Menu
Perempuan pendukung gerak ekonomi Jatim

Perempuan pendukung gerak ekonomi J…

Surabaya-KoPi| Perempuan ...

Anies dinilai lalai rekonsoliasi dengan kata 'Pribumi'

Anies dinilai lalai rekonsoliasi de…

PERTH, 17 OKTOBER 2017 – ...

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi Capai 54,3 Milyar Rupiah

Jatim Fair 2017 Ditutup, Transaksi …

Surabaya-Kopi| Pameran Ja...

Ketika agama membawa damai, bukan perang

Ketika agama membawa damai, bukan p…

YOGYAKARTA – Departemen I...

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lakukan Research dan Development

Gubernur Jatim Minta Badan Pendapat…

Surabaya-Kopi| Memperinga...

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCBI Surabaya

Fatma Saifullah Yusuf puji aksi KCB…

Surabaya-KoPi| Dra. Hj. F...

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer bisa jauhkan sikap radikal

Warek UIN Kalijaga: Menulis populer…

YOGYAKARTA, 13 OKTOBER 20...

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid Cheng Hoo Surabaya

Gus Ipul resmikan prastasti Masjid …

Surabaya-KoPi| Wagub Jati...

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bisa disembuhkan

Bude Karwo: Jangan takut, kanker bi…

Surabaya-KoPi| Ketua Yaya...

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga NKRI

Gus Ipul ajak.Perguruan Sejati jaga…

Madiun-KoPi| Wakil Gubern...

Prev Next

Mayoritas siswa SLTA tidak bersyukur atas karunia fisiknya

Caption Foto: Peneliti bidang Kesehatan Masyarakat dari Wiratama Institute Ira Dewi Ramadhani (tengah) berdiskusi dengan 2 peneliti lain bidang Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), di Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (03/10/2017). Hasil penelitian Ira mencatat bahwa mayoritas siswa SLTA tidak puas dengan penampilan fisik mereka. Akibatnya, sebagian kalangan muda kini memiliki postur tubuh kurang proporsional yang rentan terhadap berbagai penyakit.   Caption Foto: Peneliti bidang Kesehatan Masyarakat dari Wiratama Institute Ira Dewi Ramadhani (tengah) berdiskusi dengan 2 peneliti lain bidang Kesehatan Masyarakat dari Universitas Gadjah Mada (UGM), di Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (03/10/2017). Hasil penelitian Ira mencatat bahwa mayoritas siswa SLTA tidak puas dengan penampilan fisik mereka. Akibatnya, sebagian kalangan muda kini memiliki postur tubuh kurang proporsional yang rentan terhadap berbagai penyakit.

YOGYAKARTA, 03 OKTOBER 2017 – Mayoritas atau sebanyak 51,2% siswa di salah satu Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) di Semarang mengaku tak puas dengan penampilan fisiknya. Sementara, sekitar 48,8% siswa SLTA tersebut mengaku puas dengan penampilan fisiknya.

Hal itu dikatakan oleh Peneliti bidang Kesehatan Masyarakat dari Wiratama Institute Ira Dewi Ramadhani dalam siaran persnya pada diskusi merespon peredaran iklan susu penambah massa otot yang ada di media massa, di Kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (03/10/2017).

“Ketidakpuasan terhadap penampilan fisik ini dapat menyebabkan masalah citra tubuh yang mengakibatkan pengontrolan berat badan yang tidak tepat, serta gangguan makan yang membahayakan kesehatan siswa,” ujar dia.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada remaja putra yang bersekolah di SLTA Semarang, jelasnya, sebanyak 48,8% siswa puas terhadap bentuk tubuhnya. Lalu, 32,14% subjek dengan ketidakpuasan ringan, kemudian 11,90% subjek dengan ketidakpuasan sedang dan 7,14% subjek dengan ketidakpuasan berat.

Awalnya, kata dia, remaja putri sering tidak puas akan penampilan dirinya. Hal itu terlihat dari berbagai macam fashion, produk kecantikan serta perawatan tubuh wanita yang silih berganti dipasarkan. Sorotan media maupun penelitian banyak yang masih terfokus hanya pada masalah ketidakpuasaan diri remaja putri. Namun, arus globalisasi telah membawa berbagai dampak positif serta negatif pada berbagai sektor kehidupan termasuk tentang pergeseran luasan area masalah ketidakpuasan tubuh, terutama di kalangan remaja.

“Masa remaja terutama masa remaja pertengahan adalah saat dimana mereka mencari jati diri, sangat memperhatikan penampilan fisiknya, serta ketertarikan terhadap lawan jenis. Jika sebelumnya kita lebih mengenal masalah ketidakpuasaan tubuh hanya dialami remaja putri, kini masalah ketidakpuasan tubuh telah sampai pada remaja putra,” ungkap Ira.

Role Model

Meski demikian, terang Ira, terdapat perbedaan keinginan bentuk tubuh antara perempuan dan laki-laki. Karena pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki konsep role model yang berbeda.

“Perempuan cenderung menginginkan satu model bentuk tubuh saja, yaitu tubuh ramping. Sedangkan laki-laki memiliki 2 model bentuk tubuh yang diinginkan, yaitu bentuk tubuh ramping dan bentuk tubuh yang lebih besar dalam hal massa otot.

Bentuk tubuh ramping lebih mengacu pada para Boyband K-pop yang sudah menyebar ketenaran di negara-negara Asia termasuk Indonesia. Sedangkan tubuh berotot lebih didominasi oleh role model dari dunia barat, yaitu para aktor-aktor Hollywood. Tubuh berotot yang dimaksud adalah otot pada dada dan lengan yang besar dengan ukuran dada yang bidang dan mengecil kebawah hingga ke bagian pinggang (V-shape),” papar Ira.

Menurut dia, risiko yang muncul dari masalah citra tubuh terkait masalah kesehatan yang dialami remaja putra hampir sama dengan remaja putri walaupun ada beberapa perbedaan. Anorexia yang mana salah satu jenis gangguan makan dan metabolik merupakan akibat dari masalah citra tubuh yang sangat kita tahu kerap terjadi pada perempuan.

Namun pada kenyataannya, tambah dia, saat ini telah dijumpai laki-laki yang mengalami anorexia di Negara Barat. Selain itu, akibat dari masalah citra tubuh pada laki-laki yang berimbas pada kesehatan adalah muscle dysmorphia atau reverse anorexia nervosa, yaitu salah satu bentuk kecenderungan laki-laki yang underestimate pada ukuran tubuh mereka yang sebenarnya.

“Disebut sebagai reverse anorexia nervosa karena orang yang mengalaminya merasa bahwa perlu untuk meningkatkan berat tubuhnya dalam hal massa otot dengan menghalalkan segala cara yang mana dapat membahayakan kesehatannya, berkebalikan dengan apa yang terjadi pada orang yang mengidap anorexia nervosa,” jelas Ira yang juga mahasiswa program Magister of Public Health Universitas Gadjah Mada (UGM).

Ganggu Pertumbuhan

Ia menambahkan, persepsi citra tubuh yang baik sangat diperlukan untuk membantu pemahaman dan kebiasaan pengontrolan berat badan pada remaja yang mana bisa dilakukan melalui edukasi di sekolah sehingga terhindar masalah citra tubuh serta akibatnya.

“Hal ini dapat, mengganggu pertumbuhan fisik serta perkembangan kognitif masa remaja. Walaupun hal ini masih belum begitu banyak dijumpai di Indonesia, namun kemungkinan resiko ini sudah terlihat menyebar di kalangan remaja putra,” tandas Ira.

back to top