Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Ulil Abshar Abdalla dan Keimanan

Ulil Abshar Abdalla dan Keimanan

Kisah-kisah Islam, bagi sebagian orang adalah mitologi semata. Sesuatu yang sumbernya rumit untuk ditelusuri kebenarannya selain sebagai dongeng. Kaum Islam Liberal meyakini seperti itu. Setidaknya bila kita memperhatikan pendapat Ulil Abshar Abdalla tokoh JIL, anak menatu dari ulama, penyair yang digemari masyarakat Islam Indonesia, Gus Mus, tentang Al-Qur'an, misalnya -yang ia sebut sebagai 90% karangan manusia.

Namun, sebagian besar Muslim yang lain, kisah-kisah Islam yang terdapat dalam Al-Qur'an dan Hadist adalah kebenaran absolut. Sebagian meyakini dengan rasa keimanan dan sebagian lagi kombinasi antara keyakinan dan pembuktian akal sehat.

Peristiwa di bulan Oktober 2013 di Madinah, misalnya, adalah bukti-bukti baru yang disaksikan banyak orang tentang kisah para syuhada yang jasadnya tidak termakan oleh waktu dan tanah seperti dalam kisah Al-Qur'an dan hadist. Puluhan (70) jasad pahlawan perang Uhud mengapung utuh dan tetap berdarah dalam banjir. usia jasad mereka sekitar 1400 tahun. Peristiwa itu tentu sah saja dibantah oleh mereka yang tidak meyakini.

Perkara 'iman' tentu tak ada ruang untuk digugat oleh siapapun. Keimanan letaknya pada kesadaran naluriah untuk menerima sepenuhnya informasi gaib yang ia terima. Kesadaran naluriah itu kemudian bersenyawa dengan obsesi, hasrat dan ideologi politik yang berkembang dalam lingkungannya.

Dalam ruang kesadaran sosial yang plural, keimanan tempatnya adalah di ruang sempit yang personal. Ia membutuhkan perekat seperti toleransi untuk menjaga kehidupan di ruang sosial yang plural. Dalam parktik sosial-politik sepanjang sejarah manusia, parktik-praktik toleransi niscaya ada dan bersandingan dengan kebencian yang tersembunyi. Dalam tata kelola politik Islam di masa Muhammad saw, misalanya, kaum di luar Islam hidup berdampingan bersama keyakinan mayoritas yang ada.

Di masa kekaisaran Jengis Khan hingga Kublai Khan, Shamanisme Mongolia berdampingan dengan keyakinan lain yang beragam, dari Taoisme, Budda, Islam, Kristen dengan pelbagai sektenya. Demikian juga ketika kekuasaan Majapahit, masyarakat plural adalah mozaik kehidupan dalam masyarakat waktu itu. Dalam dunia modern yang muktahir, Eropa dan Amerika Serikat juga harus menyediakan ruang toleransi bagi agama minoritas seperti Islam. Bahwa kemudian ada upaya diskriminasi, semua itu tentu adalah kekhilafan dan bagian dari anomali politik.

Kita juga sadar, bahwa politik dibangun dari kesadaran iman dan ideologi personal. Bila di Amerika, negara yang dianggap paling demokratis dan liberal, mempraktikkan Macheviallisme untuk menghadang politik kekuasaan unsur selain agama mayoritas elit politiknya, tentu adalah wajar. Kritik kalangan inteleijen Amerika Serikat terhadap pidato Bob Berghdal yang memulai denga basmallah, misalnya, adalah keniscayaan dari resistensi keimanan dan politik juga.

Ulil Abshar Abdalla atau Denny JA dan Jaringan Islam Liberal serta Islam Nusantara, adalah fenomena yang berakar di mana ia harus berpihak pada lingkungan obsesi, hasrat dan ideologi politik personal berada. Demikian juga dengan HTI, Wahabi adalah fenomena yang sama. Keduanya sama sahnya dalam fenomena itu. Sama sahnya dalam pertarungan politik dan keimanan. Ia juga sama sahnya untuk hidup dalam toleransi.

back to top