Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next
Ardhie Raditya

Ardhie Raditya

Dosen Pendidikan Kritis dan Kajian Budaya di Departemen Sosiologi Unesa,
Pengurus HIPIIS Jatim, tinggal di Madura

Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it. Website URL:

BELAJAR MEMAFKAN, MEMULIHKAN HARAPAN

Warisan Berharga Bagi Anak-Anak Korban Kerusuhan

Suhu udara di pulau Madura memang terasa panas. Bahkan, orang-orang di desa pedalaman Madura sudah terbiasa mengenakan pakaian hampir setengah telanjang untuk mengusir rasa panas. Tetapi, panas di Sampang tergolong paling ekstrem dibandingkan daerah lainnya. Panas di Sampang tidak hanya dipicu sengatan panas alamnya, melainkan juga oleh kehidupan sosial masyarakatnya.

WARISAN AFI YANG TERCEMAR: MENGENCINGI AIR ZAM-ZAM

Terlepas dari adanya skenario massif, sistematis, dan terstruktur oleh kubu politik tertentu, mencuatnya nama Afi, perempuan kelahiran Banyuwangi, tidak pantas disandingkan dengan sosok Malala Yousafzai. Usia keduanya memang tidak terpaut jauh. Bulan kelahirannya sama: Juli. Sama persis dengan bulan kelahiran Saya. Malala lahir pada 12 juli 1997. Sedangkan, Afi lahir pada 23 juli 1998.

MUTIARA DARI MULUT ANJING: HIKMAH YANG (TAK) DIRINDUKAN

Adinda Afi, banyak orang bilang engkau adalah bocah ingusan. Tetapi, dari segi usia engkau sesungguhnya tergolong orang dewasa. Bahkan, dari goresan teks yang engkau suguhkan di media, dari yang berbasis online hingga sosial media, menunjukkan kematanganmu berpikir tentang politik multikultural di negeri kita. Terutama pula, ulasanmu mengenai agama kasih memperlihatkan bahwa pengetahuanmu tampak seluas samudra.

PENDIDIKAN YANG DILACURKAN: BELAS KASIH UNTUK AFI

Melalui detik.com (29/05), tulisan Afi Nihaya Faradisa tentang “Pezina yang Diampuni: Belas Kasih dalam Islam” menuai banyak tanggapan publik. Salah satu dari tanggapan itu adalah tulisannya dituduh ‘plagiat’. Entah mengapa detik.com memuatnya dan penulisnya tak berpikir kritis mengapa tulisan dari status facebooknya tiba-tiba tersebar luas.

TERORISME LAPIS LEGIT

Untuk kesekian kalinya, aksi terorisme mengguncang Indonesia. Kali ini terorisme menimpa ibu kota negara. Tepatnya, di kampung Melayu, Jakarta Timur. Sejumlah orang meninggal dunia. Termasuk pihak aparat keamanan yang tengah berjaga. Sementara itu, dua pelakunya tewas secara mengenaskan. Bahkan, kepalanya ada yang terpisah dari anggota badannya.

MENGUNYAH KUE KEBANGKITAN

Mendengar kata bangkit, saya teringat dua hal. Pertama, bagi masyarakat Madura, ‘bangkit’ merupakan sejenis kue yang disajikan pada saat lebaran tiba. Bahan baku utamanya adalah tepung dan mentega. Beragam rupa bentuknya. Ada yang berbentuk cinta, kotak-kotak, bulatan hingga segi tiga.

CERMIN RETAK PENDIDIKAN

Tatkala para pendidik di institusi pendidikan dikebiri masa depannya, maka pendidikan yang sering dimaknai sebagai sarana pencerdasan kehidupan bangsa layak untuk dipertanyakan. Betapa tidak, di sejumlah daerah sering terdengar segudang kasus keterlambatan pemberian tunjangan dan kesejahteraan bagi para pendidik kita.

Mendidik pendidikan, Merawat kehidupan


Tanggapan Atas Tulisan Yudi Latief


Yudi Latief pernah menulis artikel berjudul “Pendidikan Tanpa Mendidik” di harian Kompas pada tanggal 4 Agustus 2016. Di bagian awal tulisannya, bung Yudi mempertanyakan kualitas sistem pendidikan di Indonesia.

Menurutnya, pendidikan di negeri ini tampaknya melenceng dari orbitnya karena dibajak oleh kekuatan besar bernama birokrasi.

Tetapi, ada yang mengganjal dari tulisannya. Apabila dicermati secara keseluruhan, refleksi pendidikan yang dia tuliskan itu menyimpan agenda politik. Yakni, mendukung program Full Day School dan mengkritisi budaya mengantarkan anak ke sekolah.

Pendidikan memang bukan perkara transfer pengetahuan dan materi bahan ajar. Pendidikan hakiki berkaitan dengan aktivitas mengisi waktu luang untuk memahami kehidupan sebagai bentuk mempertajam akal budi. Akal budi merupakan pembeda dasar antara manusia dan binatang. Dalam perspektif teori kritis dan pendidikan kritis, akal budi diistilahkan dengan kesadaran.

Akal budi perlu dibedakan dengan kecerdasan. Menurut Erich Fromm (1955) akal budi tidak sama dengan kecerdasan. Kecerdasan merupakan suatu kemampuan memanipulasi konsep-konsep dengan maksud praktis.

Keterampilan menyelesaikan soal-soal adalah salah satu contoh mengukur kecerdasan siswa. Sementara, akal budi merupakan kemampuan mencerap, memahami, sekaligus menghayati realitas sosial dalam rangka meneguhkan eksistensi mental, sosial, dan spiritual.

Karena itu, siapapun yang memiliki skala kecerdasan tingkat tinggi tak akan secara otomatis berakal budi. Alat-alat teknologi adalah produk kecerdasan (intelegensi) di bidang ilmu pengetahuan. Tapi, di tangan orang yang tidak berakal budi ia akan digunakan sebagai tindak terorisme, kejahatan, penjajahan, industri perang, dan pembantaian umat manusia.

Tahapan kesadaran

Akal budi atau kesadaran manusia memang berkembang secara bertahap. Menurut Piaget (1952), ahli pendidikan berkebangsaan Swiss, mengatakan bahwa asal mula kesadaran anak-anak manusia bermula dari suatu skema di dalam struktur dasar kognitifnya. Skema ini merupakan piranti lunak dalam berbagai proses adaptasi, mengkoordinasikan objek, pengalaman, dan pengetahuan mereka.

Setidaknya ada empat tahapan perkembangan skema manusia. Pada usia anak 0-2 tahun, skema berfungsi pada proses sensormotorik. Pada usia 2-7 tahun skema meningkat pada praoperasi seperti mengasah keterampilan berbahasa.

Usia 8-11 tahun skema anak mulai bekerja di tahapan operasi kongkrit, seperti klasifikasi dan komparasi benda-benda, serta belajar pemecahan masalah sederhana. Terakhir, usia 11 tahun ke atas yang ditandai oleh kemampuan berpikir logis, abstraktif, analitis, hingga reflektif.

Berdasarkan tahapan perkembangan kesadaran anak inilah maka otonomi diri dan jati diri yang diharapkan Yudi tampaknya bukan hanya tidak realistis untuk peserta didik pendidikan dasar. Melainkan juga, terkesan semena-mena kepada mereka yang belum berkembang kesadarannya. Karenanya, gagasan Yudi dapat dianggap mitos pendidikan.

Meskipun administrasi dijunjung tinggi dibandingkan pengkayaan akal budi di dalam gerak langkah pendidikan kita, bukan berarti anak-anak yang masih mengenal dunia kemudian diajak melakukan pemberdayaan, perlawanan dan perubahan sosial di sekitarnya.

Bagaimana mungkin efektif jika dunia anak adalah dunia main-main justru diajak memetakan persoalan sosial pendidikan yang begitu kompleksnya ? Pendidikan macam apa ini jika dunia anak-anak dirampas secara paksa demi kepentingan orang dewasa ?

Mentalitas sosial pendidikan

Mazhab kognitif di atas memang bukanlah satu-satunya penentu esensi pendidikan. Karena, pendidikan juga bertali-temali dengan persoalan mentalitas atau kejiwaan. Adalah Vygotsky (1978), pakar psikologi pendidikan dari Rusia yang mengatakan bahwa kemampuan mental pembelajar amat ditentukan oleh dua tataran. Yakni, tataran sosial dan psikologis.

Pada tataran sosial kemampuan mental pembelajar itu dipengaruhi oleh interaksi sosial di sekitarnya. Pengetahuan, pengalaman, hingga suara hati (kesadaran moral) tidak hanya ditentukan oleh guru sekolah. Melainkan juga orang tua, teman sebaya, serta dimensi kehidupan masyarakatnya. Inilah yang disebut sebagai intermental atau interpsikologis pembelajar.

Pada tataran psikologis, para pembelajar menginternalisasikan nilai-nilai yang didapatkannya dari lingkungan sosialnya. Hal ini yang bisa menentukan kejiwaan, kebiasaan, motivasi, emosi, sikap mental mereka. Dari sinilah pemahaman tentang jati diri, martabat, dan penajaman empati sosialnya menjadi penting bagi proses pendidikan.

Itulah sebabnya, para pembelajar membutuhkan banyak pendampingan dan pembimbingan dari banyak orang-orang strategis selama menjalani jenjang pendidikan. Maka, mengantarkan anak-anak ke sekolah merupakan strategi yang baik bagi psikologi pendidikan para pembelajar.

Namun, menjadi tidak sehat secara psikologis bila anak-anak terlalu lama di sekolah. Karena, mereka akan tercerabut dari lingkungan sosialnya dan kehilangan waktu keintiman dengan keluarganya.

Apalagi, di tengah ketimpangan sosial ekonomi yang melanda masyarakat industrial saat ini. Membuat mereka yang terhempas dari program pemerataan pembangunan mudah mengambil jalan pintas sebagai pelaku kejahatan.

Selain perempuan, korban paling rentan dari kondisi masyarakat yang sakit ini adalah para pembelajar, terutama anak-anak. Bukankah kita sering mendengar kasus penculikan anak karena minimnya pengawasan orang tua ?

Bukankah kita juga sering menyaksikan berbagai kasus kekerasan terhadap anak di sekolah karena ulah guru yang semena-mena dan teman sebaya yang berbeda kasta sosial ekonominya ?

Pendidikan pertama-tama yang dijalani ras manusia adalah pendidikan di rumah, pendidikan berbasis keluarga. Guru utama dan pertama anak manusia adalah ibu. Itulah sebabnya, ajaran Islam menegaskan bahwa dari ibulah terpancar ridho tuhannya. Ibu merupakan sumber cinta bagi semua anak-anaknya, tanpa pilih kasih.

Namun, kultur patriakhi yang terus berkembang dalam kehidupan masyarakat kita berhasil memposisikan kaum perempuan sebagai objek domestifikasi kaum laki-laki. Efek lanjutnya membuat pendidikan yang mulanya bernilai matriarkal berubah menjadi pendidikan sarat dominasi patriarkal.

Sistem birokrasi yang dibangun melalui rasionalitas instrumental adalah wujud transformasi dominasi patriarkal. Karena, kultur patriarkhi adalah menekan perasaan dan intuisi sebisa mungkin supaya laki-laki tampak lebih kokoh dan kuat dihadapan perempuan. Sistem birokrasi membekukan dan meniadakan sifat-sifat kebatinan dan kejiwaan dalam hubungan antar manusia.

Sehingga, sistem birokrasi ini membuat agen-agen pendidikan, baik guru maupun siswa, kehilangan makna keintiman dan kehadiran dalam proses interaksi sosial di lembaga pendidikan. Mereka pun lantas terasing tidak hanya dari dirinya sendiri, melainkan juga dari tujuan hakiki pendidikan untuk menciptakan manusia bermartabat dan saling mencintai di antara sesama.

Penyatuan diri dengan sesama tanpa mengabaikan pengembangan jati diri manusia adalah kunci budaya cinta. Melalui budaya cinta, semestinya belajar memberi makna dan menamai sesuatu di dalam maupun di luar pendidikannya harus dilakukan guna memperkokoh akar pendidikan yang terdiri dari rasa saling menghormati, menyayangi, dan peduli di antara sesamanya (Raditya, 2014).

Akhirnya, kita harus terus bergerak bersama merawat akal budi, mentalitas para pembelajar, dan kesehatan jiwa masyarakat melalui trayek pendidikannya. Semoga, inilah yang disebut mendidik pendidikan kita dalam rangka merawat kehidupan manusia agar terus tumbuh dengan pelita cinta.


Daftar Pustaka

Ardhie Raditya, 2014. Pendidikan Kritis Kontemporer, Surabaya: Unipress

Erich Fromm, 1955. The Sane Society, UK: Routledge and Kegal Paul

Jean Piaget, 1952. The Child’s Conception of Number, London: Routledge and Kegan Paul

L.S. Vygotsky, 1978. Mind In Society, USA: Harvard University Press


Surat cinta untuk rezim pendidikan

Kepada yang terhormat rezim-rezim pendidikan. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. Berkat rahmat Allah yang Maha Kuasa, kita semua dapat menghirup udara kemerdekaan. Berkat ridhoNYA pula, penjajahan di atas bumi tercinta ini berhasil dihapuskan puluhan tahun lamanya dengan daya perjuangan yang tiada terkira.

Subscribe to this RSS feed