Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Singkong dan ubi yang kembali naik pangkat

Singkong dan ubi yang kembali naik pangkat
Surabaya – KoPi | Anjuran menghidangkan makanan tradisional Indonesia dalam rapat-rapat instansi disebut sebagai salah satu upaya menuju ketahanan pangan nasional. Makanan-makanan tradisional seperti ubi rebus, singkong rebus, pisang rebus, kini naik pangkat dan disajikan di hotel-hotel.
 

Ahli gizi Prof. Bambang Wirjatmadi mengatakan dari dulu sebenarnya masyarakat Indonesia tidak hanya makan beras. Makanan tradisional Indonesia sebetulnya lebih beragam, misalnya ubi, singkong, talas, jagung, sagu, dan lain-lain. “Tapi karena dulu pada masa Orde Baru ada anjuran untuk makan beras, orang Indonesia semuanya mulai beralih makan dengan alasan prestise. Tidak makan beras dianggap miskin. Akhirnya, orang Indonesia jadi melupakan makanan-makanan tersebut,” ungkapnya.

Padahal dari segi kandungan gizi makanan-makanan alternatif tersebut sama dengan beras. “Memang, dibandingkan beras, makanan seperti jagung, singkong, dan ubi memang kekurangan beberapa sumber gizi. Tapi hal itu bisa dilengkapi dengan makanan tambahan,” jelas Bambang.

Misalnya, ketela pohon punya karbohidrat tinggi, sama seperti beras. Kandungan lemaknya juga rendah. Namun kandungan protein ketela pohon kurang dibandingkan beras. “Karena itu singkong sebaiknya dimakan bersama makanan lain seperti kacang-kacangan,” saran Bambang.

Konsumsi makanan seharusnya tergantung pada wilayah. Tidak mungkin memaksa mereka makan makanan tidak bisa diperoleh di tempat mereka. Seharusnya para policy maker menganjurkan makanan tambahan apa yang perlu dikonsumsi bersama makanan-makanan tersebut, bukan memaksa makan makanan yang bukan tradisi mereka.

"Jangan anggap daerah yang masyarakatnya tidak makan beras sebagai daerah yang miskin. Buktinya warga di daerah Selatan Pulau Jawa setiap hari makan singkong baik-baik saja. Banyak juga dari mereka yang sekolah tinggi, kuliah. Masyarakat Papua juga makan ubi dan sagu, tapi mereka kan tidak makan itu saja. Mereka juga biasa menambahkan ikan bakar," ujar Bambang.

back to top