Menu
Teroris mencoba mengebom Masjidil Haram

Teroris mencoba mengebom Masjidil H…

Makkah-KoPi| Aksi teroris...

Segera daftarkan kompetisi usaha kreatif  SOPREMA sebelum tutup 9 Juli 2017

Segera daftarkan kompetisi usaha kr…

Jogja–KoPi| Ratusan peser...

Mosul segera akan dibebaskan dari cengkeraman ISIS

Mosul segera akan dibebaskan dari c…

Baghdad-KoPi| Pembebasan ...

Instagram desainer muslimah Jogja kena hack

Instagram desainer muslimah Jogja k…

Yogyakarta-KoPi | Akun me...

Basarnas minta masayarakat cepat hubungi lewat Call Center 115 bila ada masalah

Basarnas minta masayarakat cepat hu…

Bantul-KoPi|Plt Kepala Ba...

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI MILITER

KASAD SAFARI RAMADAHAN DI AKADEMI M…

Akmil – Kepala Staf Angka...

Basarnas siagakan anggotanya mengawal liburan Idul Fitri1438

Basarnas siagakan anggotanya mengaw…

Bantul-KoPi|Badan SAR Nas...

PLN janjikan tak ada pemadaman listrik selama lebaran di Jateng dan DIY

PLN janjikan tak ada pemadaman list…

Jogja-KoPI|PLN Jawa Tenga...

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsidi istrik

Inilah 5 alasan PLN mencabut subsid…

Jogja-KoPi| Audi Damal, M...

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 UMY

Wakil Rektor UMP jadi Doktor ke-40 …

Bantul-KoPi| Wakil Rektor...

Prev Next

Bravo,Tuan Presiden Jokowi

Bravo,Tuan Presiden Jokowi

Ini tentang Belanda dan Brasil yang menarik duta besar mereka dari Jakarta.

Sekitar 600 tahun lalu, pada abad 15 dan 16 Masehi, kita masih ingat bagaimana Kerajaan Belanda yang diwakili para pedagang (VOC) mendikte bangsa Indonesia. Para raja di Nusantara harus mengikuti semua apa yang diinginkan para pedagang yang direstui Kerajaan Belanda. Dari hak monopoli berdagang, menentukan apa yang ditanam petani hingga siapa yang boleh menduduki tahta sebagai raja atau sultan.

Bangsa kita tidak berdaya melawan kerajaan bekas jajahan Spanyol dan Perancis tersebut. Kekuatan Belanda meskipun tergolong terlemah diantara kekuatan bangsa eropa lain, tetapi sangat dominan di nusantara yang masih terpecah-pecah dalam kepentingan-kepentingan primodial dan kekuasaan raja-raja yang rakus. Kita bisa menghitung dengan mudah siapa raja yang berani melawan Belanda dan benar-benar prihatin atas nasib rakyatnya.

Mengapa bisa seperti itu?  Jawabnya sederhana. VOC atau Kerajaan Belanda kala itu tahu apa yang harus dilakukan. Membuat raja-raja di Indonesia tergantung pada mereka. Mereka, para raja kecil itu harus selalu berperang, baik diinginkan atau tidak dengan sesama bangsa sendiri.

Dalam kondisi krisis, baik moral maupun material, para raja itu mengemis bantuan pada Kompeni (VOC). Dengan bantuan itu, tentu dengan syarat-syarat tertentu, para raja yang berpikir untuk kepentingan mereka sendiri, akhirnya menjual harga diri bangsanya kepada bangsa asing.

Pola itu sama dengan kondisi Indonesia yang telah merdeka. Kita dibuat tergantung dan tak berdaya dengan hutang yang diberikan bangsa lain kepada kita. Dalam catatan Rizal Ramli, hutang Indonesia baik swasta dan pemerintah mencapai 2500 trilyun termasuk yang dibuat SBY sekitar 300-an trilyun rupiah. Bunga dan cicilan pokok mencapai 450 trilyun. Hutang itu dibayar dalam jangka panjang.

Itulah mengapa dalam UU 25 tahun 2007 tentang penanaman modal, disebutkan bahwa pihak modal swasta yang rata-rata pemiliknya adalah asing diberikan konsensi hingga 95 tahun. Ini hal luar biasa, mengingat di masa Raffles (Inggris) hanya 45 tahun dan masa Hindia Belanda hanya boleh selama 75 tahun.

Dengan beban hutang seperti itu, mereka tentunya luar biasa mendikte kita. Pak, harus seperti ini ya kalau buat regulasi. Pak, tolong dong, lahan kelapa sawit diperluas hak lahannya, masak cuma 30 persen. Kurang. Pak, dia aja yang jadi pemimpin dan seterusnya seperti itu. Namun, mungkin ini hanya kecurigaan yang berlebihan.

Tetapi, baiklah, tentu saja sebenarnya ini soal kedaulatan bangsa. Kita bicara soal kemandirian, independensi bangsa kita yang compang-camping atas bangsa lain melalui riwayat pilu kita. Dan tentang Belanda dan Brasil yang menarik duta besarnya dari Jakarta, tentu saja itu juga soal keinginan mereka mendikte bangsa Indonesia. Seberapa penting sih mereka bagi kita? Mereka, terutama Belanda, masih percaya bisa mendikte Indonesia.

Untungnya, Jokowi, Presiden kita -di luar apakah ia pemimpin yang benar-benar seperti yang diimpikan oleh masa lalu yang gagal atas sejarah buram kita --sangat pantas diapresiasi. Dicatat dalam sejarah baik kita. Ia punya sikap. Dan itu mewakili keinginan bangsa Indonesia. Setidaknya, apa yang dilakukan Jokowi membuat kita bangga. Sedikit. Tapi cukup melegakan. Setidaknya itu menunjukkan juga kita masih punya harga diri. Bravo, Tuan Presiden.

back to top