Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Risma 'ditampar' tukang becak

Risma 'ditampar' tukang becak
Surabaya – KoPi | Mungkin satu-satunya tukang becak yang berani 'menampar' pejabat sekelas walikota Tri Rismaharini hanyalah Abdul Syukur, atau biasa dipanggil Pak Dul. Sejak Senin (11/5), warga Surabaya diramaikan kabar di media sosial mengenai sosok Pak Dul, tukang becak renta yang setiap malam secara sukarela menambal lubang di jalanan Kota Surabaya.
 

Kisah Pak Dul mulai ramai diperbincangkan warga Surabaya ketika salah seorang netizen Surabaya mengangkat hobi Pak Dul itu di media sosial. Hanya dengan berbekal palu besar, Pak Dul setiap malam berkeliling dengan becaknya, mencari lubang jalan. Lalu dengan batu-batu bekas aspal ia menambal dan meratakan lubang tersebut.

“Ini sudah hobi saya tiap malam. Setelah cari rejeki dengan menjadi tukang becak, malamnya saya selalu mencari bongkahan batu aspal buat nutup jalan yang berlubang. Ya, hitung-hitung abdi saya sebagai warga Kota Surabaya,” tuturnya dalam kisah di media sosial tersebut.

Luar biasa, seorang tukang becak, tanpa dibayar oleh siapapun, mau menambal lubang di jalanan Kota Surabaya. Aksi ini jelas-jelas menjadi tamparan bagi aparat pemerintah Kota Surabaya. Perawatan jalan raya yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah kota justru dilakukan oleh warga kota sendiri. Dan pelakunya bukan berasal dari kalangan pendidikan tinggi, melainkan seorang tukang becak, profesi yang selalu dipandang remeh.

Ini menunjukkan pemerintah Kota Surabaya tak efektif menangani masalah kota mereka sendiri. Birokrasi yang berbelit selalu menjadi alasan, membuat jalan-jalan tak terawat. Tetap berlubang, membahayakan pengemudi.

Kamis (14/5) Pak Dul diundang bertemu Risma di rumah dinas walikota. Di sana ia dipuji, diberi nasehat, dan diberi uang saku. Semuanya untuk melambungkan upaya yang dilakukan Pak Dul. Risma mengatakan permasalahan Surabaya merupakan tanggung jawab warga Surabaya, dan berharap Pak Dul menjadi contoh bagi warga lain. Tapi Risma lupa pada masalah utama, masih banyak jalanan di Surabaya yang berlubang dan tak terawat.

Tengok saja di kawasan Jl Arif Rahman Hakim. Bukan hanya lubang saja, aspal bergelombang, terkelupas, bahkan menjadi medan off-road akibat setiap hari digilas truk-truk yang kelebihan muatan. Jalan Arif Rahman Hakim yang dipenuhi kampus malah sering menjadi jalan pintas bagi truk-truk pengangkut material.

Atau tengoklah kawasan perumahan elit Dharma Husada Indah. Kawasan yang dipenuhi rumah mewah tersebut jalannya bukan saja berlubang dan bergelombang, tapi juga keropos. Setiap musim hujan, lubang baru selalu muncul, makin lama makin besar dan makin dalam. Pengemudi yang tak waspada dan tak hapal jalan bisa saja celaka.

Ketika bertemu dengan Pak Dul, Risma sempat menasehati supaya tidak lagi menambal lubang jalan di malam hari. “Jangan dilakukan lagi pak (menambal lubang jalan di malam hari,” pesannya. Apakah itu bentuk kepedulian seorang walikota terhadap kesejahteraan warganya? Atau malah pesan itu berarti Risma malu pada Pak Dul, tugas yang seharusnya dilakukan oleh anak buahnya justru dilakukan oleh tukang becak yang sederhana ini?

Yang jelas, kisah Pak Dul menjadi tamparan bagi jajaran pejabat Pemkot dan Dinas Pekerjaan Umum Kota Surabaya. Pak Dul bisa memberi kenyamanan bagi warga Surabaya tanpa perlu mengeluarkan dana besar, dan tanpa imbalan apa pun. Menunggu Dinas PU dan Pemkot turun tangan istilahnya ‘ngenteni endoge blorok’ alias mengandalkan hal yang belum pasti atau tak jelas kapan kepastiannya. Belum lagi jika jalan kembali rusak hanya beberapa bulan setelah diperbaiki.

Masih banyak jalanan Surabaya yang penuh lubang. Dan Pak Dul bersikukuh tak akan berhenti melakukan hobi malamnya. Mungkin suatu saat muncul Pak Dul lain, yang sukarela menambal jalan dan “menampar” muka para pejabat Kota Surabaya.

 

back to top