Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Cinta Bahasa Indonesia

foto/m tempo.co foto/m tempo.co

Oleh: Lukas S. Ispandriarno


Minggu 13 Maret 2016 pukul 07.58 seorang rekan mengirim tautan media di jejaring sosial WhatsApp: pakar-bahasa-indonesia-js-badudu-tutup-usia. Empat menit kemudian saya membalasnya: “Berapa persen WNI cinta bahasanya?” Sembilan belas menit setelah itu muncul tanggapan: “Cinta, Pak? Tapi apakah mencintai dengan benar?” Di bawahnya terpampang emoticon wajah tertawa. Dua tanggapan berbeda hadir tiga puluh menit berikutnya, masih tentang cinta. Hingga saya memulai tulisan ini sekitar pukul 17.00, tak ada lagi balasan atas pertanyaan saya, dan dari 38 anggota kelompok hanya tiga orang memberikan tanggapan.

Berita kepergian Jusuf Sjarif Badudu, atau dikenal sebagai Yus Badudu, atau perkara cinta Bahasa Indonesiakah yang tidak menarik perhatian? Entahlah. Tiga rekan yang menanggapi pesan tak juga menjawab pertanyaan, misalnya menyebut angka ratusan, ribuan atau jutaan.

Sudah sering saya mengatakan di kelas bahwa ada jutaan warga negara Indonesia yang tidak mencintai bahasanya. Boleh jadi ini hitungan ngawur. Dasarnya adalah temuan di sejumlah kelas saat memeriksa karya tulis mahasiswa. Pada matakuliah semester awal, dari 40 mahasiswa lebih dari separuh menulis dengan salah, antara lain kata: di mana (dimana), dimakan (di makan), lihat (liat), negatif (negative), dinaikkan (dinaikan), bekerja (berkeja), yang (yg), Indonesia (indonesia). Kesalahan seperti di atas juga saya temukan dalam karya tulis mahasiswa di semester lebih tinggi, bahkan juga di skripsi. Dan yang lebih memrihatinkan, kesalahan dasar antara lain menulis ke depan (kedepan), dimakan (di makan) juga dilakukan oleh rekan sejawat. Mereka saya golongkan sebagai warga negara yang tidak cinta pada bahasa Indonesia. Cinta di sini saya artikan sebagai kepedulian untuk menulis dengan benar, sesuai kaidah. Dengan temuan ini, saya menduga lebih dari separuh mahasiswa di kampus saya, sekitar 5000 orang melakukan kesalahan yang sama. Bagaimana dengan dosen?

Apakah temuan ini mengada-ada atau cengeng? Ah, itu perkara kecil, tidak penting, sepele! Memang saya pernah berdiskusi di facebook dengan seorang jurnalis yang secara spontan mengatakan kesalahan seperti itu hanyalah kesalahan kecil. Kekhawatiran saya dengan kesalahan mendasar tersebut karena terjadi di lingkungan kampus dan berupa tulisan resmi, makalah atau karya ilmiah. Bukankah Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam penulisan karya ilmah seperti diamanatkan Pasal 35 ayat (1) Undang Undang RI Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan? Tentu yang dimaksud wajib digunakan adalah wajib dipakai dengan baik atau memenuhi ketentuan Pasal 3 ayat a.b.c. yakni untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, menjaga kehormatan dan menciptakan ketertiban, kepastian dan standardisasi.

Setiap kali menayangkan karya tulis mahasiswa sebagai evaluasi saya mengajukan pertanyaan, mengapa Anda melakukan kesalahan ini? Jawaban dengan cepat meluncur, karena kebiasaan. Ketika saya ajukan pertanyaan lebih lanjut, sejak kapan kebiasaan ini dilakukan, jawabannya, sejak di sekolah. Apakah tidak pernah dilakukan evaluasi seperti saat ini, jawabannya, tidak. Tentu saja saya tidak yakin dengan jawaban tersebut. Benarkah guru SMA tidak mengoreksi kesalahan berbahasa para murid?

Kekhawatiran atau keprihatinan saya semakin besar karena kesalahan mendasar itu dilakukan lebih banyak warga Indonesia saat berkomunikasi dengan menggunakan gawai. Berbahasa Indonesia secara tertulis di media sosial dianggap sebagai bahasa lisan sehingga seolah tidak ada tata krama sama sekali. Pelakunya tidak hanya mahasiswa, tetapi juga dosen atau kaum cerdik pandai, intelektual atau warga dengan macam-macam profesi. Kendati tidak ada kewajiban berbahasa Indonesia dengan baik di media sosial, namun menulis “apa adanya” semakin menebalkan “kebiasaan” melakukan kesalahan dalam berbahasa tulis. Bahasa Indonesia hanya berperan sebagai sarana komunikasi antar warga tidak peduli ditulis dengan benar atau tidak.

Semoga Yus Badudu beristirahat dengan tenang dan damai di alam sana. |*Lukas S. Ispandriarno, dosen FISIP UAJY.

 

back to top