Menu
Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen Air Hujan

Pakar UGM Ajak Masyarakat Memanen A…

Jogja-KoPi| Pakar Hidrolo...

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkatan Kompetitifitas Produk Agrikultur

BKP: Indonesia Fokus Pada Peningkat…

Bantul-KoPI|Pada tahun 20...

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

UNIVERSITAS MENYAMBUT R.I KEEMPAT

Oleh Moh. Mudzakkir(Dosen...

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi Swasta Sumbangkan Kaum Intelektual di Jatim

Pakde Karwo : 2/3 Perguruan Tinggi …

Surabaya-KoPi| Sebanyak 2...

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar Banyak Terserang Ispa

Pengungsi Korban Gempa di Gumantar …

Lombok-KoPi| Sebanyak 30 ...

Prev Next

Emisi, efisiensi dan Kesehatan

Emisi, efisiensi dan Kesehatan

Nuki Agya Utama


Kebanyakan masyarakat awam selama ini mengidentikkan pencemaran lingkungan sebatas pencemaran hasil industri dan pencemaran udara karena kendaraan bermotor. Pencemaran zat-zat berbahaya hasil buangan limbah pabrik berpotensi merusak lingkungan lokal sekitar pabrik, sedangkan emisi buangannya (apabila ada) merupakan potensi perusak lingkungan dengan skala lebih luas (regional dan global).

 Untuk kendaraan bermotor gas buangnya menimbulkan kerusakan kualitas udara sekitar, mempengaruhi kesehatan bagi yang sering menghirupnya (mengurangi kualitas sperma, penyakit paru-paru dan kanker) dan menimbulkan efek ‘smog’ diambil dari gabungan smoke (asap) dan fog (kabut), menimbulkan kesan seakan-akan berkabut dan dingin padahal yang berisi emisi berbahaya dan cenderung panas. Yang sering kita rasakan dari akibat efek ini, semakin terasa panas pada siang-sore hari, dikarenakan Infra Red dan panas karena konveksi sinar matahari ‘terjebak’ diantara permukaan bumi dan lapisan ‘smog’ ini. Efek tersebut sering terjadi di kota-kota besar (seperti Jakarta, Surabaya, Bangkok, New York dll) efek lainya mengakibatkan berkurangnya jarak pandang, turunya kualitas udara (buruk bagi kesehatan) serta berkurangnya sinar matahari yang berguna bagi tumbuh-tumbuhan.

Emisi seperti karbondioksida dan karbonmonoksida (berpotensi meningkatkan efek rumah kaca), NOx atau nitrogen oxide yang mengganggu sistem pernapasan manusia, meningkatkan prosentase ozone (sehingga hasil perkebunan dan pertanian akan menyusut). Sebagai contoh, hasil pertanian Negara Denmark turun sekitar 10% akibat efek ini. Kandungan berbahaya lainya adalah SOx atau sulphur oxide yang dapat mengakibatkan tingginya kadar asam di atmosfer kita (akibatnya dapat merusak bangunan, mencemari kualitas tanah dan merusak tanaman, apabila turun bercampur dengan hujan), contoh rusaknya hutan-hutan lindung di Eropa Timur akibat revolusi industri di Eropa Barat..

Menurut laporan terakhir World Meteorological Organization (WMO) atau Badan Meteorologi Dunia, kandungan karbondioksida mengalami peningkatan tertinggi dalam sejarah di tahun 2004, peningkatan mencapai 337,1 ppm (parts permillion). Sedangkan N2O mencapai 318,6 parts per billion. Kandungan tersebut meningkat sebanyak 35% dan 18% selama sepuluh tahun terakhir. Artinya setelah penandatanganan World Summit di Rio de Janeiro yang diprakarsai oleh PBB tahun 1992 ini belum juga menunjukan hasilnya.

Penghasil emisi terbesar

Gedung-gedung atau rumah-rumah yang dipakai untuk tinggal, perkantor dan mall lebih banyak kontribusinya dalam pemanasan global. Sektor bangunan (kantor, mall dan rumah) diprediksikan menyumbang 40% terhadap seluruh kerusakan lingkungan yang terjadi di jaman modern ini.

Selama ini opini ‘emisi’ di masyarakat cenderung tertuju kepada hasil pencemaran pabrik atau gas hasil buang kendaraan bermotor. Banyak dari kita belum menyadari bahwa listrik yang kita pakai sehari-hari berperan besar terhadap kerusakan lingkungan, baik kerusakan lingkungan skala lokal, regional maupun global. Seluruh efek negative dari unsur-unsur kimia yang disebutkan di atas merupakan emisi gas buang yang dihasilkan oleh sumber-sumber listrik dengan energi dihasilkan bukan dari energi terbarukan (air, angin, geothermal/panas bumi, sinar matahari) tetapi dari hasil pembakaran Bahan Bakar Minyak dan Gas (BBM dan BBG). Hasil pembakaran batu bara adalah penyumbang kerusakan kualitas udara terbesar, selain menghasilkan zat-zat berbahaya seperti disebutkan diatas. Hasil pembakaran batubara juga menghasilkan logam berat, Tidak jauh berbeda dengan saudaranya minyak bumi juga menghasilkan zat-zat berbahaya sama dengan batu bara, tetapi dengan prosentase lebih rendah. Bahan Bakar Gas tidak luput dari salah satu sumber pencemar udara, tetapi tidak memiliki kandungan yang mengakibatkan tingginya kandungan logam berat.

Belum lagi penggunaan CFC pada air conditioner atau refrigerator lama yang masih menggunakan CFC11 atau CFC12, penggunaan unsur-unsur kimia ini sangat mempengaruhi prosentase kandungan ozone di atas permukaan bumi. Berkurangnya lapisan ozone akan meningkatkan resiko penyakit kanker kulit dan perubahan-perubahan genetika (mutasi) pada mahkluk hidup (bukan hanya manusia, tetapi juga hewan dan tumbuhan)

Menurut PLN (Perusahaan Listerik Negara) sumber energi listrik di Indonesia 83% dihasilkan dari hasil pembakaran bahan bakar minyak dan gas, sedangkan sisanya dari sumber air dan panas bumi. Sedangkan menurut PLN konsumsi listrik terbesar adalah perumahan 49,4%, Industri 26,3%, Bisnis (perkantoran, mall dan pertokoan) 17,6% sedangkan sisanya dari sekor lainya.

Dari informasi tersebut bisa diperkirakan seberapa besar kontribusi pengguna bangunan dalam meningkatnya efek rumah kaca, tingginya kadar asam di atmosphere serta kerusakan kualitas udara, air dan tanah lainya.

Gerakan penghematan energi, seperti yang dicanangkan pemerintah berdampak positif bagi peningkatan kualitas udara dan lingkungan. Walaupun saran tersebut lebih didasari oleh semakin mahalnya harga BBM dan BBG di pasar dunia (bukan karena kerusakan lingkungan).

Pada perumahan, perkantoran dan mall pendingin ruang (AC) merupakan kontributor terbesar dalam penggunaan listrik. Banyak cara guna mengurangi penggunaan AC pada bangunan, sebagai contoh pada rumah; sebisa mungkin menggunakan pendingin alami daripada menggunakan AC, memilih bahan bangunan yang tinggi thermal mass-nya, orientasi (utara-selatan lebih baik) bangunan diperhatikan, menambah pepohonan disekitar bangunan, menggunakan warna cerah pada lapisan cat luar (atap dan dinding luar), hindari menggunakan bahan-bahan metal pada penutup bangunan (atap dan dinding luar) dan bagi rumah yang menggunakan AC harap diperhatikan untuk memilih AC yang rendah Watt-nya atau lakukan regular cek dan bersihkan saringannya. Untuk perkantoran, sebisa mungkin melakukan audit terhadap alat-alat pendingin serta memaksimalkan manajemen waktu terhadap penggunaan AC di kantor, gunakan AC central daripada AC split, gunakan insulasi banguna yang sesuai dengan kebutuhan, tingkatkan kesadaran untuk selalu menutup pintu dan lain sebagainya. Sedangkan untuk bangunan mall atau pertokoan, sebisa mungkin melakukan perawatan berkala terhadap alat-alat pendingin yang digunakan.

Tidak bisa bersandar pada pemimpin dunia

Melihat kondisi diatas, kita tidak bisa berpasrah diri menunggu pemimpin-pemimpin dunia secara sukralela mengurangi emisi negara mereka. Pengurangan emisi secara signifikan sebetulnya bisa dilakukan secara mudah, dalam laporan penilaian keempat IPCC (Inter Governmental Panel for Climate Change), potensi terbesar dalam mengurangi emisi dengan biaya murah adalah efisiensi.

Salah satu cara mengurangi emisi seperti istilah yang populer disebut IMBY (in my backyard). Sebagai contoh, China walaupun secara administrasi kenegaraan akan menolak terikat secara resmi dalam mengurangi emisi, sesungguhnya sudah melakukan IMBY, investasi besar-besaran mereka lakukan untuk membuat pembangkit tenaga listrik yang berasal dari sumber terbarukan, perusahaan-perusahaan pengembang perumahan mereka secara meyakinkan berusaha mengaplikasikan alternatif sumber terbarukan di rumah-rumah yang mereka bangun, juga kawasan-kawasan industri baru di China berusaha keras dalam mengimplementasikan standard pengolahan limbah dan keberlanjutan sumber energy-nya. Thailand sudah selama satu decade berusaha keras dalam meningkatkan efisisensi energi mereka, yang berujung pada pengurangan emisi secara signifikan. DSM (Demand Side Management) yang diprakarsai pihak kerajaan terbukti dapat mengurangi peningkatan kebutuhan listrik dari penggunaan lampu lebih dari 50%, alat-alat listrik sudah menggunakan standardisasi lebel (menunjukan nilai efisiensi dari setiap alat). Malaysia dan Singapura berusaha keras dalam mengimplementasikan standard bangunannya.

Rumah, kantor dan mall menjadi fokus menarik apabila kita mau memulai mengurangi emisi, karena ketiga lokasi ini menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di negara kita. Apabila masyarakat memahami betul bahwa menyalakan listrik tanpa pertimbangan menghemat, pemborosan penggunaan AC, menyalakan TV tanpa ditonton, mematikan lampu di kantor usai bekerja, menggunakan tangga daripada lift di kantor dan mall, menggunakan pakaian lebih santai pada saat bekerja, memaksimalkan ventilasi dan pencahayaan alam (dapat mengurangi lebih dari 20% listrik di rumah ber-AC). Contoh-contoh tersebut secara tidak langsung dapat berperan dalam pengurangan efek rumah kaca, penurunan kadar asam dan meminimalisasi kerusakan lingkungan lainya.

- Nuki Agya Utama Bekerja di Graduate School Energy Science Universitas Kyoto, Jepang

 

back to top