Menu
Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata Pantai Selatan

Basarnas Fokuskan Pengamanan Wisata…

Jogja-KoPi| Tim Search An...

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yaman berdampak ke Bencana Kemanusiaan yang Lebih Besar

PBB:Serangan Lanjut ke Hudaida Yama…

Yaman-KoPi| Persatuan Ban...

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cenderung Turun.

Tahun 2018 Kasus Demam Berdarah Cen…

Sleman-KoPi| Memasuki per...

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Cangkang Udang Menjadi Closet Sanitizer Berbahan 100% non Alkohol.

Mahasiswa UGM Inovasikan Limbah Can…

Sleman-KoPi| Lima Mahasis...

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunung Merapi tidak di tutup Tapi kalau naik Gunung harap Waspada

Gubernur DIY: Jalan Alternatif Gunu…

Sleman-KoPi| Gubernur Dae...

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Berfokus Pada 4 Potensi Kerawanan saat Lebaran.

Operasi Ketupat 2018, Polda DIY Ber…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Menghabiskan Malam di  Hotel Berbintang Ketimbang di Hotel Melati.

Tamu di Yogyakarta Lebih Gemar Meng…

Bantul-KoPi| Badan Pusat ...

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelaran Pertemuan Dengan Kim Jong.

Donald Trump Pastikan Tanggal Gelar…

Washington-KoPi| Presid...

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredaran Tembakau Gorila di Yogyakarta.

Polda DIY Gagalkan Operasi Peredara…

Sleman-kopi| Direktorat R...

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ketat Dengan Terjunnya 29 Ekor Anjing Pelacak dan Body Scanner.

Keamanan di Bandara Adi Sutjipto Ke…

Sleman-KoPi| Komandan sat...

Prev Next

Menginjakan kaki di Surabaya? Sabar kuncinya!

Penumpang angkutan umum di Surabaya Penumpang angkutan umum di Surabaya
Surabaya – KoPi | Kali pertama menginjakan kaki di Surabaya? Ini bisa menjadi masalah besar jika tidak memiliki kendaraan pribadi. Kota yang dikenal sebagai tempat kuliner nomor satu di Indonesia tentunya memiliki sangat banyak tempat untuk didatangi, tempat hiburan sampai tempat makan yang akan membuat ingin kembali berkunjung. Namun, apa yang terjadi jika tranportasi publik justru sangat tidak memadai dan sulit untuk didapatkan.

Pasalnya, penggunaan angkutan kota di Surabaya tidak seleluasa di kota-kota metropolitan pada umumnya. Bahkan penggunaan transportasi umum dan transportasi pribadi telah mencapai rasio 1:27. Sangat naif dimana Surabaya merupakan kota metropolitan kedua setelah Jakarta. Berjalan-jalan di Surabaya dan tidak memiliki kendaraan pribadi? Anda harus benar-benar sabar dengan menunggu angkutan umum untuk mengantarkan anda ke tempat tujuan Anda.

Jika menoleh pada terminal-terminal di Surabaya, dapat dilihat betapa angkutan kota (lyn) berjejer banyak disetiap penempatan sesuai rutenya. Namun, jika dijalanan, lyn tidak terlalu banyak dan hanya ngetem di satu tempat. Menurut M. Nuri, staf Dinas Perhubungan Terminal Bratang, setiap rute lyn memiliki jumlah sekitar 80 unit mobil. Namun setiap hari yang beroperasi bisa hanya 70 unit, dengan 2 kali perjalanan pergi-pulang untuk setiap unit.

“Sebenarnya jaman Bu Risma gini enak lho, panutan kita bukan mencari keuntungan, melainkan pelayanan. Kami (Dinas Perhubungan) ditanamkan untuk mengutamakan pelayanan kepada masyarakat. Tapi ya memang pengguna angkutan umum tidak sebanyak era 90-an. Sekarang banyak yang beralih ke kendaraan bermotor,” ujar M. Nuri seraya mengumumkan lyn S harus segera jalan karena ngetem sudah melewati batasnya.

“Sebenarnya lyn sudah enak digunakan, tidak terlalu berdesak-desakan. Tapi ya itu, nunggunya bisa 10-20 menitan, sedikit buang-buang waktu apalagi kalau malam sudah tidak ada. Makanya kalo bisa milih lebih enak naik motor aja” ujar Adi, salah satu pengguna lyn dari Terminal Bratang. Dibandingkan jalur kendaraan pribadi, secara umum jalur tempuh lyn kerap lebih memutar sehingga memakan waktu lebih lama. Perbedaan waktu tempuh antara menggunakan angkutan lyn dengan menggunakan kendaraan pribadi di Surabaya bisa sampai dua kali lipat.

Walaupun masyarakat sejatinya merasa terbantu dengan adanya lyn, masyarakat kerap merasa sistem angkutan umum di Surabaya harus lebih dibenahi. “Harus berangkat lebih awal banget kalau naik lyn. Nunggu lyn datang bisa 30 menit, naik lyn sampai kampus 1 jam, jadi susah kalo lagi buru-buru,” tutur Aulia, salah satu mahasiswi pengguna lyn di Surabaya.

Tidak ada pihak yang bisa disalahkan atas sistem transportasi umum di Kota Surabaya. Masyarakat yang mengeluh karena lyn merepotkan sehingga beralih ke kendaraan pribadi. Dan supir lyn yang semakin kehilangan penumpang terpaksa harus ngetem lebih lama agar tidak rugi. | Labibah

back to top