Menu
Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi Pengungsi Korban Bencana

UGM Kembangkan Aplikasi Informasi P…

Sleman-KoPi | Pusat Studi...

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pendeteksi dini bencana longsor bernama SIPENDIL.

Tim Peneliti UGM ciptakan alat pend…

Sleman-KoPi | Tim penelit...

Bagaimana menjaga pola makan yang baik dan benar selama bulan Puasa.

Bagaimana menjaga pola makan yang b…

Inggris-KoPi| Inilah saat...

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap gunakan Narkoba.

8 Mahasiswa di Yogyakarta ditangkap…

Sleman-KoPi| Direktorat R...

Korut tunda pertemuan KTT bersama Korea Selatan.

Korut tunda pertemuan KTT bersama K…

Pyongyang-KoPi | Korea ut...

Protes Keras Tanoni :Australia Bebaskan Nelayan Yang Ditangkap.

Protes Keras Tanoni :Australia Beba…

Kupang-KoPi | Pemerintah ...

Prev Next

Mitos Semar dalam cerita Gunung Tidar

Mitos Semar dalam cerita Gunung Tidar

Sosok Semar yang sering menjadi lakon dalam pewayangan menarik untuk diperbincangkan tentang keberadaannya. Adakah Semar yang sering disebut dengan Semar Bodronoyo hanya sebuah idea atau fiksi ? simbol-simbol ataukah ia memang merupakan suatu fakta historis ?

Semar sering digambarkan dengan sosok yang sempurna dalam pencitraannya (ia tak jauh dari Dewa atau sering dikata sebagai penjelmaan Dewa). Padahal dalam sumber pewayangan yaitu kitab Mahabarata dan Ramayana tidak pernah menyebut-nyebut tokoh ini. Ini adalah indikasi bahwa Semar merupakan tokoh asli Jawa dan kemudian menjadi suatu khasanah dalam pewayangan Jawa.

Bahkan konon keberadaan tokoh Semar dalam dunia wayang kemudian tak bisa lepas dari peran Sunan Kalijaga yang ahli wayang, sehingga beliau memodifikasi dan menciptakan wayang kulit ini. Begitu pula Sunan Kalijaga banyak membuat cerita Carangan dengan terinspirasi tokoh Semar ini beserta tokoh punokawan lainnya seperti Togog, Gareng, Petruk, Bagong.

Sebagian masyarakat Jawa percaya bahwa sosok Semar bukan hanya mitos atau idea dalam dunia wayang saja, tapi adalah fakta atau wujud dalam dunia ghaib atau mistik. Bahkan beberapa tempat dipercaya menjadi pesanggrahannya seperti Gunung Srandil Cilacap, Gunung Tidar, bukit Balak di dekat gunung Merbabu (Magelang), Alas Purwo, Alas Ketonggo, Gunung Lawu dan lain lain.

Beberapa waktu yang lalu di Gedung Eks-Karesidenan Kedu Magelang diadakan dialog dan sarasehan budaya dengan tujuan mengungkap dan menelusuri tentang Legenda Gunung Tidar. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Magelang ini menghadirkan tokoh Budaya seperti Drs. H. Alit Marjono, juga Susilo Anggoro dan lain lain.

Dalam sarasehan tersebut bermaksud berusaha untuk merumuskan kembali tentang cerita cerita rakyat terkait dengan Gunung Tidar, seperti tentang Kyai Semar dan Syech Subakir juga Kyai Sepanjang.

Kyai Semar diperbincangkan dalam dialog ini Karena dalam cerita Rakyat Magelang banyak disebut dan dikaitkan dengan Syech Subakir. Dan tokoh Semar semula menjadi penghuni gaib di Gunung Tidar, dan kemudian muncullah cerita dari ke dua tokoh tersebut dengan berbagai versi yang bermacam macam.

Dalam Sarasehan tersebut Narasumber Susilo Anggoro menjelaskan hasil ritualnya mengrawuhaken dua tokoh zaman dahulu, suatu metode trance yang menggunakan seseorang sebagai media dalam pembicaraan dengan tokoh yang dihadirkan.

Dua tokoh yang dihadirkan mengaku sebagai Rakryan Damarmaya dan Panembahan Inana Badra. Dua orang tokoh ini masing masing adalah seorang raja Zaman Mataram Hindu yang kerajaannya di sekitar Karang Wuni dekat Prambanan dan Inana Badra adalah seorang biksu Budha yang hidup di zaman kerajaan Tarumanegara.

Inana Badra sebagai seorang biksu pernah mengabdi di Tarumanegara, namun ketika kerajaan ini runtuh ia meninggalkan kerajaan tersebut dan melakukan pengembaraannya ke arah timur (Jawa Tengah) dan sampailah di wilayah Gunung Srandil Cilacap.

Dalam perjalanan spiritualnya, ia melihat sebuah gunung kecil yang bercahaya dan dikelilingi gunung gunung besar. Sampailah di suatu wilayah yang ia cari, dan ia lalu naik ke gunung kecil itu dan melakukan tarak brata dengan duduk di atas batu, dan tempat itu lalu dinamai Gumuk Lintang. (di kemudian hari tempat itu dinamai Gunung Tidar).

Inana Badra lalu moksa lenyap bersama raganya di tempat itu. Sejak itulah ia lalu menjadi ratuning danyang tanah jawa. Kemudian Inana Badra menitis atau ber reinkarnasi pada seseorang, pada zaman Medang Lamulan. Pada zaman Majapahit ia menitis pada seorang abdi bernama Sapu Angin dan Sapu Jagad. Ketika Zaman Majapahit menjelang berakhir ia menitis pada abdi bernama Sabdo Palon dan Noyogenggong. Bahkan pada zaman sekarang pun konon Inana Badra masih menitis pada seseorang yang ia pilih.

Inana Badra itulah yang kemudian sering disebut dengan Semar, Semar Bodronoyo, yang berarti membangun dan mengemban serta melaksanakan perintah Tuhan untuk kebaikan dan kesejahteraan manusia.

Sabdo Palon sendiri seorang abdi Majapahit yang selalu memberikan masukan pada raja ketika junjungannya melenceng dari kebenaran. Noyogenggong mempunyai arti abdi yang mengulang ulang suaranya kepada raja ketika raja melakukan kekeliruan.

Syech Sybakir dan Kyai Semar

Penyebaran Islam di tanah jawa tak lepas dari peran dan Sejarah Syech Subakir. Ia seorang waliyullah yang tergabung dalam dewan Wali Songo pada periode awal. Ia dikenal sebagai ahli dalam mnenetralkan tempat tempat yang angker.

Dalam tugasnya Syech Subakir mendatangi Gumuk Lintang yang menjadi tempat moksa Inana Badra tersebut. Konon Inana Badra menjadi penguasa gaib tempat tersebut. Bagi syech Subakir setidaknya Inana Badra menjadi penghalang dalam dakwah Islam, ia harus mendatangi tempat itu.

Dalam suatu versi cerita, ketika pertama kali Syech Subakir datang bersama santrinya di tempat itu kemudian dibantai oleh anak buah Semar tersebut, hal ini membuat Wali itu prihatin dan melakukan puasa selama 40 hari lamanya, hingga muncullah sosok Semar yang menjadi penghuni tempat itu dan terjadilah perbincangan dan perdebatan di tempat itu.

Dan Syech Subakir menyingkir, hingga setelah beberapa saat kemudian datang lagi membawa para santrinya serta senjata ampuh, (ada yang menceritakan bersenjata Rajah Kalacakra ataupun tombak) dan kemudian di tanam di tempat itu. Dari sinilah kemudian Semar dan pengikutnya berlarian meninggalkan tempat tersebut. Sejak saat itu tempat itu dinamai Gunung Tidar ( ada yang mengartikan kata Tidar dengan Petine diudar/ dibuka, yaiu peti atau kotak yang berisi senjata atau pusaka Syech Subakir tersebut).

Cerita di atas dibantah oleh Inana Badra dalam media ngrawuhaken tersebut, bahkan ia menjelaskan bahwa antara dirinya dan Syech Subakir tidak ada peperangan. Konon Syech Subakir diperkenankan dakwah Islam dan mesanggrah di gunung tersebut, dengan syarat Syech Subakir bisa memindahkan batu Palenggahan atau tempat duduknya Semar, yaitu berupa batu Gilang ke lereng sebelah utara bukit tersebut.

Ternyata Waliyullah Syech Subakir itu berhasil memindahkannya. Dalam versi cerita yang lain dikisahkan bahwa Syech Subakir diperkenankan dakwah Islam di Jawa dengan syarat tidak ada paksaan, tidak boleh merusak tradisi dan adat jawa dan lain lain.

Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa Semar atau sering disebut Semar Bodronoyo atau Panembahan Ismoyo adalah seorang tokoh yang bukan hanya ide atau cerita rekaan saja, tapi adalah seorang manusia yang hidup di zaman Tarumanegara kemudian moksa dan menjadi danyang tanah Jawa hingga kemudian hari menitis pada seseorang.

Adanya banyak cerita yang kemudian dikembangkan dalam pewayangan oleh Sunan Kalijaga, tentu saja beliau telah mengetahui sosok tokoh itu dengan segala perannya, bahkan dalam suatu riwayat cerita beliau pernah bertemu dengan tokoh Semar ini . dari sinilah beliau Sunan Kalijaga terinspirasi hingga membuat banyak cerita Carangan dalam Pewayangan.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa pun banyak yang mengagumi sosok Semar ini, bahkan pemujaan terhadapnya. Beberapa tempat yang dipercaya sebagai tempat mesanggrahnya di uri-uri dan dibangun bangunan yang monumental. Tak jarang di tempat itu sebagai sarana pemujaan tersebut dan di waktu waktu tertentu diberikan barang barang persembahan atau sesajen.

Sepanjang zaman tetap saja Semar menjadi sosok misterius tentang keberadaannya, banyak orang membicarakan dan mempertentangkan serta mempertanyakannya. Yang jelas tulisan saya ini hanyalah suatu pandangan hasil analisa, bisa benar bisa salah. Orang boleh saja berseberangan dengan tulisan ini. Wallahu A’lam. 

back to top