Menu
Narsisme Politik dan Arsitektur Kemerdekaan

Narsisme Politik dan Arsitektur Kem…

Dewasa ini, kita sering d...

Komunitas Kali Bersih Magelang: Merdekakan Sungai Dari Sampah

Komunitas Kali Bersih Magelang: Mer…

Magelang-KoPi| Komunitas ...

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap rakitan sendiri ke Kompetisi Internasional

Mahasiswa UGM ikutkan mobil balap r…

Sleman-KoPi|Tim Bimasakti...

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam Tan buat ketan merah putih 17 meter

Peringati HUT RI ke 72 Resto Madam …

Jogja-KoPi|Untuk memperin...

Daging Kurban Disembelih Tidak Benar, Hukumnya Haram

Daging Kurban Disembelih Tidak Bena…

YOGYAKARTA, 15 AGUSTUS 20...

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor SAR Yogyakarta

Serah Terima Jabatan Kepala Kantor …

YOGYAKARTA - Senin (14/08...

Penyadang disabilitas merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah

Penyadang disabilitas merasa diperl…

Sleman-KoPi| Organisasi P...

Organisasi Penyandang Difabel ajak masyarakat kawal PP penyandang Difabel

Organisasi Penyandang Difabel ajak …

Sleman-KoPi| Organisasi P...

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan Madrasah Diniyah dari Full Day School

PCNU Sleman gelar aksi selamatkan M…

Sleman-KoPi|Koalisi Masya...

Paket umrah 15-17 juta berpotensi tipu calon jemaah

Paket umrah 15-17 juta berpotensi t…

Jogja-KoPi|Kepala Kanwil ...

Prev Next

KH Fahmi Basya, Sulaiman dan Kemungkinan

KH Fahmi Basya, Sulaiman dan Kemungkinan

Sejarah adalah misteri ilahi. Aforisme yang entah dari mana berasal. Tetapi di dalam maknanya, saya melihat bahwa tidak ada kebenaran mutlak dalam sebuah cerita sejarah. Jejak sejarah seringkali hilang terselip dalam lubang misteri. Dan itu, selalu hanya diketahui oleh pelaku dan Tuhan. Sebab, catatan sejarah, terkadang, di baliknya adalah hasrat kekuasaan -yang semua itu, seringkali juga adalah manipulatif.

Ilmu sejarah, seperti halnya disiplin ilmu lain, tentu memiliki metodologinya untuk sampai pada sebuah kesimpulan sejarah. Dalam satu tradisi metodologi, selalu melibatkan cara dan instrumen agar sebuah hipotesa dapat dibuktikkan. Namun, apakah sebuah kesimpulan dari sebuah penemuan selalu memiliki kebenaran? Tidak! Kita akrab dengan berbagai kesimpulan benar salah dalam sebuah penemuan --terkoreksi. Sebab -ada bukti lain yang lebih kuat dari sebelumnya. Artinya, bahwa selalu ada kemungkinan baru, baik itu sebagai hal yang benar atau salah.

Klaim KH Fahmi Basya tentang Negeri Saba, Borobudur dan Raja Sulaiman adalah tentang fenomena itu. Tentang sebuah teori kemungkinan. Fahmi, saat ini sangat meyakini bahwa Borobudur adalah peninggalan Raja Sulaiman. Ia juga menyakini bahwa Negeri Saba adalah Indonesia. Atau tepatnya Jawa.

Keyakinan Fahmi tentu tidak datang begitu saja. KH Fahmi Basya adalah seorang sarjana matematika lulusan Universitas Havard Amerika Serikat yang tersohor. Ia, adalah saintis didikan Barat. Ia melakukan riset yang tertata dan bersistem sejak 1979 di Havard. Dan kesimpulan dari risetnya adalah Borobudur peninggalan Raja Sulaiman dan Negeri Saba berada di Jawa.

Klaim itu, pada mulanya, serupa guntur, mengejutkan sekaligus menyakitkan bagi kalangan tertentu. Dayanya, mampu mengguncang kemapanan logika sejarah masyarakat luas. KH Fahmi Basya, pada posisi ini, seolah menjadi sumber kegilaan masyarakat yang tidak bisa menerima atau bahkan yang menerima sekaligus. Mereka tertawa terpingkal-pingkal penuh kesinisan, dan secara bersamaan, berubah --menjadi ekspresi kemarahan seperti halnya terjadi pada orang-orang yang tidak menerima hasil temuan Copernicus dan Galileo pada tahun 1622 tentang entitas bumi dan matahari.

Dalam teori kemungkinan. Klaim Fahmi Basya, sekali lagi, bisa jadi benar. Tetapi, masalahnya, ia dituntut membuktikan dalam konteks yang lebih sahih dalam risetnya. Pendekatan teologi dan matematika, seperti yang ia lakukan, sementara ini, hanya mampu menjadi bentuk mitologi tanpa kesahihan sejarah.  Kecuali, Fahmi bisa menghubungkan pendekatan teologinya dengan sejarah. Lazimnya, orang hanya terbiasa dengan apa yang didengar pertama. ia menjadi impresi dan seringkali menolak kemungkinan lain.

Pendekatan teologi, seperti halnya Fahmi, selain mengaburkan pemahaman awam sejarah -ia juga berakibat dan melibatkan kesalahpahaman posisi Islam sendiri di mata penganut paham lain, sebagai upaya subversif terhadap klaim Borobudur. Meskipun, sesungguhnya, Sulaiman toh bukan semata mewakili Islam dalam konteks agama saat ini. Kisah Sulaiman berada dan bisa dilacak dalam semua kitab agama-agama samawi (Agama Wahyu). Artinya, Sulaiman tidak serta merta merepresentasikan Islam dalam konteks saat ini. Phobia terhadap Islamlah yang akhirnya juga menjadi salah satu aspek resistensi temuan KH Fahmi Basya.

Penggunaan teks Al-qur'an sebagai satu-satunya sumber beresiko hadirnya tuduhan subversif atas kemapanan klaim agama lain. Fahmi, mungkin, tidak sadar tentang hal ini. Disini, barangkali, bisa diperrtimbangkan oleh Fahmi sebuah riset pernbadingan dengan semua kitab agama yang ada.

Namun, di luar yang dianggap kelemahan itu, toh tetap saja kita harus memahami, bahwa kemungkinan adalah kebenaran itu sendiri. Klaim riset Fahmi, bagaimana pun adalah sisi pintu yang mungkin mampu membuka ruang misteri sejarah purba Indonesia. Seperti juga Profesor Aryoso De Santos yang menafsir Timaeus dan Critiasnya Plato, Benua Atlantis yang legendaris sebagai Indonesia. Sekali lagi, teori kemungkinan. Apa yang tidak mungkin di dunia ini?

 

Baca juga:

Mental pejuang tak lekang usia

TERPOPULER

 

back to top