Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pesan Fatma Saifullah Yusuf tentang perempuan

  • Published in Sosial

Surabaya-KoPi| Perempuan merupakan posisi setara dalam setiap hubungan sosial masyarakat dengan peran dan fungsi strategis. Masyarakat menghadapi tantangan multidimensi baik secara sosial, ekonomi dan politik. Faktanya kaum perempuan, ibu, merupakan subyek sosial yang masih harus terus ditingkatkan kapasitasnya dalam menjawab tantangan multidimensi.

Demikian pesan Dra. Hj. Fatma Saifullah Yusuf kepada para perempuan dan ibu melalui pidatonya di hadapan Ikatan Istri Dokter Indonesia (IIDI) pada Hari Rabu (3/1/14). Pada perhelatan IIDI dalam rangka peringatan Hari Ibu ke-87 dan sekaligus serah terima kepengurusan lama periode 2008-2015, mengambil tema "Ikatan Istri Dokter Indonesia Berperan Serta dalam Program Nasional Gerakan Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker pada Perempuan untuk Menuju Indonesia Sehat".

Fatma hadir di acara IIDI tersebut sebagai Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Timur yang mana IIDI cabang Kota Surabaya merupakan salah satu anggota BKOW. Fatma menyatakan bahwa IIDI telah menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat secara baik.

"IIDI telah berperan serta dengan seluruh daya upaya mewujudkan masyarakat sehat dan sejahtera selain menjadi garda terdepan mendampingi profesi suami tercinta dalam menjalankan tugas dan baktinya."

Perempuan berkacamata yang aktif menggalakkan kegiatan kemanusiaan dan pemberdayaan ini, menjelaskan bahwa kaum perempuan sesungguhnya berperan sebagai motor perubahan (agent of change). Maknanya, perempuan dimandati oleh masyarakat untuk melakukan banyak hal positif dalam rangka menjawab masalah atau tantangan dalam masyarakat.

Pada kesempatan itu, Fatma yang juga merupakan istri Saifullah Yusuf Wakil Gubernur Jawa Timur, memberi tiga catatan kepada IIDI. Pertama, IIDI Kota Surabaya telah membuktikan eksistensinya sebagai organisasi yang matang. Namun demikian IIDI Kota Surabaya harus bisa menumbuhkan berbagai program kegiatan yang menggalang kepedulian sebagai strategi mencapai visi misi. 

Kedua, IIDI cabang Surabaya perlu membangun jaringan kerjasama dengan organisasi-organisasi perempuan lainnya, organisasi pemerintah dan non pemerintah yang memiliki keberpihakan kepada ibu dan anak. Ketiga, IIDI Cabang Surabaya berhasil menyusun kepengurusan baru periode 2015-2018 yang menandakan organisasi ini memiliki kekuatan untuk terus bekerja untuk masyarakat luas khususnya perempuan dan anak. |YP|

Read more...

Perempuan menderita akibat kerusakkan hutan

Jogja-KoPi| Kerusakan hutan tidak hanya menyebabkan bencana alam, namun juga berdimensi gender. Perempuan menjadi salah satu korban yang menderita akibat kerusakan hutan, dikarenakan perempuan memiliki fungsi reproduksi, konsumsi dan produksi. Aksi pengrusakan hutan berbanding lurus dengan penderitaan yang dirasakan perempuan.

Read more...

Rahasia perempuan di Jawa Timur

  • Published in Sosial

Surabaya-KoPi | Jawa Timur menjadi salah satu pilar utama ekonomi nasional baik dalam bidang industri besar dan kecil menengah serta pertanian. Fakta ini tidak lepas dari kontribusi para perempuan, dan organisasi perempuan, dalam bidang pemberdayaan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan oleh Fatma Saifullah Yusuf ketika ditemui KoPi di sela acara ulang tahun organisasi perempuan Warisan Kasih hari ini (22/10/15) di Gedung Juang 45 Surabaya. 

"Peran perempuan dalam membangun kekuatan ekonomi sosial di Jawa Timur makin besar. Alhamdulillah berbagai pelatihan bisnis dan kepemimpinan untuk para perempuan bisa berkembang menjadi kekuatan kemandirian."

Fatma yang diminta memberi sambutan sebagai Ketua Umum Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Jawa Timur menyatakan dalam sambutannya bahwa organisasi perempuan harus menjadi kekuatan perubahan positif. Anggota-anggota organisasi yang memiliki keterampilan dan jejaring bisnis bisa menularkannya pada masyarakat. Hal tersebut juga menjadi jawaban bahwa berdirinya organisasi tidak hanya melaksanakan kegiatan amal atau kemanusiaan (charity).

"Selain kegiatan bantuan-bantuan sosial, organisasi perempuan harus melakukan pemberdayaan kepada masyarakat. Pemberdayaan sosial seperti peningkatan kemampuan kepemimpinan maupun pemberdayaan ekonomi seperti pelatihan bisnis."

Fatma menjelaskan keseimbangan antara kegiatan kemanusiaan dan pemberdayaan adalah kunci dari perubahan masyarakat yang berkeadilan, makmur dan sejahtera. 

"Inilah rahasia para perempuan di Jawa Timur, mereka selalu aktif dan bekerja keras untuk kepentingan masyarakat luas." Jelas ibu dari Selma, Daffa, Rayhan dan Reno ini.

Erlin Rusiawati, Ketua Warisan Kasih, menjelaskan dalam sambutannya bahwa organisasi perempuan yang dipimpinnya telah melakukan kegiatan sosial seperti memberi beasiswa dan bantuan sosial kepada mereka yang membutuhkan.

Peringatan ulang tahun ke-2 Warisan Kasih juga diisi kegiatan pengobatan gratis bagi 600 veteran dan berbagi informasi tentang perkembangan kegiatan perempuan. | AGW |

 

Read more...

Perempuan-perempuan penembus batas patriarkhi

  • Published in Sosial

KoPi | Jumlah perempuan mencapai 78.083.952 jiwa, atau 49 persen dari total populasi penduduk Indonesia tahun 2014. Mereka bukan hanya sekedar angka, namun fondasi dari hidup berbangsa dan bernegara. Sebab peran para perempuan bersifat dualitas, yaitu peran sebagai agensi pendidikan para generasi, sekaligus penggerak transformasi bidang ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan. Namun demikian, masih cukup besar para perempuan dalam kondisi tergenggam dominasi patriarkhi, sehingga mereka termarjinal, tergagap, dan terseok di lembah ketidakberdayaan.

Marjinalisasi perempuan sesungguhnya mengingkari substansi dari setiap nilai kemanusiaan dan keagamaan. Nilai kemanusiaan, sebagaimana tercantum dalam kesepakatan hak asasi manusia, menempatkan perempuan sebagai manusia yang tidak berbeda dari laki-laki. Sebab perempuan terlahir dalam kondisi alamiah yang sama dengan laki-laki, dimana Tuhan meniupkan ruh dan memberikan napas kebebasan di dunia.

Nilai keagamaan, Islam misalnya, tidak menempatkan perempuan secara berbeda di hadapan Tuhan. Perempuan berhak menjalankan fitrahnya sebagai manusia. Bebas memilih siapa yang akan dinikahinya, pula bebas pula untuk meminta laki-laki mana yang diinginnya. Betapa agama telah memberi penanda yang jelas bagaimana perempuan sederajat dengan laki-laki.

Prof. Emy Susanti, Sosiolog Universitas Airlangga, sambil menarik napas dalam-dalam menjelaskan kepada KoPi di antara pertemuan dengan para tokoh perempuan Indonesia di Jakarta (26/2/14).

"Namun intepretasi kaum laki-laki terhadap sistem dan nilai di setiap wilayah kehidupan baik ekonomi, politik dan sosial sungguh keluar dari nilai kemanusiaan dan keagamaan itu sendiri. Sistem dan nilai yang memarjinalisasi para perempuan bukan bersumber dari kemanusiaan dan agama, namun kepentingan laki-laki".

Menurut profesor perempuan pertama di Departemen Sosiologi Universitas Airlangga tersebut, marjinalisasi perempuan oleh patriarkhi tidak sekedar merugikan perempuan. Marjinalisasi itu merugikan proses menuju masyarakat yang lebih kuat dan terhormat dari segala sisi. 

Menurutnya, pemberdayaan perempuan sesungguhnya bukanlah untuk perempuan itu semata namun untuk kepentingan nasional. Oleh sebab itu, dia mengharap negara memiliki strategi cerdas dan konsisten dalam pemberdayaan perempuan. Program-program pemberdayaan yang terintegrasi di berbagai area kebijakan kementerian baik sosial ekonomi, kesehatan, kebudayaan dan pembangunan. | NS 

Read more...
Subscribe to this RSS feed