Menu
BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpangan Distribusi Gula Rafinasi

Peneliti Gula UGM Soroti Penyimpang…

Sleman-KoPi| Pasar gula d...

Gerakan Filantropi Islam Sebagai Deradikalisasi

Gerakan Filantropi Islam Sebagai De…

Sleman-KoPi| Dewasa ini, ...

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adalah Persatuan dan Kesatuan

Pakde Karwo: Kunci Perjuangan adala…

Jatim-KoPi| Salah satu ku...

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehakiman Masih Berpusat Pada Institusi Bukan Hakim Secara Personal

Jaminan Kemerdekaan Kekuasaan Kehak…

Sleman-KoPi|Kemerdekaan k...

Merapi Naik ke Status Waspada, Gempa Tremor dan Vulkanik Sempat Muncul Saat Letusan Freaktif.

Merapi Naik ke Status Waspada, Gemp…

Jogja-KoPi|Setelah Gunung...

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dalam Sehari, BPPTKG: Ini Memang Karakter Merapi.

Merapi Kembali Meletus Dua Kali Dal…

Jogja-KoPi| Gunung Merapi...

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran Persediaan Beras, Gula, dan Minyak Goreng di Yogyakarta Aman.

Bulog DIY: Bulan Puasa dan Lebaran …

Jogja-KoPi| Perum Bulog d...

Prev Next

Pengungsi Rohingya butuh kewarganegaraan, apakah Indonesia bisa?

Pengungsi Rohingya butuh kewarganegaraan, apakah Indonesia bisa?
Surabaya - KoPi | Isu mengenai Pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh terus bermunculan. Pertanyaan beberapa pihak menyudutkan bahwa kapan mereka akan dikembalikan ke Myanmar.

Spekulasi mengenai Indonesia bukan sebagai negara yang berhak menerima pengungsi mulai muncul. Beberapa pihak mulai menyepakati bahwa para pengungsi harus kembali ketempat asal. Indonesia yang masih dibawah garis kemiskinan, atau jumlah penduduk yang bergejolak menjadi alasan.

Apakah Indonesia mampu untuk menjadikan para Etnis Rohingya sebagai bagian dari Indonesia? Tidak hanya sebatas pengungsi saja.

Menurut Iqbal Setyarso selaku Direktur Global Philanthropy Media Aksi Cepat Tanggap (ACT) kedatangan 2000 pengungsi Rohingya tidak akan menjadi bencana bagi Indonesia. Jika ada sikap tegas dari pemerintahan untuk menjadikan pengungsi sebagai warga negara, hal tersebut tidak akan merumitkan masalah kependudukan atau yang lain sebagainya.

“Aceh telah kehilangan puluhan ribu penduduk saat tsunami lalu. Maka, kedatangan 2000 jiwa pencari suaka tidak akan menjadi rumit. Saat ini banyak sekali lembaga kemanusiaan negeri maupun mancanegara yang turut membantu pengungsi Rohingya. Mengapa kita tidak?” ujarnya saat ditemui KoPi.

Saat ini para pengungsi Rohingya masih tidur di aula dan tenda yang disediakan baik oleh masyarakat Aceh maupun para lembaga sosial. Namun, ketetapan yang lebih dibutuhkan mereka adalah hak untuk hidup dan menjadi warga negara.

Iqbal bersama lembaganya siap jika pemerintah memberikan ijin untuk memberi hak kewarganegaraan bagi pengungsi Rohingya untuk membangun rumah bagi mereka. “saat ini yag kita garap Shelter. jadi pengungsi tidak selamanya di tenda-tenda. Lebih aman di shelter. Jika mereka diberi warga negara, kami dalam waktu satu tahun saja dapat membangunkan rumah rumah bagi mereka” tuturnya.

Isu kemanusiaan ini memang membuat hati bergeming tajam. Mereka yang diusir dari tanah kelahiran mereka sendiri dan harus berlayar berbulan bulan mencari pertolongan. Sampai di Aceh, apakah mereka serta merta diberi perlindungan hanya sebentar? Lalu disuruh kembali ke negara asalnya yang menuai banyak konflik sosial.

Indonesia harusnya mampu. Sumber daya alam yang luas tidak akan menjadikan 2000 pengungsi ini sebagai akar kemiskinan baru. | Labibah

back to top