Menu
Mendesa RI bersama Rektor UGM melepas 5.992 Peserta KKN PPM 2018 ke 34 Provinsi.

Mendesa RI bersama Rektor UGM melep…

 Sleman-KoPi| Rektor UG...

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Prev Next

Nyadran ala nelayan Marunda

Nyadran ala nelayan Marunda

Jakarta-KoPi| Nelayan biasa melaksanakan kegiatan melaut itu harus ada “basa-basi” kepada laut. Artinya Allah SWT menciptakan dunia ini dengan berbagai macam isinya, termasuk manusia di darat, makhluk hidup yang di laut, makhluk-makhluk lain yang tidak keliatan/ghoib itu ada. Jadi paling tidak kita sebagai manusia telah diajarkan tata krama, mungkin tata krama kita seperti ini.

Demikian pernyataan Suaeb Mahbub, Koordinator Nelayan Marunda Kepu (09/08) disela kegiatan “nyadran” sedekah laut masyarakat kampung nelayan Marunda Kepu, RT 008/07, Marunda, Jakarta Utara.

Dijelaskannya bahwa mungkin saja kalau kita mau masuk ke kampung/wilayah orang itu ada presiden, ada menteri, ada gubernur, ada bupati, ada walikota, ada camat, ada lurah, ada RT, ada RW. Paling tidak kita harus melewati dan bahkan menghormati pos-pos tertentu.

“Dan itulah barangkali bahwa setiap kita mau jalan atau keluar kampung harus menghormati semua tetua kampung yang akan ditinggalkan, yaitu lingkungan sekitar kita dengan bebacaan tahlil, takbir, tahmid, memohon restu,” jelasnya.

Menurutnya bahwa “nyadran” itu berasal dari kata nazar, dan nazar itu suatu janji, serta janji itu adalah hutang, dan hutang itu harus dibayar. Jika nelayan itu berkah mereka mempunyai kewajiban menyelenggarakan sedekah laut atau biasa disebut “nyadran” dan suatu tradisi budaya nelayan dimana setiap pantai memiliki kearifan lokal yang biasanya dihormati pada setiap tempat penangkapan ikan.

“Jadi persoalannya disini kita melakukan adat dan tradisi nyadran yang merupakan sebuah kewajiban nelayan yang diucapkan sebelum memulai menangkap ikan,” ungkap Suaeb Mahbub yang juga sebagai Pemuda Pelopor Kebaharian Kemenegpora RI dengan tegas.

Ditambahkannya bahwa Allah SWT menciptakan alam ini dengan berbagai macam makhluk yang nyata maupun yang tidak kelihatan atau yang disebut makhluk alam ghoib. Disetiap sudut, ruang Allah menciptakan makhluk-makhluk dengan jumlah jutaan bahkan trilyunan. Wallahua’lam bisshowab, hanya Allah yang mengetahui. Jadi “nyadran” ini merupakan adat dan kebiasaan atau biasa disebut tata krama.

“Seperti itulah adat tradisi dan tata krama nelayan di Kampung Nelayan Marunda Kepu yang sangat menghargai dan menghormati nilai-nilai budaya kearifan lokal,” imbuhnya.|Aziz

back to top