Menu
Bupati dan Walikota Harus Mengacu dengan Visi Misi Presiden

Bupati dan Walikota Harus Mengacu d…

Surabaya-KoPi| Bupati dan...

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis Soprema 2018 untuk Sociopreneur Muda dari 16 Provinsi Indonesia

FISIPOL UGM Gelar Inkubasi Bisnis S…

Jogja-KoPi| Rangkaian gel...

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi Bisa Dilatih

Kreatifitas Itu Bukan Bawaan, Tapi …

Jogja-KoPi| Pakar Manajem...

Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Prev Next

Karnaval di Madura dalam krisis nalar

Karnaval di Madura dalam krisis nalar

Kejadian yang menggemparkan tentang gambar palu arit di acara karnaval kemerdekaan di Madura memicu munculnya polemik berkepanjangan. Bahkan, sejumlah elite lokal setempat turut berkomentar. Sayang, apa yang disajikannya di banyak media terlalu normatif.

Padahal, fenomena kontroversial itu bisa dibaca dari banyak perspektif. Sehingga, menguatkan arena pengetahuan dalam batas-batas akademik. Alasan saya sederhana. Karena Pamekasan, tempat kejadian perkara itu, dikenal sebagai lumbungnya pendidikan. Pamekasan memiliki sekolah unggulan dan kampus (swasta dan negeri) ternama.

Hanya di Pamekasan juga terdapat bakorwil (badan koordinasi wilayah) yang merupakan representasi dari koordinasi tingkat provinsi. Orang-orang yang ada di dalamnya juga memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni, meski sebagian besar penunjukkannya bersifat politis.

Bahkan, tidak sedikit intelektual nasional 'lahir' dan menimba ilmu di sana. Mulai dari Moh. Tabrani yang menginisasi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan pada sumpah pemuda, Prof. Didik J. Rachbini seorang ekonom ternama, Dr. Latief Wiyata sang antroplog Madura, Prof. Mien Rifai dari LIPI dan Dikti yang pernah studi di Inggris, hingga mantan Ketua MK, Prof. Mahfud M.D. Masih banyak nama lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu di sini.

Dengan begitu, idealnya Pamekasan pada khususnya dapat menebarkan wacana keilmuwan yang lebih bernas dan bertumpu pada akal sehat. Meskipun di Madura pada umumnya tergolong kental aroma religiusnya, urusan nalar juga tidak lantas ditumpulkan begitu saja. Karena itu juga bagian dari nilai teologis.

Tetapi, kasus palu arit yang dibawa oleh siswa menengah di sana justru tidak menggugah cara berpikir yang reflektif, filosofis, historis, dan sosiologis. Sehingga, gambar yang dipertontonkan dianggap barang haram yang harus segera dimusnahkan dengan cara kekerasan.

Saya tidak akan mempersoalkan tentang posisi keharaman, kebiadaban atau tidaknya. Ini terkait dengan produksi makna yang sedang disebarkan dan dipertunjukkan di ruang publik. Dari pengeras suara yang diperdengarkan bahwa kelompok yang beratribut palu arit dianggap pemberontak terhadap legal formal kekuasaan.

Anehnya, arak-arakan di belakangnya yang juga mengusung tema sejarah rezim orde baru justru tidak menyajikan tentang praktik kelamnya. Jadi, ada wacana yang tidak berimbang, bahkan cenderung dominatif dan hegemonik di sini.

Saya sempat bertanya kepada salah satu siswa yang terlibat di acara karnaval itu tentang pengetahuannya mengenai lintasan kedua sejarah yang ditampilkan. Ternyata, mereka tidak paham betul. Bahkan, atas pertanyaan itu saya justru dituduh macam-macam yang sangat stigmatik.

Kalau dirujuk dalam alam kesadaran masyarakat Madura, apapun yang bersifat stigmatik sering dilawan karena menyinggung harga diri keluarga dan budayanya. Kalau orang Madura dilabeli sebagai penyuka carok, mereka beramai-ramai mencoba menandingi wacana yang demikian.

Namun, stigmatik yang dilekatkan pada seseorang yang bersikap skeptis dan kritis justru bertolak belakang dengan semangat orang Madura yang berjuang melawan bentuk stigma budaya yang terlanjur melekat di masyarakat luar.

Jika itu ditarik ke dalam tema identitas, maka urusannya bukan lagi keotentikan dan kemenetapan. Karena identitas itu secara kajian kultural tidak pernah utuh dan bersifat cair. Sehingga, identitas yang dibangun dalam diri seseorang adalah hasil percampuran dan persilangan.

Misalnya, apakah orang Madura yang memakai sarung adalah khas dari budaya mereka ? Ataukah clurit adalah bagian dari budaya Madura ? Ternyata tidak demikian adanya. Sangat lucu jika orang luar Madura yang berdagang clurit di pasar lantas diklaim sebagai orang Madura asli.

Tidak hanya itu. Ketika media massa belum ramai memberitakan kehebohan karnaval pamekasan, di status facebook saya sudah memberi penjelasan analisanya dari sudut pandang kajian budaya dan media terkait tontonan palu arit tersebut.

Dalam pandangan fenomenologis, wacana pengetahuan yang diberitakan di media massa melalui sudut pandang elit lokalnya justru meniadakan kehadiran yang mendalam terhadap dunia kehidupan di lingkungan sekitar. Karena, ada keterputusan jarak antara cara pandang dan realitas sosial yang tengah dipersoalkan.
Menurut orang Madura, wacana itu ibarat menabuh gendang sebelah tangan (nabbu gendhang salajeh). Sehingga, suara yang terdengar sangat sumir, mengganggu, dan tak bisa dinikmati.

Di sanalah sebenarnya akar persoalannya. Madura tengah mengidap krisis ilmu pengetahuan. Sehingga, mudah menerima begitu saja propaganda politik yang sebetulnya bertujuan mengakumulasi kapital simbolik dalam bentuk mensubversi pikiran masyarakat awam agar terjadi penundukan total. Padahal, kedudukan nalar dan pikiran itu sangat terhormat bagi mereka yang merasa dirinya manusia, karena di setiap materi pelajaran di sekolah, posisi akal adalah bagian dari keberadaan dan pengakuan manusia.

Tetapi, di tangan kekuasaan, termasuk anak muda yang tergoda masuk dalam lingkaran 'istana' Madura dengan alasan apapun, pada akhirnya akan mengubur ide-ide yang kritis dan transformatif yang senyatanya sangat berguna bagi kemajuan madura di masa depan. Minimal, kondisi demikian adalah persyaratan untuk mengelola konflik dan kekerasan yang bisa berujung pada ternodanya martabat kedaerahan dan pemerintah setempat.

Saya orang Madura, lahir dan dibesarkan di sana. Sebagai orang Madura, budaya menghormati orang tua, guru dan pemerintah menjadi bagian tersendiri dalam dinamika identitas saya. Tetapi, dalam urusan ketidakadilan, apalagi dengan sadar dilakukan demi kepentingan politik praktis dan pencitraan, maka budaya yang saya anggap bernilai itu perlu dipertanyakan ulang. Karena ini berpotensi mengaburkan nilai kemanusiaan dan menjadikan 'yang lain' sebagai kambing hitam atau objek kekuasaan.

Saya memang tergolong muda, bahkan masih dianggap anak muda di sekitar orang tua Madura. Tetapi, sejenak saya terkesan dengan kata-kata Mendiknas kita, Anies Baswedan bahwa: "Anak muda memang minim pengalaman. Karena itu, mereka tidak menawarkan masa lalu, melainkan masa depan."

Semoga semua bisa berbenah dan membuka ruang publik untuk membangun pengetahuan yang diskursif untuk mengatasi krisis nalar di Madura. Bisakah terjuwud? Entahlah.

 

back to top