Menu
Raih Doktor Usai Meneliti Transformasi Budaya Organisasi Perguruan Tinggi

Raih Doktor Usai Meneliti Transform…

Jogja-KoPi| Transformasi ...

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Prev Next

Ilusi Efek Jokowi

Ilusi Efek Jokowi

Oleh:Ferry Ferdiansyah

Era keterbukaan saat ini, sangat jelas mengiginkan demokrasi berjalan dengan baik yang ditandai rakyat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam setiap proses demokrasi. Kemajuan proses reformasi dan demokratisasi ini lah yang menjadikan Indonesia dipandang dunia sebagai model negara demokrasi yang baik, mengingat Indonesia baru merasakan demokrasi sesungguhnya setelah Reformasi 1998, sebelumnya masih berada di bawah kekuatan militer.

Tidak mengherankan ditahun politik, situasi seperti ini dimanfaatkan secara maksimal oleh publik, bukan hanya sebatas menyampaikan aspirasinya, tetapi menilai dan mengeritik kinerja calon wakil rakyat yang akan menduduki gedung DPR. Untuk itu di era keterbukaan saat ini calon pemilih lebih menentukan pilihannya cenderung di lihat dari sisi kualitas calon ketimbang janji-janji manis yang dilontarkan dimasa kampanye. Sudah menjadi kewajiban bagi calon legislatif maupun mereka yang akan maju menggantikan tongkat estafet kepemimpinan SBY memiliki kemampuan, serta prestasi dirinya yang dapat diapresiasikan kepada publik baik itu prestasi dari dalam maupun luar negeri. Selain memiliki jiwa leadership yang mampu mengayomi, mampu memberikan kenyamanan dan kepastian bagi rakyat, serta selalu melakukan hal terbaik bagi orang-orang di bawahnya.

 

Begitu pemilihan legislatif berlalu, Quick Count Pemilu 2014 atau hitung cepat Pemilu 2014 Pileg Legislatif 9 April oleh berbagai lembaga survey menunjukkan Partai yang mengusung Jokowi sebagai presiden mendulang suara terbanyak 19,00%. Kemenangan ini diikuti oleh Partai Golkar dengan 14,30%. Selanjutnya berturut-turut peringkat berikutnya adalah Partai Gerindra (11,80%), Demokrat  (PD) (9,60%), dan PKB (9,20%). Meski PDIP di pemilu kali ini meraih suara terbanyak, namun keberhasilan ini tidak seperti bayangan sebagian besar kalangan mengingat Jokowi unggul pada sejumlah survei selama ini. Efek ini menyebabkan berbagai media menyoroti gagalnya Jokowi Effect mendongkrak perolehan suara PDIP.

 

Kegagalan pencapaian dari taget dapat dipastikan berawal dari ketidakmampuan mesin politik PDIP dalam memposisikan Gubernur DKI sebagai magnet elektoral yang seharusnya dimanfaatkan semaksimal mungkin dalam komunikasi politik partai dengan publik. Mengingat posisi strategi yang dimilikinya sebagai pejabat yang identik dengan blusukan. Seperti diketahui target awal partai berlambang banteng dengan moncong putihnya ini adalah 27%.

 

Secara tidak langsung fakta ini menunjukan gembar-gembor dengan mengusung Jokowi sebagai Presiden diperkirakan suara PDIP pada Pemilihan Legislatif akan melonjak signifikan pencalonan. Namun, teori tersebut terpatahkan dengan adanya kenyataan pengangkatan mantan Walikota Solo sebagai calon presiden 2014 dari PDI Perjuangan ternyata tak mampu untuk mengangkat citra partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu. Nyatanya, meski unggul dari partai lain. Dari data sementara quick count dan exit poll yang ada suara PDIP belum begitu mencolok  suara PDIP hanya dikisaran 19 %.

 

Keberadaan lembaga survey yang sebelumnya turut memanas-manasi di masa kampanye, pada akhirnya tak terbukti. Sebelumnya berbagai lembaga survey terus merilis hasil temuannya yang menganggap PDIP merupakan pilihan masyarakat dan pencalonan Jokowi akan membawa kebaikan bagi PDIP, karena partai ini diramalkan akan meraih kemenangan telak pada Pemilihan legislatif dengan hasil dikisaran angka di atas 30%. Namun, begitu penghitungan cepat dimulai apa yang diramalkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Meski partai yang dikenal dengan slogan wong cilik ini meraih kemenagan, tetap saja PDIP hanya mampu meraih suara 19%. Hasil ini menunjukan perkiraan hasil survey sebelum Jokowi resmi dideklarasikan menjadi capres PDIP.
Bukan sebatas penekanan harapan yang diberikan lembaga survey terhadap PDIP. Upaya memberikan ramalan terhadap partai-partai yang berbasis ideologi Islam yang sebelumnya diperkirakan ditenggelamkan oleh ketokohan Jokowi, justru meraih hasil yang menggembirakan adanya pencalonan Jokowi dengan kenaikan perolehan suara signifikan. Realitas ini sekaligus menunjukan lembaga survey tak mampu memberikan hasil dengan apa yang publik inginkan.

 

Jika kita boleh jujur dari hasil yang dicapai dipileg, keberadaan Jokowi tak memberi efek positif  untuk meraup dukungan publik, fakta ini sekaligus menunjukan berbanding terbalik dengan pencapaian hasil Prabowo Effect yang secara kasat mata hasilnya terlihat jauh lebih baik dibanding Jokowi Effect, dimana Gerindra yang pada pemilu 2009 meraih 4,46% secara nasional, saat ini menurut quick qount menempatai urutan ke tiga dengan meraih suara di kisaran 11 – 12 %.

 

Kepiawaian Gerinda yang menjadikan ketua umumnya sebagai mesin politik ternyata membuahkan hasil. Apa lagi selama ini partai berlambang Garuda Emas ini dengan lantang meneriakan arti sebuah kepemimpinan dan amanah. Kelemahan PDIP yang menjadikan Jokowi yang nota bene adalah pemimpin Jakarta, dijadikan ajian pamungkas bagi Prabowo dalam berkampanye. Seperti diberitakan berbagai media, menjelang akhir kampanye, terjadi  pergeseran persepsi masyarakat terhadap sosok Jokowi. Mantan Walikota Solo yang selama ini menjadi idola terutama warga Jakarta, begitu dinyatakan dicalonkan dalam pemilihan presiden 2014, timbul beragam kekecewaan. Jokowi  disebut sebagai capres boneka dan selalu ‘manut’ pada ketua umum PDIP.

 

Ironisnya isu ini terkesan dibiarkan untuk terus berkembang, hingga timbulnya sebuah penafsiran bahwa Jokowi adalah sosok yang tidak mempunyai komitmen dalam memegang amanah suara rakyat. Persefsi ini ditimbulkan karena sepak terjang Jokowi yang selalu meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab selaku pimpinan untuk meraih kekuasaan yang lebih tinggi. Gambaran ini terlihat dari ketidakstabilnya atau keseriusan dirinya dalam mendalami pekerjaan seperti belum selesai membenahi Solo lalu lompat ke DKI selanjutnya mencalonkan diri menjadi capres dengan banyaknya persoalaan yang belum selesai.

 

Tak dapat di sangkal, era media yang terbuka seperti sekarang ini, banyak elite politik yang mendesain sedemikian rupa setiap langkahnya selain menjalankan tugas, agar bisa menunjukan kepada publik pencitraan yang dilakukannya. Tujuannya agar ke depannya ia akan berpeluang dipilih atau dipinang kekuatan politik, namun pada akhirnya rakyat juga yang menjadi penilai mana yang bekerja sungguh-sungguh, mana yang bekerja demi pencitraan. Jokowi effect, terbukti tidak sebesar perkiraan sejumlah kalangan. Bahkan bisa dikatakan berbeda jauh dengan kehadiran Rhoma Irama yang dinilai efektif mendongkrak suara PKB dibandingkan dengan Jokowi. Partai yang dipimpin Muhaimin Iskandar terbukti telah membuat kejutan di hitung cepat karena sebelumnya diprediksi tidak bisa masuk lima besar.


-Penulis merupakan Alumni Pascasarjana Universitas Mercubuana Jakarta Program Studi Magister Komunikasi

back to top