Menu
Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 akan diperketat.

Pengawasan perjokian SBMPTN 2018 ak…

Sleman-KoPi|Ketua Koordin...

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang menerima lebih dari 40.000 pendaftar.

Panlok 46 SBMPTN 2018 berpeluang me…

Sleman-KoPi| Panitia Loka...

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak cukup hanya pada perlindungan hutan saja.

KTT APRS ketiga, pembahasan tidak c…

Sleman-KoPi| Gelaran Ko...

Satu kali transaksi, kawanan pengedar pil mendapat keuntungan 15-20 juta.

Satu kali transaksi, kawanan penged…

Sleman-KoPi| Kepolisian D...

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, namun jangan lupa fasilitas dan lab perlu juga ditingkatkan.

Rektor UGM: Dosen asing itu baik, n…

Sleman-KoPi| Rektor UGM, ...

Ini tanggapan rektor UGM pada wacana kedatangan dosen asing.

Ini tanggapan rektor UGM pada wacan…

Sleman-KoPi|Rektor Univer...

Cerita perjuangan wisudawan doktoral anak dari Satpam UGM.

Cerita perjuangan wisudawan doktora…

Sleman-KoPi| Tak ada yang...

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor tingkatkan internasionalisasi dosen dan mahasiswanya.

Peringati Milad UMY ke 37, Rektor t…

Bantul-KoPi| Rektor Unive...

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil besutannya ke kompetisi dunia Juli nanti.

Tim mahasiswa UGM bawakan mobil bes…

Sleman-KoPi| Tim mahasi...

Prev Next

BNN: Pulau Madura warning tingkat tinggi narkoba

BNN: Pulau Madura warning tingkat tinggi narkoba
Surabaya – KoPi. Penjahat selalu mencoba satu langkah lebih maju daripada penegak hukum. Modus mereka setiap hari semakin beragam dan canggih. Penegak hukum pun sering kali harus geleng-geleng kepala mengatasi kelicikan mereka. Namun, kali ini upaya bandar narkoba di Pulau Madura benar-benar keterlaluan dan membuat miris. Mereka menelusup jauh hingga ke struktur sosial masyarakat.
 

“Saat ini ada warning tingkat tinggi terkait penyebaran narkoba di Pulau Madura. Terutama di pulau Madura bagian utara,” terang Kasie Diseminasi Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur Destina Kawanti. Operasi narkoba gencar-gencaran di Surabaya dan sekitarnya sepertinya membuat para bandar mengalihkan operasi mereka ke pulau garam tersebut. 

Masuknya narkoba ke Pulau Madura ditengarai melalui pantai utara Madura yang langsung menghadap ke laut lepas dan memang longgar keamanannya. Di sana banyak terdapat pelabuhan kecil yang tak terawasi. Bandar biasanya menggunakan perahu besar untuk menurunkan barang-barang haram tersebut ke perahu kecil di tengah laut, yang kemudian membawanya ke pelabuhan kecil, lalu memasarkannya di pedalaman Madura.

Modus operandi di sana ditutupi dengan kedok warung internet (warnet). Sekilas warnet tersebut tampak seperti warnet biasa. Namun di sana pengguna bisa bebas bertransaksi dan menggunakan bilik warnet yang tertutup untuk memakai narkoba.

Yang membuat miris, BNN menengarai operasi itu dilindungi oleh ulama setempat. Para bandar diduga memanfaatkan ketidaktahuan para ulama dan warga lokal serta meminta perlindungan mereka. Bandar tersebut mengatakan bahwa narkoba yang mereka sebarkan itu sebagai “inti cengkeh”. Para tokoh agama yang tidak tahu menahu tentu saja menganggap lumrah hal itu, dan melindungi bisnis haram tersebut.

“Kondisi sosial budaya di Madura itu kan memang berbeda ya. Jadi kami tidak bisa langsung melakukan penindakan. Butuh strategi khusus,” ujar Destina.

Destina menerangkan, para bandar juga dicurigai menyebarkan narkoba secara diam-diam kepada ulama tersebut. Mereka menggunakan strategi seperti saat mengenalkan efek narkoba pada pemakai pemula. Mereka menggunakan “inti cengkeh” dosis rendah agar tidak terjadi efek apa-apa. Pelan-pelan mereka membangun kekebalan tubuh, hingga tubuh terbiasa. Lama kelamaan tubuh akan membutuhkan dosis lebih tinggi. 

“Itu keterlaluannya bandar narkoba. Mereka memanfaatkan ketidaktahuan ulama lokal. Kepolisian juga tidak bisa melakukan penindakan begitu saja, karena pengaruh tokoh agama di sana begitu kuat,” tukas Destina.

Destina menceritakan bahwa BNN Jawa Timur sempat bekerjasama dengan DEA Amerika untuk merumuskan strategi untuk membongkar operasi narkoba di Madura.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top