Menu
Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembicaraan Soal Pengadaan Pertemuan Kembali Kedua Pemimpin.

Pejabat AS-Korea Utara Adakan Pembi…

Seoul-KoPi| Departemen lu...

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Senyawa Atasi Limbah Tambang

Mahasiswa UGM Inovasikan Produk Sen…

Sleman-KoPi| Tim mahasisw...

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letusan Efusif Yang Aman.

Gunung Merapi Berpeluang Alami Letu…

Jogja-KoPi| Kepala Balai ...

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di Proses Magmatisnya.

BPPTKG: Merapi Masih Sangat Awal di…

Jogja-KoPi| Balai Penyeli...

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Empati dan Duka Cita AS kepada Korban dan Dampak Terorisme di Jatim

Pakde Karwo : Terima Kasih Atas Emp…

Jatim-KoPi| Gubernur Jati...

Pemerintah Bangun Industri Digital untuk Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Pemerintah Bangun Industri Digital …

Sleman-KoPi| Pemerintah s...

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan Strategi Jatim Songsong Bonus Demografi  2019

Pakde Karwo: Dual Track Pendidikan …

Jatim-KoPi| Berbagai lang...

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Adanya Gejala Erupsi Seperti di Tahun 2010 dan 2006.

BPPTKG: Merapi Belum Menunjukkan Ad…

Jogja-KoPi| Balai Pen...

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana dan Diploma

UGM Mewisuda 1354 Lulusan Sarjana d…

Sleman-KoPi| Universitas ...

Prev Next

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya

Pengamat ingatkan pemerintah resiko terima pengungsi Rohingya
Surabaya - KoPi | Kesediaan pemerintah untuk menampung pengungsi Rohingya harus diikuti kesadaran mengenai resiko yang akan timbul. Hal itu dikatakan dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga Baiq SekarWardhani.
 

"Kamp pengungsian selalu menimbulkan implikasi dalam berbagai bidang. Di sana pasti memiliki tingkat kejahatan dan kekerasan yang sangat tinggi. Itu yang harus diingat oleh pemerintah," ungkapnya di Surabaya (28/5).

Kamp pengungsian selalu ditempatkan di kawasan yang terpencil dan terisolasi. Para pengungsi juga tidak memiliki akses ke fasilitas yang disediakan oleh negara. Dalam kondisi seperti itu, pengungsi anak-anak dan perempuan akan sangat rentan. Ada kemungkinan untuk bertahan hidup mereka harus menjual diri atau terlibat pada human trafficking.

Baiq mengatakan, saat ini etnis Rohingya masih belum mendapat status pengungsi dari badan pengungsi PBB (UNHCR). Artinya mereka tidak akan bisa mendapat bantuan internasional. Mereka harus bergantung pada kebaikan Indonesia sebagai negara penerima.

"Saya yakin pemerintah Indonesia menerima mereka dengan niat baik. Namun sekali lagi, menunggu ketetapan status pengungsi dari UNHCR itu butuh waktu lama, bisa sampai puluhan tahun. Tidak semua pihak akan senang wilayah mereka ditempati sebagai kamp penampungan, dan belum tentu bantuan pemerintah akan cukup," tutur Baiq.

Saat pengungsi menunggu untuk mendapat status dari UNHCR, mereka tentu akan berinteraksi dengan warga sekitar. Tidak jadi masalah jika mereka bisa membaur, tapi jika tidak, akan berbahaya.

"Sudah sering terjadi ketegangan dan konflik antara pengungsi dengan negara penerima. Saat tidak ada lapangan kerja, tentu pengungsi akan mau kerja apa saja untuk bisa makan, termasuk menjual diri. Akhirnya tingkat kejahatan akan naik, dan bisa menimbulkan konflik dengan masyarakat sekitar," tukas Baiq.

 

back to top