Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal

Transportasi kota tak bisa dibebankan pada satu modal
Surabaya – KoPi | Jumlah kendaraan di Surabaya pada tahun 2014 mencapai 4,4 juta unit. Roda dua menjadi yang terbanyak, sekitar 3,55 juta unit. Pertambahan jumlah kendaraan roda empat mencapai 4 ribu unit per bulan, sedangkan kendaraan roda dua mencapai 12 ribu unit per bulan. Bandingkan dengan panjang jalan Surabaya yang hanya mencapai 2.096.690 meter.

Melihat angka tersebut tentu saja sudah menggambarkan bagaimana gawatnya kondisi jalanan di Surabaya. Jumlah kendaraan terus meningkat, sementara jalan tidak bertambah panjang. Perlunya transportasi umum yang bersifat massal, murah, dan cepat semakin tak terelakkan demi mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya.

Meski demikian transportasi umum di Surabaya tidak bisa dibebankan pada satu moda transportasi saja. Penulis buku Surabaya Punya Cerita, Dhahana Adi, mengatakan kemacetan Surabaya tidak bisa diatasi hanya dengan pembangunan trem dan monorel saja. Sinergi antara transportasi umum lain seperti bus kota dan angkutan umum perlu dilakukan.

“Trem itu hanya salah satu alternatif untuk mengimbangi kemacetan dan menambah efektivitas angkutan umum lain. Sebaiknya trem dan monorel disandingkan dengan transportasi lain dan menjadi opsi warga Surabaya,” ujar Ipung, panggilan Dhahana.

Masyarakat seharusnya bebas memilih transportasi umum mana yang lebih cocok untuknya, baik harga, jalur, maupun ketepatan waktunya. Yang penting tidak mengubah blue print transportasi massal yang sudah ada.

“Ini semua bergantung pada kesanggupan pemerintah. Pemerintah jangan memperlakukan pembangunan trem ini sebagai euforia sesaat. Ketika lihat macet, langsung cetuskan bangun trem. Seharusnya transportasi umum sesuaikan dengan kondisi tata kota dan harus terstruktur untuk jangka panjang,” kata Ipung.

Pemerintah perlu mengubah pola pikir masyarakat tentang transportasi publik. Selama ini masyarakat menganggap menggunakan transportasi umum memakan waktu yang lebih lama dibanding kendaraan pribadi. 

“Seharusnya pemerintah mampu menjelaskan pada warga bahwa transportasi massal itu moda alternatif untuk efisiensi waktu,” lanjutnya.

 

back to top