Menu
Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi jangan jauhi pelakunya

Menag RI: Agama menolak LGBT, tapi …

Jogja-KoPi|Menteri Agam...

Gus Ipul akan perkuat pendidikan agama

Gus Ipul akan perkuat pendidikan ag…

Nganjuk-KoPi| Wakil Gub...

Menhub meminta PT KAI mengantisipasi bahaya longsor

Menhub meminta PT KAI mengantisipas…

Jogja-KoPi|Memasuki mus...

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah Kejuruan Industri

Kemenperin ajak siswa masuk Sekolah…

Jogja-KoPi|Kementerian ...

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari Komunikasi Interpersonal

Mahasiswa Sistem Informasi Pelajari…

Sleman-KoPi| Lulusan dari...

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untuk patroli di tutup tahun 2017

Polisi Yogyakarta gunakan kuda untu…

Jogja-KoPi|Kepolisian R...

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald Trump sebagai orang gila

Buya Syafi'i Ma'arif sebut Donald T…

Sleman-KoPi| Buya Ahmad...

Taiwan Higher Education Fair UMY tawarkan beasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Taiwan

Taiwan Higher Education Fair UMY ta…

Bantul-KoPi Universitas...

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota ciptakan Skema Pembiayaan Terintegrasi

Sekdaprov Jatim ajak Kab/Kota cipta…

Surabaya-KoPi| Sekdapro...

Mendikbub belum berlakukan UN model esai

Mendikbub belum berlakukan UN model…

Jogja-KoPi|Menteri Pend...

Prev Next

Ulil Abshar Abdalla dan Keimanan

Ulil Abshar Abdalla dan Keimanan

Kisah-kisah Islam, bagi sebagian orang adalah mitologi semata. Sesuatu yang sumbernya rumit untuk ditelusuri kebenarannya selain sebagai dongeng. Kaum Islam Liberal meyakini seperti itu. Setidaknya bila kita memperhatikan pendapat Ulil Abshar Abdalla tokoh JIL, anak menatu dari ulama, penyair yang digemari masyarakat Islam Indonesia, Gus Mus, tentang Al-Qur'an, misalnya -yang ia sebut sebagai 90% karangan manusia.

Namun, sebagian besar Muslim yang lain, kisah-kisah Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadist adalah kebenaran absolut. Sebagian meyakini dengan rasa keimanan dan sebagian lagi kombinasi antara keyakinan dan pembuktian akal sehat.

Peristiwa di bulan Oktober 2013 di Madinah, misalnya, adalah bukti-bukti baru yang disaksikan banyak orang tentang kisah para syuhada yang jasadnya tidak termakan oleh waktu dan tanah seperti dalam kisah Al-Qur'an dan hadist. Puluhan (70) jasad pahlawan perang Uhud mengapung utuh dan tetap berdarah dalam banjir. usia jasad mereka sekitar 1400 tahun. Peristiwa itu tentu sah saja dibantah oleh mereka yang tidak meyakini.

Perkara 'iman' tentu tak ada ruang untuk digugat oleh siapapun. Keimanan letaknya pada kesadaran naluriah untuk menerima sepenuhnya informasi gaib yang ia terima. Kesadaran naluriah itu kemudian bersenyawa dengan obsesi, hasrat dan ideologi politik yang berkembang dalam lingkungannya.

Dalam ruang kesadaran sosial yang plural, keimanan tempatnya adalah di ruang sempit yang personal. Ia membutuhkan perekat seperti toleransi untuk menjaga kehidupan di ruang sosial yang plural. Dalam parktik sosial-politik sepanjang sejarah manusia, parktik-praktik toleransi niscaya ada dan bersandingan dengan kebencian yang tersembunyi. Dalam tata kelola politik Islam di masa Muhammad saw, misalanya, kaum di luar Islam hidup berdampingan bersama keyakinan mayoritas yang ada.

Di masa kekaisaran Jengis Khan hingga Kublai Khan, Shamanisme Mongolia berdampingan dengan keyakinan lain yang beragam, dari Taoisme, Budda, Islam, Kristen dengan pelbagai sektenya. Demikian juga ketika kekuasaan Majapahit, masyarakat plural adalah mozaik kehidupan dalam masyarakat waktu itu. Dalam dunia modern yang muktahir, Eropa dan Amerika Serikat juga harus menyediakan ruang toleransi bagi agama minoritas seperti Islam. Bahwa kemudian ada upaya diskriminasi, semua itu tentu adalah kekhilafan dan bagian dari anomali politik.

Kita juga sadar, bahwa politik dibangun dari kesadaran iman dan ideologi personal. Bila di Amerika, negara yang dianggap paling demokratis dan liberal, mempraktikkan Macheviallisme untuk menghadang politik kekuasaan unsur selain agama mayoritas elit politiknya, tentu adalah wajar. Kritik kalangan inteleijen Amerika Serikat terhadap pidato Bob Berghdal yang memulai denga basmallah, misalnya, adalah keniscayaan dari resistensi keimanan dan politik juga.

Ulil Abshar Abdalla atau Denny JA dan Jaringan Islam Liberal serta Islam Nusantara, adalah fenomena yang berakar di mana ia harus berpihak pada lingkungan obsesi, hasrat dan ideologi politik personal berada. Demikian juga dengan HTI, Wahabi adalah fenomena yang sama. Keduanya sama sahnya dalam fenomena itu. Sama sahnya dalam pertarungan politik dan keimanan. Ia juga sama sahnya untuk hidup dalam toleransi.

back to top