Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Islam dalam paranoid Barat

sumber gambar: s627.photobucket.com/alfan919 sumber gambar: s627.photobucket.com/alfan919

Telah dimahfumi seperti ini, jika tidak semua teroris adalah Bangsa Arab dan Muslim, tetapi, sebagian besar teroris adalah Bangsa Arab dan Muslim. Apakah ini benar atau hanyalah mitos lainnya? Sebuah pengamatan empiris terhadap data yang dikumpulkan di AS dan Eropa akan membantu menjawab pertanyaan tersebut.


Oleh: Mahdi Darius Zazemroaya, Strategic Culture Foundation


Gagasan bahwa sebagian besar serangan teroris yang dilakukan oleh orang-orang Arab dan Muslim tidak hanya memiliki perspektif sejarah, namun merupakan sebuah argumen tidak empiris yang terkait dengan orientalisme modern yang masih hidup dan menendang. Orientalisme sendiri sangat terkait dengan pandangan AS terhadap eksepsionalisme. Hal tersebut merupakan suatu area berpikir di mana pandangan eksepsionalis dan rasis amat berhimpitan. Faktanya, ada sebuah garis tipis diantara ketiganya.

Dalam cara berpikir linear dan geo-etnosentris yang telah usang, masyarakat apapun yang berlokasi di timur, serta selatan dari AS, Kanada, dan Eropa Barat – terutama Perancis, Inggris, dan negara berbahasa Jerman – dipandang kekurangan dan rendah. Di Eropa, ini berarti setiap orang di timur Jerman baik secara diam-diam maupun terang-terangan digambarkan terbelakang secara budaya. Ini berarti Negara Balkan, masyarakat Slavia, Albania, Yunani, Turki, Rumania, Kristen Ortodoks, dan republik-republik bekas Soviet.

Dalam pemikiran orientalis AS, bahkan lebih rendah pada tiang totem yang non-Eropa. Ini berarti orang-orang Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Karibia.Seperti perilaku eksepsionalis, pandangan orientalis penting untuk mendukung kebijakan luar negeri Washington dan perang sebagai sebuah perusahaan yang mulia. Sikap orientalis AS melihat dunia, dari Meksiko ke Irak dan Rusia, yang membutuhkan bimbingan dan layanan AS. Ini merupakan rekonstruksi atas apa yang disebut ‘beban orang kulit putih’ yang digunakan untuk membenarkan kolonialisasi orang yang dianggap sebagai non-kulit-putih.

Hubungan antara Terorisme, Arab, dan Muslim

Arab dan Muslim merupakan tambang utama orientalisme AS. Entah secara tersirat atau terang-terangan, baik orang Arab maupun Muslim digambarkan sebagai subyek tidak beradab. Terorisme sangat terkait dengan citra orang Arab dan Muslim dalam pikiran banyak warga AS dan inilah mengapa hal secara salah dipercaya bahwa sebagian besar teroris adalah orang Arab dan Muslim.

Untuk berbagai tingkatan, setiap seorang Muslim atau etnis Arab melakukan tindakan kriminal dalam apa yang disebut masyarakat Barat seperti Kanada dan AS, penilaian yang dibuat baik secara tersirat maupun secara terbuka terkena penilaian terhadap seluruh orang Muslim dan Arab secara kolektif. Latarbelakang orang Arab dan Muslim dari indivdu-individu digunaka untuk menjelaskan kejahatan mereka. kejahatan individual Arab dan Muslim tidak disajikan secara eksklusif sebagai kejahatan individual, melainka sebagai kejahatan kolektif gagasan ini mengabaikan fakta bahwa Muslim mrupakan korban terbesar terorisme.   

Tujuh dari sepuluh negara yang terkena serangan teroris yang mayoritas Muslim, menurut Institut Ekonomi yang bermarkas di Australia dan Indeks Terorisme Global tahun 2014 milik Peace, yang didasarkan pada meta-analisis database Terorisme Global Universitas Maryland. Menggunakan nilai maksimal untuk sepuluh dan nilai minimal nol, seluruh masyarakat internasional memiliki peringkat secara sistematis. Meskipun definisi insiden teroris di Database Terorisme Global Universitas Maryland tentu saja dapat diperdebatkan, kesimpulan penting dapat dibuat dari kumpulan data dan Institut Ekonomi dan indeks Terorisme Global milik Peace.

Beberapa fitur kunci dapat diperhatikan, jika pembaca melihat pada sifat alami dan identitas para pelaku yang diklasifikasikan sebagai pelaku terorisme di antara tiga puluh negara teratas dalam indeks Terorisme Global tahun 2014. Fitur pertama adalah bahwa kekerasan yang dihasilkan dari yang dianggap kelompok teroris berada dalam kerangka pemberontakandan perang saudara yang umumnya disamakan dengan aksi terorisme. Misalnya, ini merupakan kasus untuk negara-negara seperti Somalia, Filipina, Thailand, Kolombia, Turki, Mali, Kongo, dan Nepal, yang masing-masing berperingkat ketujuh, kesembilan, kesepuluh, keenam belas, ketujuh belas, kedua puluh dua, dan kedua puluh empat. Di bawah pemeriksaan lebih dekat, beberapa pemberontakan tersebut dapat dikaitkan dengan persaingan kekuasaan oleh AS dan sekutunya. Hal ini menjadi jelas ketika banyak pengamatan dibuat.

Fitur kedua adalah bahwa sebagian besar kasus terorisme di negara-negara yang terindeks, terutama yang lebih tinggi peringkatnya, mereka berada di dalam daftar, terhubung dengan gangguan Washington secara langsung maupun tidak langsung dalam urusan mereka. Sebagai contoh, ini merupakan kasus dari Irak, Afganistan di bawah NATO, Pakistan, Suriah, Somalia, Yaman, Rusia, Libanon, Libya, Kongo, Sudan, Sudan Selatan, Tiongkok, dan Iran, yang masing-masing menduduki peringkat satu, pertama, kedua, ketiga, kelima, ketujuh, kedelapan, kesebelas, keempat belas, kelima belas, kedelapan belas, kesembilan belas, kedua puluh, kedua puluh lima, dan kedua puluh delapan. Perang yang dipimpin AS, campur tangan Pentagon, kudeta yang didukung AS, atau dukungan pemerintah AS untuk apa yang disebut ‘oposisi’ kelompok atau proxy rezim yang semuanya telah menjadi dasar bagi penderitaan terorisme di negara-negara tersebut. Dari negara-negara di atas, menurut Indeks Terorisme Global, 82% kematian global yang ditugaskan untuk aksi terorisme terjadi di Afganistan, Iraq, Pakistan, Suriah, dan Nigeria. Hubungan kebijakan luar negeri AS harus jelas.

Tidak Semua Arab/Muslim adalah Teroris, namun Sebagian Besarnya adalah Orang Arab/Muslim?

Telah dinyatakan bahwa jika seluruh teroris bukanlah orang Arab atau Muslim, namun sebagian besar teroris adalah orang Arab atau Muslim. Apakah ini benar atau hanyalah isapan jempol semata? Sebuah penelitian empiris terhadap data yang dikumpulkan di AS dan Eropa akan membantu menjawab pertanyaan tersebut.

Di AS yang menempati peringkat ketiga puluh di Indeks Terorisme Global tahun 2014, mayoritas terorisme bukanlah Muslim dan non-muslim menurut FBI. Di dalam AS, 6% kasus terorisme dan teroris – dengan kata lain, sebagian besar – tidak berkaitan dengan Arab, Muslim, atau Islam.

Sementara metodologi FBI dalam apa itu serangan teroris dan apa yang bukan merupakan serangan teroris dipertanyakan, itu akan diterima demi argumen. Menurut laporan FBI yang sama, sebenarnya ada lebih banyak serangan teroris yang diluncurkan oleh orang Yahudi sejak 1980-2005 di AS. Data FBI yang sama dikumpulkan oleh Universitas Princeton dalam sebuah grafik yang menggambarkan rincian kasus serangan teroris di wilayah AS tahun 1980-2005 sebagai berikut: 42% terorisme Hispanik, 24% kelompok terorisme ekstrimis sayap kiri, 16% jenis lain terorisme yang tidak cocok dengan kategori utama lainnya, 7% teroris Yahudi, 6% teroris Muslim, dan 5% teroris Komunis.

Sementara teroris Muslim terdiri dari 6% serangan di wilayah AS dari 1980-2005, teroris Yahudi dan teroris hispanik masing-masing terdiri dari 7% dan 42% dari serangan teroris di AS dalam periode yang sama. Namun, bagaimanapun, tidak ada ketakutan terhadap orang yahudi dan hispanik. Media dan fokus pemerintah yang sama tidak diberikan pada mereka seperti diberikan pada etnis Arab dan Muslim.

Pola yang sama terulang di Uni Eropa. Dilansir dair loonwatch.com bahwa juga dikumpulkan data dalam terorisme di Uni Eropa dari laporan Europol dari tahun 2007, 2008, dan 2009 dalam laporan tahunan Situasi dan Tren Terorisme Uni Eropa. Data lebih lanjut jarak Muslim terhadap aksi teroris. 99,6% dari serangan teroris di Uni Eropa dilakukan oleh non-muslim. Jumlah kegagalan, digagalkan, atau kesuksesan serangan teroris oleh kelompok separatis adalah 1.352 serangan, yang setara dengan 85% total insiden teroris di Uni Eropa.

Menurut Europol, jumlah kegagalan, digagalkan, atau kesuksesan serangan teroris oleh yang disebut kelompok sayap kiri sebanyak 104 sementara 52 serangan lainnya dikategorikans sebagai tidak terspesifikasi. Dalam periode yang sama, dua serangan dilakukan oleh yang disebut kelompok sayap kanan oleh Europol.

Ada perbedaan besar dalam siapa yang menyebabkan dan melakukan terorisme dan siapa yang menjadi korban dan disalahkan untuk hal tersebut. Meskipun fakta luar biasa, setiap kali orang-orang Arab atau Muslim melakukan kejahatan dan aksi terorisme, mereka akan difokuskan sedangkan non-Arab dan non-Muslim diabaikan.

Jika diakui bahwa Muslim merupakan korban terbesar terorisme, orientalisme masih mengelola untuk mengatur beberapa rasa bersalah untuk para korban terorisme dengan secara tersirat menggambarkan mereka sebagai anggota komunitas buas atau masyarakat yang sangat rentan menghadapi akhir kekerasan seperti hewan di hutan.

Citra dan Imperium

Ilusi sedang berjalan di dunia. Kebenaran telah berubah di atas kepalanya. Para korban digambarkan sebagai pelaku.

Apakah dinyatakan secara lugas, tersirat, atau tidak disebutkan, gagasan orang Arab dan Muslim sebagai teroris biadab dan bermain di citra yang disebut sebagai Dunia Barat yang mewujudkan kesetaraan, kebebasan, plihan, peradaban, toleransi, kemajuan, dan modernitas sedangkan yang disebut Dunia Arab-Muslim di bawah permukaannya merupakan ketidaksetaraan, pembatasan, tirani, kurangnya pilihan, kebiadaban, intoleransi, keterbelakangan, dan primitif.

Citra ini benar-benar berfungsi untuk mendepolitisasi sifat politik ketegangan. Ini membersihkan tindakan Imperium, dari diplomasi koersif dengan Iran dan dukungan untuk perubahan rezim di Suriahuntuk invasi ke Afganistan dan Iraq dan intervensi militer AS di Somalia, Yaman, dan Libya. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, dalam berbagai derajat, perncitraan ini meluas ke tempat lain yang dilihat oleh orientalis AS sebagai tempat non-Barat seperti Rusia dan Tiongkok.

Pada akarnya, citra ini benar-benar bagian dari wacanan yang menopang sistem kekuasaan yang memungkinkan kekuatan untuk dipraktekkan oleh sebuah imperium atas ‘luar’ dan terhadap warga negaranya sendiri. Ini karena kebijakan luar negeri AS dan kepentingan ekonomi bahwa orang Arab dan Muslim digambarkan secara tidak empiris sebagai teroris sedangkan data nyata menunjukkan bahwa intervensi AS membuat terorisme diabaikan.

Inilah mengapa ada fiksasi pada serangan di Parliament Hill di Kanada, sandra krisis di Martin Place Sydney, dan serangan Charlie Hebdo di Paris. Namun dukungan pemerintah AS, Kanada, Australia, dan Perancis untuk terorisme yang menelam biaya puluhan ribu jiwa di Suriah diabaikan. |Global Research | 

back to top