Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

AS menciptakan ISIS, Turki melatih ISIS, Qatar yang mendanai ISIS

Ada yang salah dengan foto ini (globalresearch.org) Ada yang salah dengan foto ini (globalresearch.org)

Oleh: Dr. Mohamed Elmasry

Kita disetting meyakini kejahatan yang terorganisir, mendukungnya dan memberi perlindungan politik bagi organisasi teroris.

“Jika Amerika dan sekutunya berani bertanggung jawab untuk diadili atas kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya, begitu pula presiden-juga orang-orang di balik layar yang mendanai, melatih dan bekerjasama dengan ISIS dan sejenisnya; termasuk Turki, Qatar dan Ikhwanul Muslimin,“ tulis pengamat Amerika, James Lewis pada 26 Februari 2015.

Lewis menambahkan:
    "... Persaudaraan pemerintahan Obama degan Ikhwanul Muslimin, dengan semua penetrasi ke dalam pemerintah, termasuk Departemen Pertahanan, telah berdampak buruk terhadap kebijakan kami, khususnya yang berkaitan dengan Timur Tengah perang global melawan terorisme. Staf kepala gabungan tahu bahwa apa yang kita tengah lakukan kepada Irak dan Suriah untuk mematahkan ISIS merupakan tindakan yang salah.

Berdasarkan persetujuan mereka terhadap kebijakan perang setengah hati pemerintah, mereka tidak bisa menghindar dari tanggung jawab atas kejahatan genosida Negara Islam terhadap pada penduduk Suriah Kobani, Kurdi dan minoritas lainnya. "(Cetak miring oleh Lewis).

Tentara teroris Negara Islam (juga disebut ISIS dan ISIL) terdiri dari orang asing, terutama umat Islam. Tapi baik jumlah non-Muslim dengan pengalaman militer juga mengisi jajaran yang lebih tinggi.

Banyak orang tidak tahu atau lupa (itu sudah disimpan sangat tenang) bahwa tentara IS diciptakan empat tahun lalu oleh AS untuk menggulingkan rezim diktator Suriah Bashir Al-Assad.

Bahkan Turki yang dipimpin oleh masyarakat muslim terlibat dalam ISIS. Sebagai anggota NATO, Turki telah lama menyediakan perekrutan, intel, pelatihan dan persenjataan (termasuk aliran harian amunisi dan suku cadang) atas nama kepentingan AS. Irak, Lebanon dan Yordania, yang juga berbatasan dengan Suriah, tidak menawarkan layanan nyaman ini kepada AS.

Tak berhenti di situ Qatar, negara Arab juga sangat bersedia untuk memberikan bantuan pembiayaan. Qatar memberikan "layanan" yang lain berupa – propaganda.

Qatar meyakinkan umat Islam bahwa pertempuran di Suriah adalah "Jihad" terhadap orang-orang kafir, maksudnya seluruh Suriah. Akibatnya, lebih dari 10 juta telah melarikan diri dari negara itu selama empat tahun terakhir, banyak warga lainnya mengungsi.

Selain itu guna melancarkan tujuan, pemimpin spiritual dari Ikhwanul Muslimin,  Sheikh Youssef Qaradawi mengeluarkan fatwa melalui TV Qatar Al-Jazeera. Dirinya mendesak umat Islam di manapun berada untuk bergabung dengan Negara Islam.

Perekrutan mulai dari utara Kanada, selatan Malaysia, hingga ke Turki. Di sana, mereka disambut oleh intelijen Turki untuk menjalani pelatihan dan indoktrinasi kemudian diserahkan kepada petugas Turki di lapangan.

Jadi ini kampanye teror aneh di balik layar Amerika terhadap Suriah. Pembiayaan dari Qatar, peralatan Amerika dan pelatihan Turki, itu seperti pernikahan di surga.

Tapi kemudian masalah muncul dalam skema pintar ini.

IS militan mulai memenggal kepala orang Barat dan menggunakan jangkauan universal media sosial untuk memastikan bahwa seluruh dunia bisa melihat pembunuhan mengerikan.

Pada saat itu AS menegaskan kepada masyarakat internasional bahwa itu bertentangan, namun tidak pernah mencegah Turki dan Qatar. Mereka terus merekrut, melatih, mempersenjatai dan mendanai pejuang IS.

Pada tanggal 6 Maret Deputi Inspektur Jenderal Polisi Malaysia mengatakan dalam New Straits Times, "Dengan bantuan lembaga penegak internasional, kami telah mengidentifikasi lebih dari 60 warga Malaysia yang telah bergabung IS militan di Suriah." Dia menambahkan bahwa setiap orang Malaysia yang terlibat akan ditangkap dan diselidiki kembali.

Empat tahun sudah AS  mengorganisir, merekrut, melatih, mempersenjatai, membiayai, memperalat agama dan politik mengkampanyekan teror ISIS. Kini AS masih memainkan peran sebagai penegak keadilan di panggung internasional.

Pemerintahan Obama tampak benar-benar jujur. Bahkan ​​pada 18-19 Februari Gedung Putih menjadi tuan rumah Summit on Countering Violence and Extremism, sebuah pertemuan mengkonter aksi terorisme di dunia.

-Penulis: Dr. Mohamed Elmasry, seorang Mesir-Canada, Profesor teknik di Universitas Waterloo. Kontak dengan beliau bisa melalui This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.(disarikan dari Global Research.org)

back to top