Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Seorang Ibu di Kemah Kedaulatan Prodem

Seorang Ibu di Kemah Kedaulatan Prodem

Kemarin kita sudah melewati silaturahmi. Kita buat rumah persinggahan rakyat nasional di lembah perkemahan Bumi Merapi "Kemah Kedaulatan ProDem." Saya memiliki kesan pribadi yang menelanjangi hati nurani. Sebagai manusia bernurani, sisi sensitif saya sedang berfungsi untuk mengabulkan permintaan ibu itu.

Malam itu Caknun hadir sinau kedaulatan rakyat, tepat di sisi pojok sebelah barat, depan panggung pentas, samping tembok penyangga tanah. Tampung kisah miris, sedih, terharu, bahagia, malu, berontak, nekat, dekil, congkak. Si ibu miskin, manusia Indonesia, menyampaikan suaranya tanpa kata-kata. Aku dapat mendengar. Melihat, merasakan dari bahasa tubuh yang dia sampaikan dengan cara orang lemah kepada penguasa, begini peristiwanya:

"Di tengah semarak meriah, yang penuh uforia, ada peristiwa yang menggelitik, mencukik, melenturkan saraf-saraf lelahku untuk semangat peduli terhadap orang di sampingku malam itu.

Ada lagi kawan saya. Selalu mendengungkan dirinya adalah terlibat penuh dalam suksesi. Minta kepada saya untuk mengakui keluarbiasaan peran dalam persiapan kemah kedaulatan. Dalam hatiku, "sudahlah akui saja biar dia senang, wong dia wong cilik yang ingin besar di depanku."

Namun, ia berucap saya ini anak kemarin, tapi dia minta pengakuan kepadaku si kecil yang dia dengungkan untuk mengakui "kebesaran yang kontras pada dirinya" karena dia berhasil menciptakan tanpa refleksi pengetahuan yang dalam.

Malam itu, ada seorang ibu yang berada lima meter disampingku: dengan tatapan melas nanar dia mendekatiku, yang sejak 10 menit yang lalu aku menatapinya. Di kedua tangan kanan dan kirinya megenggam erat bungkusan plastik yang berukuran 1,40 X 1 M.

Dengan gagap diliputi rasa minder menyodorkan plastik gulungan itu, sembari melontarkan nada iba "Mas beli Mas", suara iba itu menyadarkan lamunan nuraniku. Dengan suara terbata-bata membalas melas aku nyahut "ia, Bu', ini untuk apa, Bu?" tanyaku, "nganu mas, ini untuk ....................." saya tidak mengerti kata-katanya karena Ia menggunakan bahasa Jawa yang tidak saya faham. Tetapi, saya bisa menangkap bahwa plastik yang berukuran telah saya sebutkan diatas untuk alas duduk.

Sebenarnya sebelum ibu itu menawarkan plastik jajakannya, dia sudah melihat saya sudah berdiri lama di sampingnya, dan dia tahu aku tidak butuh plastik alas duduk, karena tidak ingin duduk. Saya ingin menyaksikan cloteh hikmah Caknun dari kejauhan di depan panggung posisi berdiri.

Hanya saja, aku bisa menangkap bahwa malam itu, ketika ibu itu menawarkan barang jualannya, sedikit orang yang mau beli, dia menangkap dan mengerti saya sebagai target penjualannya malam itu. Karena ada tatapan iba ada dari kedua mataku. Mungkin karena itu, ia menghampiriku.

Namun, aku hanya mampu memberikan perasaan sedihku, tanpa mampu menerima penuh harapannya. Iyah, biarlah. Abaikan saja, seperti hadirnya dingin yang melingkupi malam itu -agar tidak memperparah keadaan sedih bangsa ini. |NACHA SUJONO|

back to top