Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Merekonstruksi skenario Tuhan lewat film Tjokroaminoto

Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa" Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa"
Surabaya – KoPi | Aktris senior Christine Hakim mengaku merasa emosional ketika terlibat dalam pembuatan film “Guru Bangsa Tjokroaminoto”. Meskipun sudah tiga kali terlibat dalam film sejarah, perasaan emosional tersebut tetap muncul. Ia juga merasakan hal yang sama pada pembuatan film sejarah sebelum-sebelumnya.
 

Perasaan emosional itu ia rasakan ketika ia memasuki rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh Surabaya, ia langsung menangis, terharu. Bahkan dalam jumpa pers dengan wartawan di depan rumah Tjokroaminoto, ia tak kuasa membendung air matanya.

“Saya tak tahu kenapa kali ini bisa merasa begitu emosional, sampai menangis. Sewaktu syuting film Cut Nyak Dien, saya menangis setelah melihat mahkota Sultan Mahmud. Dan saat itu yang terlintas di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir. Pertanyaan itu adalah: Mengapa bangsa ini jadi begini?,” ungkapnya dalam Kongres Pemuda 2015.

Baginya pembuatan film sejarah bukan hanya menapaktilasi perjuangan dan kisah hidup para pahlawan. Lebih dari itu, membuat film sejarah artinya merekonstruksi skenario Tuhan yang telah terjadi. Itu semua sudah terjadi di kehidupan nyata. “Itu yang sudah diamanatkan oleh Tuhan. Begitu pula pada Eyang Tjokro. Ia sudah diamanatkan Tuhan untuk menjadi guru bagi bangsa Indonesia,” tuturnya pada peserta Kongres.

Dalam film tersebut Christine Hakim memerankan sosok yang bernama Mbok Tambeng. Konon sosok tersebut benar ada pada masa Tjokroaminoto. Dalam film tersebut profil Mbok Tambeng melambangkan bagaimana seorang ibu pertiwi yang mengkhawatirkan nasib putra-putrinya.

Christine berpesan pada para pemuda untuk menjaga dan memelihara Indonesia. Bangsa ini perlu optmisme dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. “Jangan meratapi nasib yang sedang terjadi saat ini. Sekarang waktunya ambil tongkat estafet perjuangan dari pendahulu kita. Sebagai pemuda harus optimis menghadapi masa depan. Hal itu diperlukan untuk mengubah masa depan Indonesia,” tegasnya.

back to top