Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pasar tradisional, keindahan melegakan

foto: KoPi-sai foto: KoPi-sai
Yogyakarta-KoPi. 'Pasar tradisional, tinggalkan saja'. Pernyataan tersebut mungkin menjadi seruan sebagian generasi muda saat ini. Mereka memilih mall yang dingin, bersih, dan barang-barang kebutuhan tampak manis dalam kemasan. Benarkah demikian?

Eva, gadis berusia sepuluh tahun, tampak cemberut memasuki pasar tradisional di daerah Sleman, Yogyakarta. Sempat terdengar dia mengeluh pada ibunda.

"Kok di sini sih bunda, ke mall saja".

Bundanya tersenyum, tidak menjawab namun terus menggandeng masuk ke dalam pasar yang ramai oleh suara tawar menawar, suara tertawa, dan ada yang tampaknya bertemu tak terduga. Eva masih cemberut, wajahnya lembayung. Namun ia sempat tertarik pada jajanan yang tertata di sebelahnya, ada binar di matanya.

Eva yang cantik masih cemberut kepada pasar tradisional yang menyambutnya. Ia mulai banyak bertanya pada sang ibunda yang menjawab sabar dan sayang.

Pasar tradisional bertahan di benteng kehidupan menghadapi dera kejumawaan dan kemewahan mall-mall. Ruh pasar tradisional yang bersifat alami dan merakyat sesungguhnya indah, teramat indah dibandingkan ruh mall yang tampak megah jelita namun melukai.

Mari menyusuri keindahan pasar tradisional yang tidak dimiliki oleh mall.

Keindahan pertama, pasar tradisional memberi kehangatan bersosialisasi melalui proses tawar menawar harga. Secara sosiologis salah satu kebutuhan dasar individu adalah melakukan interaksi aktif dengan individu lain. Para pedagang pasar tradisional adalah kalangan akar rumput yang masih menggunakan nilai kebersamaan dan nilai kekeluargaan.

Setiap pengunjung pasar tradisional akan mendapatkan kebutuhan dasar bersosialisasi dalam interaksi dengan pedagang pasar tradisional. Seperti pengalaman Fatma, ibu muda berusia tiga puluh satu tahun, yang merasa lebih bahagia setelah belanja di pasar tradisional daripada mall.

"Saya kok lebih bahagia, lega gitu kalau habis belanja di pasar. Pasti ada saja cerita dan informasi lucu-lucu dari para pedagang. Dulu saya sering ke mall, tapi rasanya beda deh menurut saya".

Perasaan Ibu Fatma bisa jadi bisa dialami oleh para pengunjung pasar tradisional yang lain. Anda?

Keindahan kedua, para pengunjung mendapatkan harga yang jauh lebih murah dan kualitas tidak kalah daripada belanja di mall. Para pedagang pasar tradisional menjual barang-barang dagangan dengan harga yang tidak dibebani pajak besar. Selain itu, barang-barang yang mereka peroleh berasal dari mata rantai yang tidak jauh dari sumbernya.

"Saya tuh bisa hemat sampai tiga puluh persen lho. Jauh lebih hemat mat mat...haha". Kata Ibu Kharis yang sedang sibuk belanja sayur-sayuran.

Keindahan ketiga, pasar tradisional memperkuat ekonomi rakyat secara merata. Perlu kita ingat bersama bahwa pasar tradisional berisi para pedagang dari kalangan bawah. Selain itu banyak petani kecil atau peternak yang langsung menjual barang dagangannya ke pasar tradisional.

Ekonomi rakyat yang kuat memberi efek berlapis pada berbagai kehidupan masyarakat diantaranya masyarakat lebih damai, tidak mudah tersulut aksi kekerasan, dan stabilitas sosial.

***

Eva keluar dari pasar. Wajahnya cerah berseri. Ia baru saja merasai betapa indahnya pasar tradisional. (*)

 

feature: Yusuf Perwira

 

back to top