Menu
Fatma Saifullah Yusuf Raih Penghargaan Certified Public Speaker Kehormatan

Fatma Saifullah Yusuf Raih Pengharg…

Surabaya-KoPi| Istri Waki...

Dari yang tersimpan

Dari yang tersimpan

Catatan Ugo Untoro atas P...

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut panik

Petugas pingsan, Gus Ipul ikut pani…

Tuban-KoPi| Wakil Gubernu...

Muhammadiyah mendukung proses penegakkan hukum terhadap Setya Novanto

Muhammadiyah mendukung proses peneg…

Jogja-KoPi|Ketua umum PP ...

Peneliti : Mayoritas usaha persusuan dikelola secara tradisional

Peneliti : Mayoritas usaha persusua…

Jogja-KoPi| Peneliti Bida...

Gus Ipul : Industri pariwisata memerlukan infrastruktur yang memadai

Gus Ipul : Industri pariwisata meme…

Surabaya-KoPi| Pembanguna...

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 2017

Alumni UAJY Raih Piala Citra FFI 20…

Jogja-KoPi| Bayu Prihanto...

Australia kabulkan gugatan Petani Rumput Laut

Australia kabulkan gugatan Petani R…

Kupang-KoPi|Pengadilan Fe...

Sektor pekerja informal tantangan terbesar target BPJS Kesehatan di 2019

Sektor pekerja informal tantangan t…

Jogja-KoPi|Pakar Jaminan ...

Prev Next

Candu

Candu

“Wah, kopi hitam dan kental memang sungguh nikmat. Ada pisang goreng apalagi ditambah tehpoci terhidang di meja dengan gula batu, wow aromanya luarbiasa. Hari ini kita nikmati sebuah kenikmatan memuncak yang terus menerus tak henti-henti ”, Sergah Mbah Karto kepada para tamunya.

Mengungkapkan gairah sebuah kebahagian setiap orang berbeda-beda cara, kenikmatan hidup bisaberupa makanan, sebuah kegiatan salah satunya kesenian, olah raga atau bahkan belanja ke mall merupakan salah satu cara menyatakan kebahagian. Hidup apa memang menuju dan mencari sebuah kebahagian atau sebuah kenikmatan.

Pada “Catatan Akhir Pekan (CAP) kali ini mengangkat tema “candu”. Anda tentu tahu apa itu candu, apa didalam candu ada kenikmatan, kebahagian atau malahan lebih dariitu. Saat ini masyarakat disuguhi oleh berbagai tontonan atau adegan peristiwa yang dibungkus dengan pencitraan tertentu yang representasimelalui media massa, televisi maupun medsos. Masyarakat secara terus-menerus dibombardir oleh pesona “simulakrum”, yakni suatu kopian dari salinan realita yang tidak memiliki referensi padar ealita sesungguhnya. Namunsaatinianehnya menjadi daya tarik tersendiri untuk berbondong-bondong mencitrakan dirinya menjadi seolah-olah the best. Apa saja akan dilakukan yang penting tersalurkan keinginannya.

Kecanduan yang biasa kita ketahui yaitu kecanduan akan makanan, bermain video game, alkhohol, belanja, hingga narkoba sebenarnya. Yang kita ketahui tentang kecanduan adalah kondisi seseorang mengalami hilang kontrol terhadap apa yang dilakukan disebabkan akan keinginan kuat atau kegemaran terhadap sesuatu hal. Orang yang mempunya kecanduan tidak mempunyai kendali atas apa yang mereka lakukan, gunakan, atau konsumsi terhadap suatu hal yang mereka jadikan candu.

Kecanduan yang tidak kita sadari adalah kecanduan terhadap media sosial yang sedang mewabah baik dari anak kecil, orang dewasa maupun orang tua tak ada yang mau ketinggalan. Seakan-akan sudah tertata dengan sendirinya untuk menjadi bagian dari kegiatan rutin setiap hari karena mengasyikan. Mark Zuckerbergsang pembuat facebook punya setrategi agar semua orang diseluruh dunia menghabiskan uangnya dan waktunya untuk facebook. Sedangkan Mark sendiri menggunakan uang dan waktunya untuk “quality time” bersama istrinya didapur memasak dan mendidik anaknya di rumah. Ini bedanya kecanduan dengan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Ketika melakukan kebiasaan Anda bisa menghentikan kapan saja sesuai kondisi yang terjadi. Tetapi tidak dengan kecanduan, Anda benar-benar susah untuk menghentikan perilaku tersebut. Intinya hilang kontrol dan kendali terhadap apa yang Anda lakukan, sehingga tidak mampu untuk menghentikan kegiatan tersebut.

Segala informasi maupun tampilan peristiwa yang menghampiri di media sosial bagi yang sudah kecanduan benar-benar menimbulkan rasa senang pada otak, dan otak akan merespon semua kesenangan itu melalui respon yang serupa yaitu dengan menghasilkan hormon dopamin atau hormon kesenangan. Hormon ini akan meningkat ketika Anda merasa bahagia, dan senang terhadap suatu hal. Awalnya rata-rata bermedsosria adalah rekreasi untuk menghibur diri tapi lama kelamaan bisa berubah menjadi kecanduan kalau tidak bisa mengontrol diri.

Kondisi-kondisi seperti itu kelihatannya wajar padahal sudah kehilangan kewajaran menjadi manusia yaitu makhluk sosial yang secara nyata perlu membangun komunikasi dua arah yang aktif sehingga terbangun sebuah kebiasaan etika dan empati. Pelan-pelan menyadarilah bahwa hidup bukan sekedar mencari kenikamatan atau keasyikan sendiri tanpa memperdulikan sebuah lingkungan. Boleh bermedsos tetapi ada kontrol bahwa hidup ini nyata bukan dunia maya.

Kenikamatan kopi itu diseduh air panas bukan tampilan gambar didunia maya, kenikmatan pisang goreng itu ada dalam balutan tepung yang digoreng dalam panas nya minyak goreng, kenikmatan teh poci yaitu adanya rasa sepet, legi (manis) dan pahit-pahit serta aroma khas dan itu disajikan secara nyata bukan download dari internet.

Dengan mulai melatih hidup dalam kewajaranya itu keseimbangan pola hidup tentunya akan berdampak baik pula pada perubahan emosi yang stabil, meningkatnya nafsu makan, tidur nyenyak, hadir dalam lingkungan, belajar untuk tetap sportif yaitu tidak selalu membenarkan dirinya sendiri tetapi mau rendah hati mengakui salah bahkan mau meminta maaf.
Selamat menuju perubahan sebab hidup itu mesti punya keringat sehingga badan tidak malas bergerak untuk menujus ehat…. Selamat berakhir pekan bersama keluarga, kerabat atau teman dekat Anda.
SELESAI

Jakarta,
Sabtu, 28 Oktober 2017
DarBendet

back to top