Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mudik lebaran, antara maslahat dan madharat

  • Published in Sosial

KoPi | Mudik lebaran tidak ada dalam Al-Quran dan hadist. Oleh karenanya mudik lebaran sesungguhnya bukan merupakan praktik yang wajib. Artinya jika tidak mudik maka tidak akan mendapat dosa. Tidak ada fiqih yang secara langsung mengatur mudik lebaran. Namun demikian, praktik mudik lebaran direproduksi oleh masyarakat seperti di Malaysia, Indonesia, dan Filipina.

Pertanyaan sederhana terkait fenomena mudik, apakah praktik ini memberi maslahat (kebaikan) atau madharat (keburukan) terhadap individu ataupun masyarakat. Novri Susan (NS), sosiolog dari Universitas Airlangga, memberikan perspektif kemasyarakatan terkait fenomena mudik. Menurut sosiolog berwajah oriental ini ketika ditemui beberapa waktu lalu, praktik mudik lebaran merupakan kelembagaan sosial yang terbentuk di atas penafsiran keislaman di nusantara.

"Mudik lebaran memang tidak ada dalam teks baik Al Quran maupun Hadist. Namun praktik ini merupakan tafsir terhadap sumber-sumber hukum dan nilai keislaman. Misal silaturahmi yang merupakan bahan paling penting dalam penguatan modal sosial".

Modal sosial menurut NS merupakan prasyarat dari terbentuknya masyarakat yang kuat, stabil, harmoni dan dinamis. Sebab berbagai individu memiliki hubungan yang baik, saling percaya dan memiliki jejaring kerjasama konstruktif dalam bidang sosial ekonomi, dan bahkan politik. Modal sosial konstruktif tersebut merupakan konsekuensi yang diharapkan oleh nilai silaturahmi dalam Islam.

"Oleh karenanya, mudik lebaran memiliki ideal membentuk modal sosial konstruktif yang mampu menciptakan masyarakat dan bangsa Indonesia yang kuat. Ideal ini ada dalam intepretasi kenusantaraan terhadap ajaran mulia Islam."

Namun demikian, NS menjelaskan bahwa ideal dari praktik mudik lebaran tidak selalu bisa diwujudkan oleh sebagian masyarakat. Praktik mudik tidak lagi menjadi kekuatan membentuk modal sosial konstruktif, namun sebaliknya menciptakan jurang kesenjangan sosial, prasangka, iri dan dengki, serta pelembagaan materialisme hedonis.

"Ada sebagian masyarakat yang memakna mudik lebaran bukan dari keislaman lagi, namun dari kepentingan mereka memperlihatkan status sosial, kelas dan kekayaan. Tentu ini bukan bagian dari tafsir mudik ala masyarakat Islam. Namun tafsir mudik dari paham materialistik hedonis. Yaitu paham yang menempatkan akumulasi kekayaan material sebagai sumber kebahagiaan".

Sosiolog yang hobi menulis puisi ini memperlihatkan bahwa praktik mudik lebaran memiliki dua sisi maslahat dan madharat. Sisi maslahat apabila merupakan proses interpretasi terhadap nilai-nilai Islam seperti silaturahami, saling berbagi rejeki, dan membangun jejaring kerjasama yang baik. Artinya praktik mudik lebaran adalah kelembagaan modal sosial yang konstruktif.

Sebaliknya, sisi madharat atau destruktif, ketika mudik lebaran diintepretasi oleh kepentingan materialisme hedonis. Tafsir kepentingan ini bahkan menciptakan fenomena prasangka, kecemburuan, dan bahkan kriminalitas. Banyak para pelaku mudik yang ingin dianggap sukses secara material, memilih jalan sebagai pelaku tindakan kriminal seperti korupsi, pencurian, dan pengedaran obat-obat terlarang. |AG

Read more...

Mudik Ramah Anak, antisipasi kelalaian pemudik

  • Published in Sosial
Jakarta - koPi | Mudik saat hari raya memang menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Sehingga libur nasional tersebut dijadikan moment untuk kembali ke kampung halaman masing-masing. Untuk menghindari tiingginya kecelakaan saat mudik, ini yang dilakukan para sekumpulan pendongeng.
Read more...
Subscribe to this RSS feed