Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Perempuan belum sejahtera di DIY

Perempuan belum sejahtera di DIY

Jogjakarta-KoPi| Kesejahteraan perempuan masih menjadi persoalan krusial di DIY. Perhatian kepada perempuan secara simultan ditangani oleh lembaga yang berkaitan dengan perempuan, seperti BKKBN, Dinas Kesehatan DIY, dan LSM perempuan.

Ketiga lembaga ini mengadakan diskusi publik 'Perempuan, Akses, dan Kebijakan' di RM. Den Nanny, Senin, 30 November 2015.

Menurut Kepala Bidang KB BKKBN DIY, Eliani Astuti program meningkatkan kesejahteraan perempuan masih mendapat tantangan besar. Seputar isu tingginya angka kematian ibu, tingginya angka kematian bayi, penyakit menular, dan kesehatan reproduksi remaja.

Sesuai tupoksinya, BKKBN memperhatikan isu kesehatan reproduksi remaja. "Mendorong pasangan subur 15-49 tahun ikut KB. Gerakan dengan konseling. Tenaga konseling yang sudah terlatih memberi konseling," kata Eliani.

Sementara Dinas Kesehatan DIY, Inni Hikmatin mengatakan angka kematian ibu dan anak relatif stagnan dari tahun ke tahun. "Dari tahun ke tahun angka kematian bayi seperti gergaji, hampir stagnan," paparnya .

Nunung menjelaskan butuh kesadaran dan dukungan masyarakat untuk menekan angka kematian bayi.

"Gizi buruk bayi tergantung pada kondisi sosial masyarakat. Masyarakat masih lebih membeli rokok daripada makanan bergizi," pungkas Inni. |Winda Efanur FS|

back to top