Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Keminggris dan Arabis

Keminggris dan Arabis

 


Oleh: Rio F. Rachman


"Pahamilah bahasa suatu kaum dan kamu tak akan pernah tertipu oleh mereka" (Ali bin Abi Thalib)

Orang yang bisa berbahasa asing akan luput dari kesulitan saat berkunjung ke daerah asing yang dimaksud. Kemungkinan salah paham menipis. Keuntungan dari kunjungan maupun hubungan dengan orang-orang di daerah itu dapat dimaksimalkan.

Bayangkan jika para ilmuwan, ulama, atau cerdik-cendikia tidak sanggup memahami bahasa luar negeri. Ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia menjadi mandeg. Sebab, ada banyak pelajaran atau wawasan yang rujukannya adalah orang-orang atau buku-buku berbahasa Inggris, Arab, Mandarin, dan lain sebagainya.
   
Apalagi, tidak sedikit pula kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa asing. Maklum, bahasa Indonesia tergolong masih muda dibandingkan banyak bahasa dari negara maju.
   
Misalnya, akhir, wajib, bakhil, ilmu, nafas, dan berkah yang berasal dari Arab. Atau akomodasi (accomodation), aktor (actor), nuklir (nuclear), nasional (national), dan musik (music), yang berasal dari Inggris. Juga, bakso, pangsit, pisau (bishou), dan Mangkok yang berasal dari Tiongkok. Seperti pula akur (akkoord), plakat (plakkaat), aparatur (apparatuur), dan klakson (claxonneren) yang bersumber dari Belanda.
   
Yang jadi problem adalah jika upaya belajar bahasa asing itu melahirkan virus latah atau sekadar ikut-ikutan. Ini bisa menjadi persoalan serius jika kelatahan berbahasa asing itu ternyata hanya setengah-setengah digunakan. Karena setengah-setengah, berarti separuhnya adalah berbahasa Indonesia.
   
Tak hanya soal tata bahasa, pencampuran yang hanya sepotong-sepotong justru mengesankan pembicara sedang kebingungan. Sebagai contoh, saat orang berkata, "Kami sudah melakukan effort (usaha) semaksimal mungkin". Kalimat ini berkesan bahwa orang yang keinggris-inggrisan (keminggris) tersebut lupa bahasa Indonesia-nya effort. Hingga akhirnya yang bersangkutan memutuskan untuk mencomot kata dalam bahasa Inggris saja.
   
Kalau pun ada kesan lain, yang paling terlihat adalah keinginan tampak lebih keren atau pandai. Dengan paham bahasa asing, dia merasa lebih keren atau modern dari orang lain. Kejadian ini tak jarang muncul. Para pesohor beberapa kali melakukannya di depan sorot kamera layar kaca. Lantas, ditiru oleh orang-orang biasa di tengah masyarakat.
   
Dalam beberapa kasus, ada pula orang-orang yang membiasakan diri memakai beberapa kata bahasa asing saja. Misalnya, saat menggunakan bahasa seperti Ana (saya), Antum (kamu jamak), Khoir atau Toyib (baik), akhi (sebutan bagi laki-laki), ukhti (sebutan untuk perempuan) dan beberapa gelintir kata lainnya.
   
Mungkin maksud mereka melakukan penggunaan bahasa Arab sepotong-sepotong itu adalah agar terkesan religius. Padahal menurut sejarah, orang-orang yang tidak religius sama sekali seumpama Abu Jahal dan Abu Lahab (para musuh Nabi Muhammad), juga menggunakan kata-kata dalam bahasa Arab. Sejatinya, tidak ada korelasi antara bahasa suatu bangsa dan religiusitas. Jadi, kalau memang tujuannya adalah untuk terlihat agamis, berarti telah terjadi bias pada upaya tersebut.
  
Sementara itu, jika maksud mereka yang keminggris dan kearab-araban (arabis) itu adalah pamer kemampuan berbahasa asing, tentu lebih baik menunjukkannya melalui tulisan atau debat terbuka. Bukan dalam percakapan sehari-hari yang malah potensial menimbulkan beragam kesan negatif seperti tersebut di atas.
   
Dari pada mencampuradukan bahasa secara serampangan dengan maksud atau tujuan yang tidak jelas manfaatnya, lebih baik gunakan saja bahasa Indonesia yang baik dan benar. Atau paling tidak, pakai saja bahasa daerah masing-masing. Senang atau bangga dengan bahasa Indonesia atau bahasa daerah merupakan salah satu wujud cinta pada kultur sendiri.
   
Seharusnya orang Indonesia malu melakukan campur aduk bahasa. Sebab, tindakan itu dapat menciderai bahasa sendiri. Bahasa Indonesia sepantasnya disakralkan. Selain menjadi bahasa persatuan, bahasa ini juga sudah membantu kegiatan sosial, politik, kebudayaan, dan ekonomi di internal nusantara.
   
Bahasa adalah kebanggaan sekaligus perjuangan. Ini adalah inspirasi yang kemudian turut mencetuskan ide dan naskah sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928. Bahasa Indonesia sudah bukan lagi alat atau identitas. Lebih dari itu, ini adalah jatidiri atau martabat.
   
Harus diakui, dalam perkembangannya, bahasa Indonesia perlu menyerap kata-kata dari luar negeri. Namun, bukan berarti orang Indonesia bisa secara serampangan menyerap atau menelannya mentah-mentah. Apalagi, sepotong-sepotong dan diaduk-aduk sembarangan dengan beragam tujuan dan kesan yang tidak positif.
 
Upaya-upaya untuk menyerap ilmu dari luar adalah ikhtiar mengembangkan potensi atau kemampuan diri. Namun, langkah selanjutnya bukanlah menenggak semua itu bulat-bulat. Melainkan berusaha agar ilmu yang baru didapat bisa memperkaya wawasan. Bukan justru melunturkan apa yang sudah ada.--//

 

back to top