Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Merekonstruksi skenario Tuhan lewat film Tjokroaminoto

Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa" Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa"
Surabaya – KoPi | Aktris senior Christine Hakim mengaku merasa emosional ketika terlibat dalam pembuatan film “Guru Bangsa Tjokroaminoto”. Meskipun sudah tiga kali terlibat dalam film sejarah, perasaan emosional tersebut tetap muncul. Ia juga merasakan hal yang sama pada pembuatan film sejarah sebelum-sebelumnya.
 

Perasaan emosional itu ia rasakan ketika ia memasuki rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh Surabaya, ia langsung menangis, terharu. Bahkan dalam jumpa pers dengan wartawan di depan rumah Tjokroaminoto, ia tak kuasa membendung air matanya.

“Saya tak tahu kenapa kali ini bisa merasa begitu emosional, sampai menangis. Sewaktu syuting film Cut Nyak Dien, saya menangis setelah melihat mahkota Sultan Mahmud. Dan saat itu yang terlintas di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir. Pertanyaan itu adalah: Mengapa bangsa ini jadi begini?,” ungkapnya dalam Kongres Pemuda 2015.

Baginya pembuatan film sejarah bukan hanya menapaktilasi perjuangan dan kisah hidup para pahlawan. Lebih dari itu, membuat film sejarah artinya merekonstruksi skenario Tuhan yang telah terjadi. Itu semua sudah terjadi di kehidupan nyata. “Itu yang sudah diamanatkan oleh Tuhan. Begitu pula pada Eyang Tjokro. Ia sudah diamanatkan Tuhan untuk menjadi guru bagi bangsa Indonesia,” tuturnya pada peserta Kongres.

Dalam film tersebut Christine Hakim memerankan sosok yang bernama Mbok Tambeng. Konon sosok tersebut benar ada pada masa Tjokroaminoto. Dalam film tersebut profil Mbok Tambeng melambangkan bagaimana seorang ibu pertiwi yang mengkhawatirkan nasib putra-putrinya.

Christine berpesan pada para pemuda untuk menjaga dan memelihara Indonesia. Bangsa ini perlu optmisme dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. “Jangan meratapi nasib yang sedang terjadi saat ini. Sekarang waktunya ambil tongkat estafet perjuangan dari pendahulu kita. Sebagai pemuda harus optimis menghadapi masa depan. Hal itu diperlukan untuk mengubah masa depan Indonesia,” tegasnya.

back to top