Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Menyambung nyawa di pasar kaget buruh

Menyambung nyawa di pasar kaget buruh
Surabaya – KoPi | Imam menata dagangan di dalam bak motor roda tiganya. Ia lalu sabar menunggu jam pulang pabrik dengan merokok dan bersenda gurau dengan rekan-rekannya sesama pedagang. Gerobak dan sepeda motor baik roda dua maupun roda tiga, berjejer di pinggir jalan, menanti pembeli setia. Begitu bel pabrik berbunyi, ia bersiap menyambut para pembeli.
 

Begitu pintu gerbang dibuka, puluhan buruh perempuan menyerbu dagangan Imam dan pedagang lain. Salah satunya Yati. Ibu dua anak yang bekerja di salah satu pabrik pengolahan logam di Surabaya ini membeli beberapa jenis lauk siap saji yang dijual Imam. Beberapa kawannya memilih membeli sayuran dan 

Sudah menjadi kebiasaan Yati dan kawan-kawannya untuk setiap pulang kerja selalu mampir di pasar kaget di depan pabrik tempat mereka bekerja. Sebagai seorang buruh sekaligus ibu rumah tamngga, mereka harus dituntut untuk tetap dapat memperhatikan keluarga. Meski kesibukan bekerja membuat mereka memasak sesuatu yang istimewa, para buruh perempuan ini masih berusaha menyajikan yang terbaik untuk keluarga mereka.

“Saya masuk kerja pukul 8.00, terus baru pulang rumah sore pukul 4.30. Ya pastinya tidak sempat masak. Belum lagi kalau harus lembur. Makanya saya terbantu dengan adanya pedagang sayur dan makanan di sini,” ujar Yati.

Selain membeli lauk untuk makan malam keluarganya, Yati juga menyempatkan berbelanja beberapa jenis sayuran dan bahan makanan. Sayuran tersebut akan dimasak dan dihidangkan untuk sarapan dan makan siang esok harinya.

Imam mengaku telah cukup lama berjualan di kawasan industri tersebut, sekitar 10 tahun. Dagangannya terdiri dari beberapa jenis lauk siap saji serta sayuran. “Lumayan mas kalau di sini. Banyak pekerja pabrik yang butuh makanan buat makan malam, jadi mereka tidak repot masak,” ungkapnya.

Fenomena pasar kaget di depan pabrik ini menjadi pemandangan yang umum di kawasan kompleks industri. Di sela-sela kepadatan lalu lintas, suara tawar menawar dan senda gurau antara pedagang dan pembeli selalu menghiasi sore di kawasan industri di Surabaya. Di satu sisi para buruh perempuan terbantu dengan adanya pedagang-pedagang keliling ini, di sisi lain para pedagang mampu meraup keuntungan dan menggerakkan roda ekonomi.

 

back to top