Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Iklan-iklan Capres

Iklan-iklan Capres

Oleh: Khairu Syukrillah

Semakin dahsyat iklan yang diterbitkan dari masing-masing Capres jelang pilpres yang hanya dalam hitungan hari lagi. Semua isu maupun jorgon dilontarkan demi sebuah mendongkrak popularitas pencitraan mereka, dengan misi untuk membentuk opini publik.

Isu yang disampaikan juga terkesan tanpa batas & tanpa filterisasi, yang penting ‘hajar’. Dalam hal ini, media kembali memiliki andil yang luar biasa hebat. Bekingan media dari masing-masing capres jika dipetakan melalui peta koalisi juga sama kuatnya. Permainan grafis, kata-kata, maupun anggel (sudut pandang) berita maupun iklan dengan topik yang sama namun di olah sehingga bermakna beda (anggel untuk rakyat misalnya).

Sebuah hal yang menarik, jika selaku rakyat awam mencoba memframing (membingkai) isu yang dilontarkan masing-masing capres di dalam iklan yang ditayangkan oleh media, baik media sosial maupun media konvensional yang notabene membekingi masing-masing capres & cawapres tersebut.

Dalam kajian Ilmu Komunikasi, jika mengutip konsep Entman (1993), framing sering digunakan untuk menggambarkan proses seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media.

Framing dapat dipandang sebagai penempatan informasi-informasi dalam konteks yang khas sehingga isu tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu lain. Framing memberikan tekanan lebih pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan dan bagian mana yang ditonjolkan oleh pembuat teks (pengarah).

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas. Penonjolan adalah proses membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat oleh khalayak.

Dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu yang lain dan menonjolkan aspek dari isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana penempatan yang mencolok, pengulangan, pemakaian grafis yang mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang yang diberitakan, asosiasi terhadap simbol budaya, generalisasi, simplifikasi.

Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan dan hendak dibawa kemana berita tersebut.

Framing menjadi sangat penting ketika dikaitkan dengan pemberitaan maupun iklan yang ditayangkan oleh media untuk para capres jelang pilpres mendatang. Ada sebuah kekontrasan framing media dalam menerbitkan dua iklan yang sama-sama mengatasnamakan rakyat tersebut.

Framing inilah yang mampu memecahkan kesulitan rakyat awam untuk menginterpretasikan secara bebas tanpa terdoktrin atau tanpa sadar rakyat awam telah mengalami penggiringan opini dalam memandang dua iklan tersebut yang tidak terlepas dari dominasi media yang mengiklankan kedua calon tersebut. Isu (anggel) yang dipilih para media digunakan untuk mendapatkan legitimasi publik, sehingga tanpa disadari rakyat awam telah ‘aktif’ tergiring dalam pemberitaan tersebut.

Dalam proses penggiringan opini publik inilah, media massa sangat memiliki andil besar secara terus-menerus menayangkan iklan yang bertujuan untuk menstimulasi dan mempropaganda rakyat awam agar iklan-iklan dari masing pasangan calon mampu sebagai penguat untuk menentukan pilihan kepada capres mana yang akan mereka pilih.

Pada dasarnya media massa adalah media diskusi publik tentang suatu masalah yang melibatkan tiga pihak (wartawan, sumber berita dan khalayak) seperti yang dikemukakan oleh Eriyanto, bahwa ketiga pihak tersebut mendasarkan keterlibatannya pada peran sosial masing-masing dan hubungan di antara mereka terbentuk melalui operasionalisasi teks yang mereka konstruksikan.

Masing-masing pihak menyajikan perspektif untuk memberikan pemaknaan terhadap suatu persoalan agar diterima oleh khalayak. Media massa dilihat sebagai forum bertemunya pihak-pihak dengan kepentingan, latar belakang dan sudut pandang yang berbeda pula.

Dalam proses framing pada akhirnya akan membawa efek. Karena sebuah realitas bisa jadi dibingkai dan dimaknai berbeda oleh media, bahkan pemaknaan itu bisa jadi akan sangat berbeda. Realitas sosial yang kompleks penuh dimensi dan tidak beraturan, disajikan dalam berita sebagai sesuatu yang sederhana, beraturan dan memenuhi logika tertentu.

Sehingga berdasarkan penyederhanaan atas kompleksnya realitas yang disajikan oleh media, maka hal tersebut akan mampu menimbulkan efek framing tersendiri, yang pertama adalah framing yang dilakukan media akan menonjolkan aspek tertentu dan mengaburkan aspek yang lain.

Framing umumnya ditandai dengan menonjolkan aspek tertentu dari realitas, akibatnya ada aspek lain yang tidak mendapat perhatian yang memadai. Kedua, framing yang dilakukan oleh media akan menampilkan sisi tertentu dan melupakan sisi yang lain.

Dengan menampilkan sisi tertentu dalam berita ada sisi lain yang terlupakan, menyebabkan aspek lain yang penting dalam memahami realitas tidak mendapat bagian. Dan yang ketiga, framing yang dilakukan media akan menampilkan aktor tertentu dan menyembunyikan aktor yang lain. Efek yang segera terlihat dalam pemberitaan adalah adanya pemokusan pada satu pihak, menyebabkan pihak lain yang mungkin relevan dalam pemberitaan menjadi tersembunyi.

Analisis framing inilah yang dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, atau apa saja) dibingkai oleh media. Pembingkaian ini melalui proses yang disebut konstruksi. Di sini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu.

Proses framing mempunyai implikasi penting dalam bidang politik terutama jelang pilpres mendatang, sebab framing kerap kali digunakan para calon untuk merekayasa opini publik yang mengatasnamakan rakyat.

Dengan framing tertentu terhadap suatu isu politik, para calon dapat mengklaim bahwa opini publik awam yang tercipta sangat mendukung visi-misi mereka atau setuju dengan pendapat mereka padahal realita yang ada belum tentu kebenarannya.

Proses framing inilah yang merupakan bentuk kerja sama antara para pasangan calon dengan para media (pendukungnya atau koalisi meraka contohnya) yang bertujuan untuk merebut legitimasi publik awam yang tanpa sadar telah dipengaruhi.

Hal ini terjadi karena dalam framing, media bisa saja membentuk perspektif tertentu atau “memutar” terhadap peristiwa yang disajikannya, sehingga pada akhirnya, hal ini yang akan berpengaruh terhadap opini publik untuk menentukan pilihan mereka terhadap para pasangan calon pada pilpres mendatang.


-Khairu Syukrillah adalah alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh-Lhokseumawe, Peneliti  dan Penikmat Media.

back to top