Menu
Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR Hemas Tekankan Penggunaan Teknologi dengan Bijak

Jadi Pembicara Seminar di UAJY, GKR…

Jogj-KoPi| Universitas At...

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabatan Bagi 2.065 CPNS 2018

Pemprov Jatim Siapkan Formasi Jabat…

Surabaya-KoPi| Pemerintah...

UGM dan Twente University Teliti Kandungan Panas Bumi di Bajawa NTT

UGM dan Twente University Teliti Ka…

Flores-KoPi| Peneliti UGM...

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V Pajero Indonesia ONE di Surabaya

Kopi Darat Nasional (KopdarNas) V P…

Surabaya-KoPi| Dalam rang...

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswedan Tekankan Nilai Integritas

Jadi Pembicara di UAJY, Novel Baswe…

Jogja-KoPi| Fakultas Huku...

Pakde Karwo: Antara Operator dan Regulator Transportasi Tidak Bisa Dipisahkan

Pakde Karwo: Antara Operator dan Re…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres dan Cawapres

Nertalitas TNI dalam Pemilu Capres …

Lembah Tidar-KoPi| Senin ...

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu melaksanakan Out Bound

Reuni Adem Akabri '86, Ibu ibu mela…

Lembah Tidar-KoPi| Minggu...

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program Kampus Sehat dan Bebas Asap Rokok

Teknik Mesin SV UGM Dukung Program …

Jogja-KoPi| Departemen Te...

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalitas Kayu

Teknologi RFID Bantu Lacak Legalita…

Bantul-KoPi| Tim Pengabdi...

Prev Next

Seorang Ibu di Kemah Kedaulatan Prodem

Seorang Ibu di Kemah Kedaulatan Prodem

Kemarin kita sudah melewati silaturahmi. Kita buat rumah persinggahan rakyat nasional di lembah perkemahan Bumi Merapi "Kemah Kedaulatan ProDem." Saya memiliki kesan pribadi yang menelanjangi hati nurani. Sebagai manusia bernurani, sisi sensitif saya sedang berfungsi untuk mengabulkan permintaan ibu itu.

Malam itu Caknun hadir sinau kedaulatan rakyat, tepat di sisi pojok sebelah barat, depan panggung pentas, samping tembok penyangga tanah. Tampung kisah miris, sedih, terharu, bahagia, malu, berontak, nekat, dekil, congkak. Si ibu miskin, manusia Indonesia, menyampaikan suaranya tanpa kata-kata. Aku dapat mendengar. Melihat, merasakan dari bahasa tubuh yang dia sampaikan dengan cara orang lemah kepada penguasa, begini peristiwanya:

"Di tengah semarak meriah, yang penuh uforia, ada peristiwa yang menggelitik, mencukik, melenturkan saraf-saraf lelahku untuk semangat peduli terhadap orang di sampingku malam itu.

Ada lagi kawan saya. Selalu mendengungkan dirinya adalah terlibat penuh dalam suksesi. Minta kepada saya untuk mengakui keluarbiasaan peran dalam persiapan kemah kedaulatan. Dalam hatiku, "sudahlah akui saja biar dia senang, wong dia wong cilik yang ingin besar di depanku."

Namun, ia berucap saya ini anak kemarin, tapi dia minta pengakuan kepadaku si kecil yang dia dengungkan untuk mengakui "kebesaran yang kontras pada dirinya" karena dia berhasil menciptakan tanpa refleksi pengetahuan yang dalam.

Malam itu, ada seorang ibu yang berada lima meter disampingku: dengan tatapan melas nanar dia mendekatiku, yang sejak 10 menit yang lalu aku menatapinya. Di kedua tangan kanan dan kirinya megenggam erat bungkusan plastik yang berukuran 1,40 X 1 M.

Dengan gagap diliputi rasa minder menyodorkan plastik gulungan itu, sembari melontarkan nada iba "Mas beli Mas", suara iba itu menyadarkan lamunan nuraniku. Dengan suara terbata-bata membalas melas aku nyahut "ia, Bu', ini untuk apa, Bu?" tanyaku, "nganu mas, ini untuk ....................." saya tidak mengerti kata-katanya karena Ia menggunakan bahasa Jawa yang tidak saya faham. Tetapi, saya bisa menangkap bahwa plastik yang berukuran telah saya sebutkan diatas untuk alas duduk.

Sebenarnya sebelum ibu itu menawarkan plastik jajakannya, dia sudah melihat saya sudah berdiri lama di sampingnya, dan dia tahu aku tidak butuh plastik alas duduk, karena tidak ingin duduk. Saya ingin menyaksikan cloteh hikmah Caknun dari kejauhan di depan panggung posisi berdiri.

Hanya saja, aku bisa menangkap bahwa malam itu, ketika ibu itu menawarkan barang jualannya, sedikit orang yang mau beli, dia menangkap dan mengerti saya sebagai target penjualannya malam itu. Karena ada tatapan iba ada dari kedua mataku. Mungkin karena itu, ia menghampiriku.

Namun, aku hanya mampu memberikan perasaan sedihku, tanpa mampu menerima penuh harapannya. Iyah, biarlah. Abaikan saja, seperti hadirnya dingin yang melingkupi malam itu -agar tidak memperparah keadaan sedih bangsa ini. |NACHA SUJONO|

back to top