 2006 atau tuntutan bahwa Palestina tidak diakui sebagai anggota FIFA. Perlawanan geopolitik FIFA, bagaimanapun, telah mencapai titik kritis.
    
Pertimbangan FIFA atas permintaan Palestina utnuk menghalangi Israel, atas dasar sabotase Israel dan serangan terhadap tim Palestina, sebagai bagian dari lima belas agenda Kongres ke-65nya bisa saja salah satu dari perlawanan ini. sehari sebelum kongres FIFA ke-65 berlangsung, Blatter bertemu dengan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu dan perdana menteri Palestina diktator Mahmoud Abbas untuk mendapatkan suatu kesepahaman. Ini mungkin menjadi dasar untuk mosi penarikan mundur Asosiasi Sepakbola Palestina untuk menghalangi asosiasi sepakbola Israel dari FIFA.
    
Bukan hanya AS dan Inggris kecewa karena tidak diberi status tuan rumah untuk Piala dunia 2018 dan 2022, tetapi mereka telah menekan FIFA melawan Rusia. Apa yang mungkin menyebabkan kampanye Washington untuk menghapus Blatter dengan mengatur kudeta di dalam FIFA terhadap bos FIFA adalah penolakan FIFA atas saksi bagi Rusia dengan ikut andil dalam program AS dan Uni Eropa terhadap Moskow.
    
Hanya beberapa hari setelah Blatter terpilih kembali pada 29 Mei 2015 untuk mengetuai FIFA yang kelima kalinya oleh mayoritas delegasi pada kongres ke-65 FIFA, dia mengambil langkah yang tidak biasa mengumumkan bahwa ia mengundurkan diri sebagai Presiden federasi sepakbola internasional pada 2 Juni 2015. Langkah ini tidak biasa, karena sampai Mei, pemilihan kembali Blatter telah berhasil mengatasi tekanan dan upaya AS dan sekutunya untuk memaksanya mengundurkan diri dari jabatan presiden FIFA. Ia mengumumkan bahwa dirinya telah mengambil keputusan karena ia tidak memiliki dukungan semua orang untuk terus menjadi presiden FIFA saat konferensi pers di markas FIFA di Zurich, Swiss.
    
133 dari total 209 perwakilan asosiasi di kongres FIFA ke-65 memilih Blatter di babak pertama pemungutan suaradi Hallenstadion Zurich. Jumlah ini sekitar 64% dari peserta Kongres FIFA. Karena jumlah ini hanya sekitar dua per  tiga peserta voting, maka dilakukan pemungutan suara putaran kedua.
    
Wakil Presiden FIFA untuk Asia dan runner-up, Pangeran Ali bin Al Hussein bin Al Talal bin Abdullah, tidak memiliki kesempatan untuk menang dan dan keluar dari pemilihan sebelum pemungutan suara kedua dilakukan. Pangeran Ali hanya berhasil mengamankan 33 suara atau sekitar 35% yang mendukungnya untuk menjadi presiden baru FIFA.
    
Terlepas dari kenyataan bahwa ia telah memperoleh dukungan dari mayoritas asosiasi sepakbola di pemilu FIFA, Blatter masih dipaksa mengumumkan pengunduran dirinya. Laporan dari New York Times, ABC News, dan Reuters mengumumkan bahwa Blatter kini sedang diselidiki secara pidana oleh otoritas AS setelah kongres diselenggarakan. Blatter mencoba menjauhkan diri dari kontroversi, namun beberapa petugas AS mengakui bahwa mereka ingin membangun kasus terhadap Blatter dengan menggunakan rekannya di FIFA yang telah ditangkap sebelumnya, yaitu Sam Borden, Michael S. Schmidt, dan Matt Apuzzo.
    
Sebelum penyelidikan pada Blatter, AS atas bantuan polisi Swiss menangkap tujuh pejabat FIFA di Hotel Baur au Lac Zurich pada 27 Mei 2015. Para pejabat FIFA ini berada di Zurich untuk memberikan suara mereka pada pemilihan FIFA. Mereka ditangkap karena kecurigaan atas korupsid an diekstradisi ke AS oleh Swiss.
    
AS sebenarnya mempercepat penyelidikan bahkan ketika penyelidikan terpisah sedang dilakukan oleh pihak berwenang di Swiss mengenai bagaimana FIFA menganugrahkan Piala Dunia 2018 pada Rusia dan Piala Dunia 2022 pada Qatar. Inti dari permasalahan ini adalah, FIFA tidak bersedia untuk membatalkan keputusan dan mengikuti skrip geopolitik Washington melawan Rusia.
    
Waktu penggerebekan dan penangkapan terjadi 24 jam sebelum pemilihan FIFA. Penangkapan itu sengaja direncanakan untuk mencegah Blatter terpilih kembali. Blatter menanggapinya dengan “tidak ada yang akan memberitahu saya bahwa itu adalah kebetulan sederhana, serangan Amerika ini dua hari sebelum pemilihan FIFA. Terasa tidak baik”.Kontur persaingan dan perpecahan geopolitik bermanifestasi di tubuh FIFA. Sementara El Salvador dan Honduras terlibat perang karena sepakbola pada 1969, apa yang terjadi di balik layar dengan skandal FIFA memberikan arti baru untuk perang sepakbola.Meskipun pemungutan suara di Hallenstadion dilakukan secara rahasia, terdapat kesepemahaman mengenai bagaimana delegasi FIFA dan konfederasi regional memilih.

Selain dari Australia, 47 anggota Konfederasi Sepakbola Asia (AFC) dipercaya telah memilih Blatter. AFC membuat pernyataan untuk mendukung Blatter sejak skandal tersebut menyeruak. 44 member Konfederasi Sepakbola Afrika (CAF), yang merupakan konfederasi terbesar di FIFA, juga memilih Blatter dan mendukungnya seperti AFC.Sedangkan UEFA dan US menentang Blatter. Politisi Uni Eropa, termasuk perdana menteri Inggris David Cameron, telah menuntut Blatter untuk mundurkan diri sebagai FIFA. UEFA bahkan mengancam akan memutuskan hubungan dengan FIFA bila Blatter kembali terpilih.

Asosiasi Sepakbola Inggris telah mengumumkan boikot pada Piala Dunia. Kampanye melawan Blatter mencapai titik di mana Sepp mengatakan bahwa UEFA berada pada kampanye demonisasi yang tidak perlu.Bagaimanapun, UEFA tidak bersatu melawan Blatter.

“UEFA terpecah, seperempat anggotanya tampaknya memilih Blatter, menentang permohonan dari Michel Platini, Pimpinan UEFA, untuk menggulingkan pria Swiss berumur tujuh puluh tahun ini. Di antara mereka yang mendukung adalah Rusia, Spanyol, dan bisa ditebak, Prancis, negara Platini sendiri. Jadi tindakan UEFA untuk menghapus kerjasama dengan FIFA tidak mungkin dilakukan lebih lanjut.” The Economist melaporkan.

Menyadari apa yang terjadi di balik layar, Federasi Rusia, baik di tingkat FIFA dan tingkat politik Kremlin, menyuarakan dukungan yang kuat untuk Joseph Blatter. Vladimir Putin bahkan ‘melompat’ untuk mendukung Blatter. Selain Perancis, Spanyol, dan Rusia, sebanyak 18 anggota UEFA, termasuk Armenia, Belarus, Finlandia, dan Kazakhstan diyakini telah mendukung Blatter selama pemungutan suara di Zurich.AS dan Kanada juga diisolasi dari Konfederasi Sepakbola Utara, Amerika Tengah, dan Karibia (CONCACAF). Negara-negara Amerika Tengah dan Karibia memberikan dukungannya pada Blatter.

Dalam istilah Orwellian, media di AS dan Inggris telah mencoba untuk menggambarkan proyek Blatter untuk meningkatkan sepakbola di Afrika dan Asia melalui proyek-proyek investasi dan pengembangan sebagai bentuk suap. Bahkan kritikus mengakui bahwa pembagian keuntungan antara 209 anggota FIFA yang dihasilkan oleh pendapatan dan turnamen telah mendorong banyak revolusi sepakbola asli di negara berkembang. Mauritania memberikan studi kasus yang sangat baik tentang bagaimana pembagian keuntungan di antara semua anggota FIFA, mulai tahun 2013, telah membantu negara-negara miskin meningkatkan profil sepakbola, studio dibangun untuk memberikan Mauritania kesempatan menonton sepakbola di televisi.

“Hal tersebut dituduhkan sebagai suatu penyuapan. Tidak sekali korupsi terjadi di UEFA atau Uni Eropa yang pernah disebutkan sebelumnya. Hal ini telah mendorong pengamatan bahwa selain geopolitik, ini merupakan isu mengenai kekuatan dan ekonomi. “

Dua edisi terakhir Piala Dunia dilakukan di Afrika Selatan dan Brasil, dan akan dilanjutkan di Rusia. Ketiganya adalah nergara BRICS. Sangat jelas terlihat bahwa bangsa Barat tidak senang dengan hal tersebut. Semua pembicaraan tentang korupsi merupakan upaya Eropa dan Amerika untuk membawa permainan itu kembali pada lingkup pengaruh mereka.” Kata Thiago Cassis, penulis sepakbola Brazil yang terkenal.

“Ada banyak korupsi di sepakbola Eropa. Mereka tidak berbicara tentang hal itu. Seluruh permainan ini bukan tentang pemberantasan korupsi, tetapi mendapatkan kembali kontrol.”Bergantung pada Amerika Selatan dan Afrika untuk bakat sepakbola dan peningkatan pemirsa tv pada Asia, bangsa Eropa tahu mereka akan kehilangan kendali atas sepakbola. 

“Eropa ingin mengimpor semua tenaga kerja dari kami karena dapat memberi mereka pemirsa tv secara global dan banyak uang. Namun mereka tidak ingin memberikan kami Piala dunia atau berbagi kekuatan dengan kami” kata seorang delegasi FIFA dari Afrika pada kongres FIFA ke-65 yang menjelaskan kekecewaannya.

Semua pejabat FIFA yang ditangkap sebelum pemilihan di Zurich merupakan bangsa Amerika Latin dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Selain penyelidikan korupsi mereka sendiri, ini telah mendorong kebencian dan reaksi di CONCACAF dan CONMEBOL (Konfederasi Sepakbola Amerka Selatan).

The Wire, salah satu official sepakbola Brazil memberikan Amerika Latin perspektif mengapa AS dan sekutunya yang menarget Amerika Latin di FIFA. Mengapa mereka hanya menangkap pejabat dari federasi kami dan di Swiss? Mengapa mereka tidak melakukan pendekatan pada pemerintah melalui interpol? Apakah karena mereka tahu bahwa ekstradisi dari Amerika Selatan ke AS tidak mungkin dilakukan?

“Terdapat pula kemarahan terhadap laporan media barat mengenai Pimpinan CBF Polo Del Nero ‘melarikan diri’ dari Brazil ke Zurich karena takut akan penangkapan. Faktanya, ketika media seperti The Guardian dan New York Times melaporkan pelarian Del Nero, dari pertemuan FIFA, pejabat Brasil tersebut masih di Swiss. 

‘Mereka membuat tekanan ini pada kami untuk memaksa kami memilih Pangeran Ali. Mereka telah memberikan penawaran pada kami selama berbulan-bulan. Ketika mereka tidak melihat ini akan berhasil, mereka membuat penyergapan diikuti ancaman terselubung kepada orang lain bahwa mereka bisa ditangkap juga. Beberapa wartawan Inggris dan Amerika adalah bagian dari taktik tekanan ini.’” dikutip dari the Wire.

Berdasar perspektif Amerika Latin, Saxena melaporkan bahwa sergapan di Zurich yang dilakukan pada beberapa pejabat Amerika Selatan, tampak FBI, polisi Swiss dan wartawan barat memburu mereka bersama. Sexana diberitahu oleh salah satu delegasi FIFA dari Amerika Selatan bahwa AS telah mencoba menekan Amerika Latin. Seperti Asia dan Afrika yang secara solid memberikan dukungan pada Blatter, mereka menginginkan suara dari bangsa Amerika untuk Pangeran Ali. Mereka putus asa untuk membuat sang pangeran menjadi pemimpin FIFA sehingga dia dapat membuka kembali tawaran untuk turnamen 2018 dan 2022.

Sejak Inggris dan AS kehilangan masing-masing penawarannya, mereka telah mencoba bagaimanapun untuk menggagalkan Piala Dunia di Rusia dan Qatar. Mereka belum menerima fakta bahwa mereka kehilangan tawaran dalam kontes yang adil.

Pangeran Ali, yang merupakan Ketua dari Asosiasi Sepakbola Jordania dan Federasi Sepakbola Asia Barat, merupakan kandidat untuk melawan Blatter dari AS dan Inggris, yang diajukan untuk melaksanakan agenda mereka. AS, Inggris dan pimpinan UEFA telah dengan aktif melobi Panageran Ali untuk melawan Blatter selama berbulan-bulan. Sesuai dengan silsilahnya, bangsawan dari keturunan Hashemite di Yordania, Pangeran Ali merupakan antek yang mewakili kepentingan AS dan Inggris, salah satu pejabat Brasil memberitahu Saxena dalam sebuah wawancara.Keseluruhan skandal FIFA bukan mengenai korupsi atau martabat.

Seluruh urusan adalah tentang geopolitik dan mengelola dunia. Joseph Blatter dipaksa turun karena FIFA menolak untuk menggagalkan keputusannya untuk membolehkan Rusia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan untuk membuka kembali penawaran untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022. | Global Reseach |  Mahdi Darius Nazemroaya, Strategic Culture Foundation

back to top