Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

“Kita bisa kok berkarya tanpa pakai narkoba”

Fusion Jazz Community beraksi pada Jazz in Pasar Fusion Jazz Community beraksi pada Jazz in Pasar Facebook Fusion Jazz Community
Surabaya – KoPi- Banyaknya kabar mengenai artis yang tersandung kasus narkoba membuat masyarakat sering memandang pengguna narkoba paling banyak adalah kalangan artis dan seniman. Masyarakat memandang gaya hidup mereka yang bebas serta tuntutan pekerjaan membuat artis dan seniman mudah tergiur godaan narkoba. Namun, di Surabaya, kalangan seniman mulai mampu menyingkirkan stigma tersebut.

Ucok, founder Fusion Jazz Community (FJC) mengatakan banyak sekali musisi Surabaya yang terkena godaan narkoba. Ia bercerita pada tahun 90-an dan 2000-an musisi sangat bangga kalau bisa mengkonsumsi narkoba, entah itu musisi jazz atau musisi lain. Bahkan itu sampai ditunjukkan dan dibagikan sebelum mereka main. Ada banyak musisi Surabaya yang kemudian menjadi pecandu, bahkan sampai meninggal. 

“Dulu ada kepercayaan di kalangan musisi kalau nggak pakai pakai narkoba mainnya jadi nggak enak,” ungkap Ucok. Sampai tahun 2004, trend penggunaan narkoba masih ada di kalangan musisi Surabaya.

Karena itulah FJC ingin menciptakan trend baru. FJC memulainya dengan menggandeng Badan Narkotika Nasional (BNN) setiap mengadakan kegiatan. Hal itu agar memberi efek malu pada musisi-musisi yang menggunakan narkoba. Ucok ingin agar FJC menciptakan trend yang secara alami membuat musisi menghindari narkoba.

“Trend itu kan sebetulnya yang membuat kita sendiri. Kenapa kita tidak membuat trend yang positif? Trend itu kita ciptakan untuk membentengi. Karena hal yang paling ampuh dalam mencegah kegiatan negatif itu adalah rasa malu,” tukasnya.

Dengan perubahan mindset itu, Ucok berharap minimal orang-orang yang baru belajar jazz akan malu kalau menggunakan narkoba. Ucok mengakui, sampai sekarang masih ada musisi Surabaya yang memakai narkoba. Namun, perubahan mindset itu sudah mulai kelihatan. Sekarang mereka malu menunjukkan bahwa dirinya pengguna narkoba. 

“Kita bisa kok berkarya dengan baik kalau kita tidak pakai narkoba,” tukas Ucok lagi.

Di tempat terpisah, Kasie Diseminasi Informasi BNN Destina Kawanti membenarkan bahwa saat ini target utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah pegawai negeri dan swasta, remaja serta pelajar. Menurut data, angka penyalahgunaan narkoba paling tinggi ada pada kalangan mahasiswa. Kemungkinan hal itu hasil dari akumulasi penyalahgunaan narkoba sejak masa SMP, kemudian berlanjut hingga ketika kuliah dan bekerja.

Karenanya, strategi BNN dalam mencegah penyalahgunaan narkoba adalah dengan menggandeng komunitas, salah satunya dengan FJC. Apalagi, pelajar dan mahasiswa sering tergabung dengan komunitas untuk mencari jati diri dan menunjukkan eksistensi.

Destina mengatakan, ia menerapkan strategi marketing dalam upayanya. Jika narkoba adalah produk, maka ia meng-counter-nya dengan black campaign mengenai dampak buruk narkoba. Ia menggunakan komunitas sebagai sasaran pemasaran.

“Kami di Sie Diseminasi Informasi BNN ini jualan mindset. Selama ini pengguna narkoba dibohongi dengan konsep hedon. Pakai narkoba itu gaya hidup hedon. Makanya kami buat mindset bahwa anti-narkoba itu lebih glamour,” tutur Destina.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top