Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Prev Next

Pengungsi Rohingya butuh kewarganegaraan, apakah Indonesia bisa?

Pengungsi Rohingya butuh kewarganegaraan, apakah Indonesia bisa?
Surabaya - KoPi | Isu mengenai Pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh terus bermunculan. Pertanyaan beberapa pihak menyudutkan bahwa kapan mereka akan dikembalikan ke Myanmar.

Spekulasi mengenai Indonesia bukan sebagai negara yang berhak menerima pengungsi mulai muncul. Beberapa pihak mulai menyepakati bahwa para pengungsi harus kembali ketempat asal. Indonesia yang masih dibawah garis kemiskinan, atau jumlah penduduk yang bergejolak menjadi alasan.

Apakah Indonesia mampu untuk menjadikan para Etnis Rohingya sebagai bagian dari Indonesia? Tidak hanya sebatas pengungsi saja.

Menurut Iqbal Setyarso selaku Direktur Global Philanthropy Media Aksi Cepat Tanggap (ACT) kedatangan 2000 pengungsi Rohingya tidak akan menjadi bencana bagi Indonesia. Jika ada sikap tegas dari pemerintahan untuk menjadikan pengungsi sebagai warga negara, hal tersebut tidak akan merumitkan masalah kependudukan atau yang lain sebagainya.

“Aceh telah kehilangan puluhan ribu penduduk saat tsunami lalu. Maka, kedatangan 2000 jiwa pencari suaka tidak akan menjadi rumit. Saat ini banyak sekali lembaga kemanusiaan negeri maupun mancanegara yang turut membantu pengungsi Rohingya. Mengapa kita tidak?” ujarnya saat ditemui KoPi.

Saat ini para pengungsi Rohingya masih tidur di aula dan tenda yang disediakan baik oleh masyarakat Aceh maupun para lembaga sosial. Namun, ketetapan yang lebih dibutuhkan mereka adalah hak untuk hidup dan menjadi warga negara.

Iqbal bersama lembaganya siap jika pemerintah memberikan ijin untuk memberi hak kewarganegaraan bagi pengungsi Rohingya untuk membangun rumah bagi mereka. “saat ini yag kita garap Shelter. jadi pengungsi tidak selamanya di tenda-tenda. Lebih aman di shelter. Jika mereka diberi warga negara, kami dalam waktu satu tahun saja dapat membangunkan rumah rumah bagi mereka” tuturnya.

Isu kemanusiaan ini memang membuat hati bergeming tajam. Mereka yang diusir dari tanah kelahiran mereka sendiri dan harus berlayar berbulan bulan mencari pertolongan. Sampai di Aceh, apakah mereka serta merta diberi perlindungan hanya sebentar? Lalu disuruh kembali ke negara asalnya yang menuai banyak konflik sosial.

Indonesia harusnya mampu. Sumber daya alam yang luas tidak akan menjadikan 2000 pengungsi ini sebagai akar kemiskinan baru. | Labibah

back to top