Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Perempuan-perempuan penembus batas patriarkhi

Perempuan-perempuan penembus batas patriarkhi

KoPi | Jumlah perempuan mencapai 78.083.952 jiwa, atau 49 persen dari total populasi penduduk Indonesia tahun 2014. Mereka bukan hanya sekedar angka, namun fondasi dari hidup berbangsa dan bernegara. Sebab peran para perempuan bersifat dualitas, yaitu peran sebagai agensi pendidikan para generasi, sekaligus penggerak transformasi bidang ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan. Namun demikian, masih cukup besar para perempuan dalam kondisi tergenggam dominasi patriarkhi, sehingga mereka termarjinal, tergagap, dan terseok di lembah ketidakberdayaan.

Marjinalisasi perempuan sesungguhnya mengingkari substansi dari setiap nilai kemanusiaan dan keagamaan. Nilai kemanusiaan, sebagaimana tercantum dalam kesepakatan hak asasi manusia, menempatkan perempuan sebagai manusia yang tidak berbeda dari laki-laki. Sebab perempuan terlahir dalam kondisi alamiah yang sama dengan laki-laki, dimana Tuhan meniupkan ruh dan memberikan napas kebebasan di dunia.

Nilai keagamaan, Islam misalnya, tidak menempatkan perempuan secara berbeda di hadapan Tuhan. Perempuan berhak menjalankan fitrahnya sebagai manusia. Bebas memilih siapa yang akan dinikahinya, pula bebas pula untuk meminta laki-laki mana yang diinginnya. Betapa agama telah memberi penanda yang jelas bagaimana perempuan sederajat dengan laki-laki.

Prof. Emy Susanti, Sosiolog Universitas Airlangga, sambil menarik napas dalam-dalam menjelaskan kepada KoPi di antara pertemuan dengan para tokoh perempuan Indonesia di Jakarta (26/2/14).

"Namun intepretasi kaum laki-laki terhadap sistem dan nilai di setiap wilayah kehidupan baik ekonomi, politik dan sosial sungguh keluar dari nilai kemanusiaan dan keagamaan itu sendiri. Sistem dan nilai yang memarjinalisasi para perempuan bukan bersumber dari kemanusiaan dan agama, namun kepentingan laki-laki".

Menurut profesor perempuan pertama di Departemen Sosiologi Universitas Airlangga tersebut, marjinalisasi perempuan oleh patriarkhi tidak sekedar merugikan perempuan. Marjinalisasi itu merugikan proses menuju masyarakat yang lebih kuat dan terhormat dari segala sisi. 

Menurutnya, pemberdayaan perempuan sesungguhnya bukanlah untuk perempuan itu semata namun untuk kepentingan nasional. Oleh sebab itu, dia mengharap negara memiliki strategi cerdas dan konsisten dalam pemberdayaan perempuan. Program-program pemberdayaan yang terintegrasi di berbagai area kebijakan kementerian baik sosial ekonomi, kesehatan, kebudayaan dan pembangunan. | NS 

back to top