Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Nestapa buruh migran bukan fiksi semata

Nestapa buruh migran bukan fiksi semata
Malang – KoPi | Rencana moratorium pengiriman TKI informal mendapat tentangan dari berbagai pihak, terutama bagi calon TKI yang tergiur iming-iming ringgit dan dollar di luar negeri. Mereka sering kali lupa atau menutup mata pada kisah kelam yang dialami buruh migran. Sering kali mereka beranggapan hal itu adalah ketidakberuntungan semata. Namun kisah sedih tersebut bukanlah fiksi semata.
 

Salah satunya adalah Indrawati, warga Dusun Kopral, Desa Sukowilangun, Kabupaten Malang. Kisah Indrawati adalah gambaran kisah kelam buruh migran Indonesia. Sebagai orang desa, Indrawati memilih menjadi buruh migran untuk memperbaiki nasib. Tahun 2002 ia mendapat kesempatan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Singapura. Ia beruntung, mendapat majikan yang baik. Dengan gaji yang ia peroleh sebagai pembantu rumah tangga, ia bisa mengirim uang kepada keluarganya.

Namun ketika kembali ke Indonesia 2 tahun kemudian, bukan kehidupan yang lebih baik yang menyambutnya. Uang yang ia kirim kepada suaminya habis tak tersisa. “Suami saya bilang uangnya dipakai buat usaha. Tapi nggak tahu ke mana larinya,” ucapnya.

Kondisi perekonomian yang tak berubah membuat Indrawati memutuskan untuk mencari peruntungan lagi di luar negeri. Dengan menggunakan jasa agen yang sama, pada tahun 2007 ia berhasil mendapat kesempatan bekerja di Malaysia. Namun malang, kali ini nasibnya tak semujur sebelumnya.

“Majikan saya yang kedua ini orang India, dan dia jahat sekali, Mas. Sukanya memukul saya. Saya gak pernah tahu salah saya, selalu saja dipukul,” ungkap Indrawati.

Selain kerap dianiaya, Indrawati juga mengaku hanya tiap hari hanya mendapat jatah makan satu kali saja. Ia juga tidak pernah mendapat gaji yang dijanjikan kepadanya. “Waktu saya pertama kali masuk, saya tanda tangan kontrak dengan gaji RM 1000,” ungkapnya.

Tak tahan dengan perlakuan si majikan, Indrawati memutuskan untuk berhenti. Namun majikannya tak memperbolehkan dirinya berhenti. Ia juga tak bisa menghubungi agennya karena telepon genggam dan paspornya ditahan si majikan. Indrawati juga tak bisa keluar rumah, karena rumah tempatnya bekerja dipagar tinggi dan selalu dikunci.

“Akhirnya saya dapat pertolongan ketika ada tukang yang datang untuk merenovasi rumah. Salah satu tukang itu berasal dari Tulungagung. Saya minta tolong untuk menelepon saudara saya di rumah untuk minta bantuan agen,” cerita Indrawati.

Namun agennya tak kunjung merespon permintaan keluarga Indrawati untuk memulangkan dirinya. Mereka beralasan harus berkoordinasi dengan kontraktor yang ada di Malaysia. “Ketika akhirnya mereka datang untuk lihat keadaan saya, tetap saja saya tidak bisa langsung dipulangkan. Kontraktor di Malaysia memberi bermacam alasan. Saya dan keluarga curiga saya belum boleh pulang karena potongan gaji saya belum lunas,” ujarnya.

Dengan bantuan Kedutaan Besar Indonesia, Indrawati akhirnya bisa dipulangkan setelah 11 bulan berada di Malaysia. Ia juga mendapat gaji yang tak pernah dibayarkan, namun hanya RM 1000. “Jadi selama 11 bulan saya bekerja itu saya cuma digaji RM 1000, Mas. Waktu tahun 2007 kira-kira itu sekitar Rp 2 juta,” ungkap Indrawati.

Kini Indrawati mengaku tak ingin lagi bekerja di luar negeri. Pengalaman buruk tersebut membuatnya kapok. Baginya hidup di negeri sendiri jauh lebih menyenangkan daripada iming-iming gaji besar di negeri orang.

Untuk menambah pendapatan suaminya, Indrawati kini bergabung dengan Balai Perempuan yang ada di desanya. Kelompok yang didirikan oleh Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) tersebut mengajari Indrawati membuat kerajinan sulam pita. Indrawati merasa beruntung mendapat tambahan penghasilan.

Ia juga aktif mengikuti mengikuti kajian mengenai perempuan yang diadakan oleh KPI. Kepada tetangga atau kenalannya yang berniat bekerja ke luar negeri, Indrawati selalu memberi pesan untuk berhati-hati.

“Saya tak ingin teman atau keluarga saya mengalami nasib yang sama. Pokoknya saya pesan, kalau ingin kerja di luar negeri harus hati-hati. Harus punya kemampuan (skill) supaya tidak jadi masalah nantinya,” kata Indrawati.

Beberapa warga Desa Sukowilangun yang pernah menjadi buruh migranm, baik sukses maupun gagal, juga mengatakan tidak ingin lagi mencari peruntungan di luar negeri. Berbagai alasan diungkapkan, mulai tak ingin jauh dari keluarga hingga merasa lebih enak di negeri sendiri.

“Ndak mau lagi saya, biarpun di luar negeri gajinya lebih besar, tetap jauh lebih enak di negara sendiri. Kalau ada tetangga yang ajak saya tetap tidak mau,” ungkap Yunanik, salah seorang mantan buruh migran asal Sukowilangun.

 

back to top