Menu
SKK Migas Wilayah Timur Berharap Adanya Dorongan di Luar Bidang Migas.

SKK Migas Wilayah Timur Berharap Ad…

Sleman-KoPi| Kepala Sat...

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

Prev Next

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Surabaya-KoPi. Fenomena perilaku menyulut mercon dan sampah berserakan ketika hari Idhul Fitri merupakan tanda dari krisis tepo sliro. Demikian Doktor Tuti Budirahayu, sosiolog pakar perilaku menyimpang dari Unviersitas Airlangga menjelaskan kepada KoPi hari ini (31/7/14).

Menurut Tuti, alasan permainan mercon di kalangan pemuda, bahkan orang tua, adalah kesenangan dan kepuasan sendiri di ruang milik publik. Mereka puas mendengar suara letusan keras. Tidak sedikit para pelaku merasa puas ketika ledakan mercon memberi efek takut pada orang lain. Seperti Kodar mengatakan kepada KoPi (29/7/14).

"Senang dan puas jika suaranya keras. Apalagi bisa bikin kaget. Kita sering juga menganggap suara mercon dari lokasi lain sebagai tantangan hehe..."

Nilai sosial tepo sliro menurut Doktor Tuti Budirahayu adalah pengetahuan yang kuat tentang cara bertoleransi pada orang lain di ruang publik. Para individu anggota masyarakat tidak akan menggunakan ruang publik sebagai media mengintimidasi dan memuaskan kepentingan diri sendiri.

"Jika nilai tepo sliro tertanam kuat maka ruang publik akan nyaman. Perilaku menyulut mercon yang menyebabkan ketakutan orang lain, sampah berserakan, dan ketidaknyamanan sosial."

Menurut doktor sosiologi yang sering memberi pelatihan tentang isu-isu pemuda ini, sistem pendidikan dan peranan pemimpin harus dikuatkan dalam penanaman nilai tepo sliro kedalam masyarakat.*

 

Reporter: Winda Nur

back to top