Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Perjalanan menuju Indonesia

Painted by Nurul Hayat"Acil" Aliancah Painted by Nurul Hayat"Acil" Aliancah

Bangsa Indonesia itu ibarat seseorang yang sedang melakukan perjalanan panjang . Jauh dengan jalanan yang berliku bahkan mendaki atau menuruni jurang dan kadang pula terjatuh terguling atau malah terjerembab pingsan tak ada orang lain yang tahu. Seseorang itu bernama Indonesia melakukan perjalanan dengan membawa beban berat dipundaknya  ada ransel penuh barang berharga namun diperjalanan tercecer tak tahu kemana hilangnya. Aneh memang punya barang-barang berharga tidak dijaganya dan ketika hilang dibiarkan begitu saja. Ini ajaib dan ada seseorang bernama Indonesia terus berjalan mencari mata air dan ketika sampai pada sebuah telaga dia terhenti kaget sebab airnya sudah keruh bahkan banyak sampah mengendap bahkan ada sampah-sampah plastik mengapung di air telaga. Air yang ada didalam dan air dipermukaan sama-sama kotornya , apa mau nekat meminumnya atau membersihkan terlebih dahulu ?

Indonesia saat ini benar-benar luar dalam penuh kotoran. Kotoran yang penuh racun, kotoran yang bisa menjadi penyakit ada bakteri menular dan bisa mematikan. Selain bakteri ada juga virus yang tak terduga tiba-tiba kita terkena bahkan anak-anak yang belum terlahirpun sudah terkena. Kita ada dinegeri yang katanya elok penuh ramah tamah namun gaduh akan persoalan dan tak pernah diselesaikan bahkan dimunculkan kembali persoalan baru  yang membikin tambah gaduh ibarat jalanan macet dangan klakson berbunyi tanpa henti berebut ingin didepan.

Perjalanan panjang menuju Indonesia seperti tak pernah selesai-selesai dengan halang rintang selalu ada. Kita sebagai rakyatnya perlu penuh prihatin menjalani dengan lelaku dan puasa. Ada laku “tapa ngrame”  yaitu semangat bergairah dalam gerakan perjuangan tulus tanpa sebuah nama dan tidak sibuk mengejar kepentingan pribadi. Kemudian ada “tapa brata” walau dengan kekurangan materiil menjalani perjuangan tetap dengan sentausa mampu melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad secara biologis maupun psikis. Tidak menyerah ketika diremehkan atau harga diri kita dipermalukan, dihina atau kadang malah ditindas atau diinjak tidak dihormati ini namanya “laku wirang”. Kita pun terinspirasi akan perjuangan para leluhur yaitu dalam “lara lapa” segala macam penderitaan pernah dialami bahkan dibuang dipenjara dipaksa dalam kerja paksa oleh jaman penjajahan. Perjuangan para leluhur begitu luhur mereka sampai tidak menikmati buah manis bernama kemerdekaan dan lelaku para leluhur itu disebut “tapa mendem” berjuang secara tulus dengan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkitkan kembali.

Menuju Indonesia adalah perjalanan panjang menuju negara merdeka dan rakyatnya  menjadi manusia seutuhnya bukan lagi obyek tetapi  menjadi subyek perubahan. Lelaku dan laku prihatin kita sudah komplit penderitaan pernah dialami tetapi apa lalu sekarang masih menderita terus. Ini tantangan dalam bernegara dalam perjalanan panjang . Kita sebagai rakyat tak perlu ikut larut dalam gaduhnya politik yang tanpa sopan santun menghina keberadaban rakyat. Kita kembali bekerja, kita menjadi manusia biasa yang punya kesadaran membangung solidaritas dalam gotong royong, selalu menyapa dalam silaturahim pada sanak sauadara dan tentangga. Dalam solidaritas dan tegang rasa ini adalah bagian wujud syukur pada sang pencipta yaitu menjaga alam dan menyapa alam sebab kita adalah bagian dari alam.

Salam Harmony
Daryanto Bender (Komunitas Negeri Symphony)

back to top