Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Mahasiswa yang sudah tidak ditakuti siapa siapa

Mahasiswa yang sudah tidak ditakuti siapa siapa

 

Mahasiswa takut pada Dosen

Dosen takut pada Dekan

Dekan takut pada Rektor

Rektor takut pada Menteri

Menteri takut pada Presiden

Presiden takut pada Mahasiswa

Masih ingat dalam bayangan sajak karangan  Taufiq Ismail ini dilantunkan. Kekuatan mahasiswa dalam sistem kenegaraan  dalam sajak ini terlihat bertahta paling tinggi. Hingga, presiden saja takut dengan mahasiswa. Periode 98, kala dimana mahasiswa dapat menduduki atap kantor parlemen, menjatuhkan jabatan Presiden, dan menciptakan orde baru bagi Indonesia.

Kekuatan mahasiswa dikenal menjadi paling tinggi. Demonstrasi, aksi, kegiatan sosial, penelitian bahkan dalam kancah Internasional semua diperankan oleh mahasiswa. Namun, beriring waktu, banyak mahasiswa yang kian bungkam. Tidak berani kritis dan hanya duduk dibalik bangku seraya mendengarkan dosen.

Fahrul Muzaqqi, Dosen Universitas Airlangga menanggapi realitas tersebut. Menurutnya, penurunan intensitas mahasiswa dalam kritis terhadap masyarakat dan negara disebabkan oleh banyak hal.

“Aturan-aturan di Universitas yang mengkondisikan mahasiswa untuk cepat lulus adalah penyebab pertama penurunan dari kekritisan mahasiswa. Mereka sibuk dengan urusan kuliah dan tidak memiliki waktu untuk memperhatikan masyarakat dan negerinya” ujar Fahrul kepada KoPi, sabtu (22/08).

Fahrul melanjutkan adanya penyebab lain, yaitu volume mahasiswa yang semakin meningkat. Hal itu menyebabkan interaksi antar dosen dan mahasiswa menjadi terpengaruh. “Dosen tidak memiliki intensitas tinggi untuk mengenal satu persatu mahasiswa. Sehingga, pencapaian mahasiswa kerap dipukul sama rata. Penyerapan ilmu yang tidak kondusif tersebut menjadi bentuk berkurangnya respon sosial mahasiswa” tutur Fahrul sesaat setelah memberikan materi ‘Perspektif Kritis Mahasiswa FISIP’ pada mahasiswa baru periode 2015 di Universitas Airlangga.

Hal ketiga, adalah sistem pendidikan yang seolah menjadi sistem pasar. Adanya jalur rekrutmen mahasiswa yang longgar, sehingga orientasi kampus mengutamakan materi. Bagi Fahrul, hal ini mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Akhirnya mahasiswa kuliah dengan orientasi sistem pasar juga. “Ada mahasiswa yang kuliah nyambi kerja, atau pikirannya semata-mata segera lulus dan mencari kerja. Mereka terburu-buru berfikiran profit materi,” lanjutnya.

Fahrul menduga penyebab penurunan kritis para mahasiswa disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. “Saat ini sangat sulit menentukan data valid maupun tidak. Hal ini menyebabkan cara pandang yang bervariasi. Dulu, saat sistem informasi masih sulit untuk didapatkan, keinginan mahasiswa untuk mencari ilmu sangatlah besar. Saat ini ketika informasi sangat berlimpah, justru memunculkan rasa kemalasan dan kebingungan,” tutup Fahrul.

Dosen politik Universitas Airlangga tersebut berkeyakinan bahwa mahasiswa, Fisip terutama, harus mampu untuk membaca situasi agar dapat memiliki kepekaan sosial. Dalam mendeteksi kondisi masyarakat hal yang perlu dilakukan adalah menulis atau bertindak.

“Saat ini grafik ekonomi Indonesia agak turun. Seharusnya butuh penyikapan tertentu dari mahasiswa yang dapat dilihat kasat mata oleh pemerintah. Bukan berarti harus demonstrasi secara terus menerus melainkan pada situasi-situasi genting bagi Indonesia, mahasiswa harus turun!” tukasnya. |Labibah|

back to top