Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Nenek ini adopsi cucu musuh kejinya

Nenek ini adopsi cucu musuh kejinya
Seorang korban selamat peristiwa Holocaust mengadopsi cucu salah satu komandan tertinggi Nazi yang telah membunuh orang tuanya.

KoPi| Saat usia 10 tahun, adalah saat yang buruk bagi Eva Mozeskor dan saudara kembarnya, Miriam. Si kembar yang lahir di Rumania ini dibawa paksa dan diangkut ke kamp konsentrasi Nazi Auschwitz bersama dengan seluruh keluarga korban. Mereka dipaksa bertahan dalam sebuah eksperimen medis yang mengerikan oleh Dr. Mangele yang dikenal sebagai malaikat maut.

Kini Eva berusia 80 tahun, namun dia masih memiliki belas kasihan dan memaafkan atas penyiksaan yang dilakukan Nazi, dengan mengadopsi secara tidak resmi cucu seorang komandan SS Nazi. Sepuluh tahun setelah perang dunia ke dua berakhir, Eva menerima surat dari Rainer Hoess yang kini berusia 49 tahun, cucu Rudolf Hoess, yang menyaksikan pembunuhan sekitar 1,1 juta orang di Auschwitz.

Rainer saat ini telah memutus hubungan dengan keluarganya dan mengatakan pada Eva bahwa dia muak dengan kakeknya dan ingin buang air kecil di atas kuburnya. Kakeknya meninggal dijatuhi hukuman gantung pada 1947.

Eva begitu bangga menjadi nenek angkat Rainer, dia mengagumi dan mencintainya. Rainer tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Sekarang hubungan mereka berdua seperti sahabat dan saling memahami secara emosional.

Eva mengisahkan, pada tahun 1944 ia dan saudara kembarnya tiba di kamp. Setelah perjalanan menggunakan kereta dalam kondisi mengerikan, Eva ingat kedatangan mereka merupakan hari terakhir melihat orang tua dan kakak perempuannya. Ayah dan saudaranya diseret paksa menghilang dari keramaian. Eva dan saudara kembarnya hanya bisa menangis memeluk ibunya yang akhirnya diseret juga. Ia dan Miriam mengalami pelecehan seksual dan menjadi obyek eksperimen medis.

Mereka tidak dibunuh si dokter maut, karena dokter itu tertarik penelitian gen tentang kembar identik dan melakukan percobaan  dan secara sengaja menginfeksi mereka dengan tifus dan penyakit lainnya.

Eva dan Miriam merupakan korban yang selamat dari 200 orang dan kemudian dibebaskan oleh tentara Soviet pada bulan Januari 1945. Sekarang Miriam sudah meninggal karena kanker ginjal. Eva mengajar di yayasan dimana ia berbagi cerita harapan dan pengampunan.

Rainer merupakan satu-satunya anggota keluarga komandan Nazi yang berani bicara menentang Hoess, yang tertangkap oleh pasukan Inggris tahun 1946 dan diadili di Nuremberg. |Daylimai.co.uk|MNC|

back to top