Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pandangan UIN Kalijaga soal LGBT

Pandangan UIN Kalijaga soal LGBT

Sahnya hubungan kaum LGBT secara hukum positif di Amerika, menginspirasi kaum LGBT di negara lain seperti Indonesia. Kaum LGBT Indonesia seolah tidak malu-malu lagi menampakan eksistensinya. Menariknya, ada akun twitter yang menggunakan nama universitas sebagai jaringannya, seperti akun UIN Suka Gay Community.

Jogjakarta-KoPi | Menanggapi fenomena ini, Wakil Rektor II UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Waryono, masyarakat Indonesia harus bisa menyikap deklarasi kemenangan kaum LGBT dengan bijak. Kultur Amerika lebih liberal daripada di Indonesia.

Masyarakat Indonesia, terutama Islam harus menghormati kebijakan di negara lain tetapi tidak boleh terpengaruh menyuarakan HAM atas kaum LGBT. Pasalnya dalam syariat Islam tertera dengan jelas hanya ada perkawinan laki-laki dan perempuan.

“Kalau gay- setahu saya tidak diakui sehingga Islam tidak mengenal perkawinan sejenis. Islam saja mengharamkan perilaku wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai wanita, apalagi lesbian, gay, biseks, transgender,” jelas Waryono.

Waryono menambahkan segala sesuatu di alam terjadi dengan berpasang- pasangan seperti fenomena siang-malam, dan langit-bumi. Begitupun manusia diciptakan berpasang-pasangan tentunya dengan lawan jenis.
Sementara Wakil Rektor I, UIN Sunan Kalijaga, Prof. Sutrisno mengatakan perilaku gay selalu ada dari zaman ke zaman seperti di zaman Nabi Luth. Hal itu sudah menjadi dinamika muncul dan tenggelam dalam isu sosial.

“Sejak zaman Nabi Luth sudah ada, bukan hal yang baru. Mengalami dinamika dengan isu yang panas lalu timbul lagi. Itu wajar saja,” kata Prof. Sutris.

Pedomannya jelas Islam melarang pernikahan sejenis. Dalam hal ini Islam melindungi pemeluknya. Islam tetap mendakwahi kaum LGBT untuk kembali pada syariat yang benar.

Prof. Sutrisno menekankan dalam iklim demokrasi Indonesia semua orang bebas menyuarakan aspirasiya termasuk LGBT. Peran umat Islam mendakwahi kaum LGBT untuk kembali pada syariat yang benar.

“Saya rasa tidak hanya Islam, semua agama juga melarang. Di Indonesia negara beragama, semua agama tidak membolehkan adanya gay. Mereka bebas berpendapat, aturan demokrasi tidak boleh marah atau anarkis,” ujar Prof. Sutrisno. |

Baca juga: Mahasiswa UIN Kalijaga yang terlibat komunitas gay akan di DO dan Fenomena UIN Suka Gay

back to top