Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Bravo,Tuan Presiden Jokowi

Bravo,Tuan Presiden Jokowi

Ini tentang Belanda dan Brasil yang menarik duta besar mereka dari Jakarta.

Sekitar 600 tahun lalu, pada abad 15 dan 16 Masehi, kita masih ingat bagaimana Kerajaan Belanda yang diwakili para pedagang (VOC) mendikte bangsa Indonesia. Para raja di Nusantara harus mengikuti semua apa yang diinginkan para pedagang yang direstui Kerajaan Belanda. Dari hak monopoli berdagang, menentukan apa yang ditanam petani hingga siapa yang boleh menduduki tahta sebagai raja atau sultan.

Bangsa kita tidak berdaya melawan kerajaan bekas jajahan Spanyol dan Perancis tersebut. Kekuatan Belanda meskipun tergolong terlemah diantara kekuatan bangsa eropa lain, tetapi sangat dominan di nusantara yang masih terpecah-pecah dalam kepentingan-kepentingan primodial dan kekuasaan raja-raja yang rakus. Kita bisa menghitung dengan mudah siapa raja yang berani melawan Belanda dan benar-benar prihatin atas nasib rakyatnya.

Mengapa bisa seperti itu?  Jawabnya sederhana. VOC atau Kerajaan Belanda kala itu tahu apa yang harus dilakukan. Membuat raja-raja di Indonesia tergantung pada mereka. Mereka, para raja kecil itu harus selalu berperang, baik diinginkan atau tidak dengan sesama bangsa sendiri.

Dalam kondisi krisis, baik moral maupun material, para raja itu mengemis bantuan pada Kompeni (VOC). Dengan bantuan itu, tentu dengan syarat-syarat tertentu, para raja yang berpikir untuk kepentingan mereka sendiri, akhirnya menjual harga diri bangsanya kepada bangsa asing.

Pola itu sama dengan kondisi Indonesia yang telah merdeka. Kita dibuat tergantung dan tak berdaya dengan hutang yang diberikan bangsa lain kepada kita. Dalam catatan Rizal Ramli, hutang Indonesia baik swasta dan pemerintah mencapai 2500 trilyun termasuk yang dibuat SBY sekitar 300-an trilyun rupiah. Bunga dan cicilan pokok mencapai 450 trilyun. Hutang itu dibayar dalam jangka panjang.

Itulah mengapa dalam UU 25 tahun 2007 tentang penanaman modal, disebutkan bahwa pihak modal swasta yang rata-rata pemiliknya adalah asing diberikan konsensi hingga 95 tahun. Ini hal luar biasa, mengingat di masa Raffles (Inggris) hanya 45 tahun dan masa Hindia Belanda hanya boleh selama 75 tahun.

Dengan beban hutang seperti itu, mereka tentunya luar biasa mendikte kita. Pak, harus seperti ini ya kalau buat regulasi. Pak, tolong dong, lahan kelapa sawit diperluas hak lahannya, masak cuma 30 persen. Kurang. Pak, dia aja yang jadi pemimpin dan seterusnya seperti itu. Namun, mungkin ini hanya kecurigaan yang berlebihan.

Tetapi, baiklah, tentu saja sebenarnya ini soal kedaulatan bangsa. Kita bicara soal kemandirian, independensi bangsa kita yang compang-camping atas bangsa lain melalui riwayat pilu kita. Dan tentang Belanda dan Brasil yang menarik duta besarnya dari Jakarta, tentu saja itu juga soal keinginan mereka mendikte bangsa Indonesia. Seberapa penting sih mereka bagi kita? Mereka, terutama Belanda, masih percaya bisa mendikte Indonesia.

Untungnya, Jokowi, Presiden kita -di luar apakah ia pemimpin yang benar-benar seperti yang diimpikan oleh masa lalu yang gagal atas sejarah buram kita --sangat pantas diapresiasi. Dicatat dalam sejarah baik kita. Ia punya sikap. Dan itu mewakili keinginan bangsa Indonesia. Setidaknya, apa yang dilakukan Jokowi membuat kita bangga. Sedikit. Tapi cukup melegakan. Setidaknya itu menunjukkan juga kita masih punya harga diri. Bravo, Tuan Presiden.

back to top