Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya
Surabaya - KoPi | Kesediaan pemerintah untuk menampung pengungsi Rohingya harus diikuti kesadaran mengenai resiko yang akan timbul. Hal itu dikatakan dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga Baiq SekarWardhani.
 

"Kamp pengungsian selalu menimbulkan implikasi dalam berbagai bidang. Di sana pasti memiliki tingkat kejahatan dan kekerasan yang sangat tinggi. Itu yang harus diingat oleh pemerintah," ungkapnya di Surabaya (28/5).

Kamp pengungsian selalu ditempatkan di kawasan yang terpencil dan terisolasi. Para pengungsi juga tidak memiliki akses ke fasilitas yang disediakan oleh negara. Dalam kondisi seperti itu, pengungsi anak-anak dan perempuan akan sangat rentan. Ada kemungkinan untuk bertahan hidup mereka harus menjual diri atau terlibat pada human trafficking.

Baiq mengatakan, saat ini etnis Rohingya masih belum mendapat status pengungsi dari badan pengungsi PBB (UNHCR). Artinya mereka tidak akan bisa mendapat bantuan internasional. Mereka harus bergantung pada kebaikan Indonesia sebagai negara penerima.

"Saya yakin pemerintah Indonesia menerima mereka dengan niat baik. Namun sekali lagi, menunggu ketetapan status pengungsi dari UNHCR itu butuh waktu lama, bisa sampai puluhan tahun. Tidak semua pihak akan senang wilayah mereka ditempati sebagai kamp penampungan, dan belum tentu bantuan pemerintah akan cukup," tutur Baiq.

Saat pengungsi menunggu untuk mendapat status dari UNHCR, mereka tentu akan berinteraksi dengan warga sekitar. Tidak jadi masalah jika mereka bisa membaur, tapi jika tidak, akan berbahaya.

"Sudah sering terjadi ketegangan dan konflik antara pengungsi dengan negara penerima. Saat tidak ada lapangan kerja, tentu pengungsi akan mau kerja apa saja untuk bisa makan, termasuk menjual diri. Akhirnya tingkat kejahatan akan naik, dan bisa menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar," tukas Baiq.

 

back to top