Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok
Surabaya – KoPi | Kementerian Perdagangan berencana membatasi impor rokok elektronik pada tahun 2015 ini. Meski demikian rokok elektronik ini masih populer dikalangan perokok Indonesia. Rokok jenis ini diklaim bebas polusi dan tidak berbau karena mengeluarkan uap, bukan asap. Bagi beberapa pengguna, rokok elektronik disinyalir dapat membantu mengurangi konsumsi terhadap rokok.

Namun kenyataannya beberapa pengguna rokok elektronik mengaku malah semakin giat menggunakan rokok jenis ini. Walau awalnya mereka berniat menggunakan rokok elektronik untuk meninggalkan rokok tembakau, mereka justru malah ketergantungan dengan rokok elektronik.

Adit, salah seorang mahasiswa pengguna rokok elektronik mengatakan, ia menggunakan rokok jenis ini untuk mengurangi kebiasaan merokok. Namun ia justru tak bisa berhenti menggunakan rokok tersebut. Adit mengaku walau rasanya jauh berbeda dengan rokok biasa, ia menikmati rokok elektronik karena mengandung banyak varian rasa.

“Sudah 3 bulan pakai rokok ini, tapi malah nggak berhenti-berhenti,” ujarnya.

Apakah rokok elektronik lebih aman? Ternyata tidak. The New England Journal of Medicine pernah mengemukakan bahwa rokok elektronik melepaskan senyawa formaldehida. Zat tersebut bisa menjadi penyebab kanker (karsinogen) ketika dipanaskan dengan baterai yang diatur pada tegangan tinggi.

Tidak hanya itu, David Peyton, seorang ahli kimia di Portland State University dan rekan-rekannya juga menguji rokok elektronik dengan dua pengaturan tegangan yang berbeda. Hasilnya, formaldehida tidak terdeteksi ketika rokok elektronik dalam tegangan rendah. Tetapi dalam pengaturan tegangan tinggi, kandungan formaldehida bisa 15 kali lebih banyak dari rokok biasa.

Para peneliti dari Washington University juga menemukan rokok ini tidak terlalu efektif dalam mengurangi konsumsi penggunaan pada rokok. Sebaliknya rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok tembakau. Dari penelitian tersebut, perokok tanpa varian rasa lebih berhasil menghentikan kecanduannya 4 tahun lebih cepat dibanding dengan perokok yang menggunakan variasi rasa.

Rokok yang kini digunakan lebih dari dua juta orang ini memiliki jenis varian rasa di dalamnya. Rokok elektronik ini pertama kali dipatenkan oleh apoteker asal Tiongkok, Hon Lik, pada tahun 2003. Ia mendesain rokok elektronik sebagai alat penguap bertenaga baterai yang dapat menimbulkan sensasi seperti merokok tembakau. | Labibah

back to top