Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya
Surabaya - KoPi | Kesediaan pemerintah untuk menampung pengungsi Rohingya harus diikuti kesadaran mengenai resiko yang akan timbul. Hal itu dikatakan dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga Baiq SekarWardhani.
 

"Kamp pengungsian selalu menimbulkan implikasi dalam berbagai bidang. Di sana pasti memiliki tingkat kejahatan dan kekerasan yang sangat tinggi. Itu yang harus diingat oleh pemerintah," ungkapnya di Surabaya (28/5).

Kamp pengungsian selalu ditempatkan di kawasan yang terpencil dan terisolasi. Para pengungsi juga tidak memiliki akses ke fasilitas yang disediakan oleh negara. Dalam kondisi seperti itu, pengungsi anak-anak dan perempuan akan sangat rentan. Ada kemungkinan untuk bertahan hidup mereka harus menjual diri atau terlibat pada human trafficking.

Baiq mengatakan, saat ini etnis Rohingya masih belum mendapat status pengungsi dari badan pengungsi PBB (UNHCR). Artinya mereka tidak akan bisa mendapat bantuan internasional. Mereka harus bergantung pada kebaikan Indonesia sebagai negara penerima.

"Saya yakin pemerintah Indonesia menerima mereka dengan niat baik. Namun sekali lagi, menunggu ketetapan status pengungsi dari UNHCR itu butuh waktu lama, bisa sampai puluhan tahun. Tidak semua pihak akan senang wilayah mereka ditempati sebagai kamp penampungan, dan belum tentu bantuan pemerintah akan cukup," tutur Baiq.

Saat pengungsi menunggu untuk mendapat status dari UNHCR, mereka tentu akan berinteraksi dengan warga sekitar. Tidak jadi masalah jika mereka bisa membaur, tapi jika tidak, akan berbahaya.

"Sudah sering terjadi ketegangan dan konflik antara pengungsi dengan negara penerima. Saat tidak ada lapangan kerja, tentu pengungsi akan mau kerja apa saja untuk bisa makan, termasuk menjual diri. Akhirnya tingkat kejahatan akan naik, dan bisa menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar," tukas Baiq.

 

back to top