Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Demokrasi abu-abu Indonesia

drawing: Anatomi Otonomi| Acil Aliancah drawing: Anatomi Otonomi| Acil Aliancah

Di negeri ini status demokrasi adalah La Roiba Fih, tidak ada keraguan di dalamnya. Bahkan, ke-La Roiba Fih-an demokrasi memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada Al Quran. Padahal Al Quran lah pencetus ke-La Roiba Fih-an. Dari Al Quran lah istilah itu lahir. Seseorang yang tinggal di negeri ini, bila tidak percaya pada Al Quran, hukumnya: boleh.

Sedangkan bila dia mengingkari demokrasi, bisa-bisa dia mendekam di penjara. Di negeri ini parpol adalah sebuah alat demokrasi yang absolut. Parpol adalah satu-satunya jalan yang diperkenankan oleh konstitusi negara untuk menyiapkan jalan hidup orang banyak. Untuk mengubah suatu keadaan dalam lingkup kenegaraan, setiap orang hanya bisa menyalurkan suaranya melalui parpol.

Tuhan secara falsafah memang diletakkan di posisi nomor satu. Namun hukum-hukum Tuhan terlampau malu-malu untuk ditegakkan. Suara rakyat adalah suara Tuhan. Demikianlah jargon demokrasi yang tak disangsikan sedikitpun oleh para pemujanya. Bayangkan, suara Tuhan disamakan dengan suara rakyat. Suara rakyat itu sendiri terdiri tidak hanya dari suara orang-orang baik serupa ulama atau ahli ibadah. Suara rakyat juga merupakan kumpulan dari suara penjahat, penyamun, pemerkosa, dan pelacur.

Dalam demokrasi semua jenis suara tadi dipukul rata menjadi sama dengan suara Tuhan. Tidak perlu terlalu memusingkan sexy dancer atau goyang bokong, sedangkan banyak tempat prostitusi berkeliaran, diketahui, tapi didiamkan oleh institusi negara demokrasi yang agung. Bila definisi negara sekuler adalah negara yang memisahkan hukum agama atau hukum Tuhan dengan hukum negara, maka negeri ini berarti sekuler. Atau ada agama yang membolehkan prostitusi?

Demokrasi ala kapitalis

Paragraf-paragraf di atas adalah sedikit saripati dari buku Demokrasi, La Roiba Fih (Penerbit Buku Kompas, I/Juli 2009) karangan Emha Ainun Nadjib. Buku tersebut berisi esai-esai menyegarkan dari lelaki kelahiran Jombang yang akrab dipanggil Cak Nun itu. Cak Nun sejatinya tidak memandang demokrasi sebagai sesuatu yang buruk nan haram. Dia mengungkapkan bahwa Demokrasi laksana ‘perawan’ yang merdeka dan memerdekakan.

Watak demokrasi adalah memersilakan. Dia tidak memiliki sifat menyingkirkan, menolak, atau membuang. Semua makhluk di muka bumi berhak hidup berdampingan dengan si ‘perawan’.

Guna menyerap nilai-nilai manfaat yang ada padanya. Masalah yang kemudian timbul di sekitar demokrasi biasanya disebabkan oleh ketidakadaan ‘dua sahabat’-nya. Padahal, untuk keutuhan demokrasi itu sendiri, dua sahabat itu harus selalu diserasikan gerak dengannya. Dua sahabat itu adalah moral dan hukum.Tanpa moral dan hukum yang tegas, demokrasi menjadi pincang. Demokrasi gampang ditunggangi oleh paham-paham salah kaprah.

Demokrasi pernah ditunggangi oleh kaum kapitalis di Eropa untuk meminggirkan kekuasaan gereja. Demokrasi juga dipakai oleh paham liberal untuk hidup sesukanya. Sehingga seakan-akan dia mengijinkan siswa SD melahap narkoba, murid SMP nonton film porno, orang dewasa gontaganti teman tidur, atau melakukan segala-galanya semerdeka-merdekanya.

Demokrasi semestinya hidup dalam rumah hukum yang berpondasi ilmu. Dia harus hidup di lingkungan pertetanggaan moral, dengan sirkulasi udara budaya. Dan dengan menjaga pertatapan wajah dan sorot mata nurani, serta tetap memelihara rahasia iman dan komunikasi level teratas dengan aturan-aturan Tuhan.

Pandangan Cak Nun

Cak Nun adalah budayawan serba bisa negeri ini. Dia pun termasuk dari tidak banyak orang yang dianugerahi kemampuan komunikasi lisan maupun tulisan sama baiknya. Dia adalah pengasuh dan pembicara utama dalam acara-acara sosial dan majlis ilmu di berbagai tempat di tanah air seperti: Padhang Mbulan di Jombang, Mocopat Syafaat di Yogyakarta, Kenduri Cinta di Jakarta, Bangbang Wetan di Surabaya. Dia juga sudah banyak menghasilkan tulisan berupa cerpen, puisi, naskah drama, dan esai.

Cak Nun adalah seorang Indonesia yang peduli pada Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, dia selalu memerlihatkan kegusarannya pada berbagai masalah yang ada di tanah air. Demokrasi di Indonesia adalah salah satu hal yang tak pernah luput dari penglihatannya. Di Indonesia, penyakit demokrasi yang bernama ‘demam kesan’ sering kali menjangkiti pelaksanaan demokrasi itu sendiri.

Ketotalitasan yang subyektif dalam berprasangka, mencitrakan sesuatu dengan hanya melihat tampilan luar, menggunakan parameter yang kabur ketika berpersepsi, dinilai telah dengan telak menciderai demokrasi yang menjadi dasar pergerakan hidup di alam pertiwi ini. Demokrasi yang menjadikan rakyat sebagai raja, seharusnya dilakukan dengan kesadaran yang penuh dan kontemplasi yang mendalam. Jika demokrasi sekadar dilandasi pesona dan kesan-kesan dari suatu golongan atau perseorangan yang tertebar secara musiman, maka demokrasi seketika lumpuh. Hasil demokrasi tersebut akhirnya hanya gincu, bukan solusi.

Melalui ceramah-ceramah dan tulisan-tulisannya, Cak Nun senantiasa membesarkan hati orang Indonesia. Dia selalu menyemangati manusia Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang memiliki peradaban dan kebudayaan yang kaya dan hebat. Tidak kalah dari peradaban dan budaya Inka, Mesopotamia, Yunani, atau lainnya. Indonesia adalah salah satu negeri terkaya dunia. Bukankah dahulu hasil alam Indonesia sering dirampok orang-orang asing? Sampai sekarang pun orang-orang luar negeri berusaha mendapatkan kekayaan itu.

back to top